My Job…

20052009(002)

1238368_4642296554304_705871006_n

Desyandri, S.Pd.,M.Pd

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Nilai-nilai Kesenian dan Adat Minangkabau sebagai Basis Pendidikan Karakter di Sumatera Barat (Rencana Penelitian)

Peserta Didik Mulai Menjauh dari Nilai-nilai Kesenian dan Adat Minangkabau (Rencana Disertasi)

Dipublikasi di Pendidikan Seni Musik | Tag | Tinggalkan komentar

Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika

Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika pdf

Dipublikasi di Evaluasi Pembelajaran | Tag | Tinggalkan komentar

DOKUMEN KURIKULUM 2013

Dokumen-Kurikulum-2013

Dipublikasi di Kurikulum | Tag | 1 Komentar

ISTILAH-ISTILAH DALAM TEORI PERKEMBANGAN

Oleh: Desyandri

1.    The Zona Proximal Development (ZPD)

Zona Proximal Development ( ZPD ) ialah istilah Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau anak-anak yang yang lebih terampil. Batas Zona proximal Development (ZPD) yang lebih rendah ialah level pemecahan masalah yang di capai oleh seorang anak yang bekerja secara mandiri. Dan batas yang lebih tinggi ialah level tanggung jawab tambahan yang dapat di terima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur yang mampu. Penekanan Vygotsky pada Zona proximal Development (ZPD) menegaskan keyakinannya tentang pentingnya pengaruh-pengaruh sosial terhadap perkembangan kognitif dan peran pengajaran dalam perkembangan sosial. Zona proximal Development (ZPD) dikonseptualisasikan sebagai suatu ukuran potensi pembelajaran, akan tetapi IQ menekankan bahwa intelegensi adalah milik anak. Sedangkan Zona proximal Development (ZPD) menekankan bahwa pembelajaran adalah suatu peristiwa sosial yang bersifat interpersonal dan dinamis yang tergantung pada paling sedikit dua pikiran, dimana yang satu lebih berilmu atau lebih terlatih dari yang lain. Pembelajaran oleh anak-anak kecil yang baru berjalan memberi contoh bagaimana Zona proximal Development (ZPD) bekerja. Anak-anak kecil yang baru berjalan itu harus di motivasi dan harus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut ketrampilan buat mereka. Guru harus memiliki pengetahuan untuk melatihkan ketrampilan yang menjadi target pada setiap tingkat yang di persyaratkan oleh aktifitasnya. Guru dan anak harus saling menyesuaikan persyaratan masing-masing.

Dalam suatu penelitian tentang hubungan antara anak-anak yang baru belajar berjalan dengan ibunya, pasangan itu di tugaskan untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang terdiri atas berbagai jumlah (sedikit obyek vs banyak obyek) dan berbagai kompleksitas (perhitungan sederhana vs reproduksi angka). Para ibu di minta mengerjakan tugas ini sebagai suatu peluang untuk mendorong pembelajaran dan pemahaman akan anak mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pemikiran pada mulanya berkembang sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya bersatu.

Menurut Vygotsky, zona perkembangan proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan Sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerja sama dengan teman sebaya. Zona perkembangan proximal menitik beratkan pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika seorang siswa mengerjakan pekerjaannya disekolah sendiri, perkembangan mereka akan lambat . jadi untuk memaksimalkan perkembangan siswa seharusnya bekerja dengan teman sebaya yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks. Melalui interaksi yang berturut-turut ini diharapkan dapat mengembangkan pengalaman berbicara, bersikap dan berdiskusi secara baik.

2.    Epigenesis

Epigenesis merupakan perkembangan berlangsung dalam organisme, mulai dari telur sampai dengan menjadi suatu organis yang utuh melalui urutan-urutan atau  langkah-langkah tertentu di mana sel-sel dan organ membedakan bentuk dan fungsi dari masing-masing organisme.  Epigenesis mengacu pada pengaruh lingkungan terhadap ekspresi kode genetik. Banyak gen membutuhkan kondisi lingkungan yang spesifik untuk diungkapkan, dan banyak gen yang tidak pernah diungkapkan. Program Genetik  mengacu pada potensi untuk memulai dan merancang proses fisiologis tertentu yang pada akhirnya mungkin menampakkan diri dalam suatu sifat suatu organisme seperti perilaku.

Warisan epigenetic adalah ketika informasi yang dikirim ke generasi berikutnya yang tidak melibatkan perubahan dalam urutan DNA – Ekspresi gen dapat dimodulasi tanpa benar-benar mengubah DNA dengan metilasi (yang biasanya gen diam) atau salah satu dari beberapa cara lain yang mungkin mengubah lingkungan yang dapat mengaktifkan gen tertentu. Dalam beberapa hal, transmisi kendala dalam ekspresi genetik (DNA bahkan jika tidak berubah) menyerupai “transmisi karakteristik yang diperoleh”, umumnya dianggap sebagai hipotesis yang tidak masuk akal karena tampaknya bergantung pada perubahan dalam kode genetika, tapi ekspresi kode selektif yang dalam banyak hal fungsinya serupa.

3.    Teori Sosiobiologi

Pada umumnya sosiobiologi didefinisikan sebagai studi sistematis mengenai basis biologis yang mendasari segala prilaku sosial (Wilson, 1975). Dimana prilaku sosial didefinisikan sebagai ineraksi antar organisme. Para ahli sosiobiologi memandang prilaku manusia yang paling komplek sekalipun, seperti pemilihan pasangan atau pengasuhan anak, sebagai hal yang memiliki basis biologi. Prilaku-prilaku kompleks semacam itu adalah hasil dari kemajuan evolusioner, bukan sebagai hasil belajar, dan dari segi bentuk dan fungsinya amat mirip dengan kategori-kategori prilaku yang sama pada hewan-hewan lain.

Para ahli sosiobiologi menegaskan bahwa suatu organisme memiliki peraturan dasar untuk mengembangkan pola-pola yang menyambung keberhasilan reproduksi speciesnya. Sering kali dengan megorbankan genarasi tua. Maksudnya tugas terpenting bagi organisme adalah menjamin kelangsungan evolosioner speciesnya, yang menuntut penyampaian warisan genetik pribadi milik organisme tersebut; kemudian unsur penting namun bersifat skunder adalah penyampaian kultur organisme yang mendukung wairsan itu. Sebagai contoh pengorbanan yang begitu tinggi dalam kultur bangsa Eksimo tradisional. Di kalangan orang Eksimo dewasa ini, mereka sangat menghormati para orang tuanya. Ini didasarkan antara lain pada tindakan mengorbankan diri yang pada masa silam dilakukan oleh nenek moyang anggota keluarga yang lebih muda dan hidup saat ini. Secara sosiobiologis prilaku ini bisa ditafsirkan para kakek nenek yang telah banyak mengenyam pengalaman hidup mengambil satu-satunya pilihan yang bisa mereka ambil. Dan melakukan pengorbanan demi segenap sukunya, untuk memastikan bahwa species mereka terus menjaga kelangsungan hidupnya. Apa yang dilakukan oleh nenek moyang masyarakat Eksimo merupakan warisan genetika mereka.

Para ahli sisiobiologi berpandangan bahwa mata rantai yang menghubungkan status evolusi dan para nenek moyang genetikanya yang dekat maupun yang jauh hampir tidak bisa dipatahkan. Ini berarti bahwa pembawaan genetika menjadi hal yang terpenting dalam kaitanya dengan prilaku. Hal ini juga berarti manusia tidak bersifat unik baik secara moral maupun spiritual diantara binatang-binatang lainya. Dan memang, kebanyakan ahli sosiobiologi yakin bahkan sifat Altruisme (kemampuan manusia untuk mengorbankan dirinya) yang dibanggakan ummat manusiapun memiliki dasar genetika.

4.    Komponen Struktural dari Sigmund Freud

Semua teori kepribadian menyepakti bahwa manusia, seperti binatang lain, dilahirkan dengan sejumlah insting dan motifasi. Insting yang paling dasar ialah tangisan. Ketika lahir tentunya kekuatan motifasi dalam diri tentunya belum dipengaruhi oleh dunia luar. kekuatan ini bersifat mendasar dan individual. Frued membagi struktur kepribadian kedalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Prilaku seseorang merupakan hasil dari interaksi antara ketiga komponen tersebut.

  • Id 

Id berisikan motifasi dan energy positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupakan sumber dari dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dll). Prinsip kesenangan merujuk pada pencapaian kepuasan yang segera, dan id orientasinya bersifat fantasi (maya). Untuk memperoleh kesengan id menempuh dua cara yaitu melalui reflex dan proses primer, proses primer yaitu dalam mengurangi ketegangan dengan berkhayal.

  • Ego 

Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjembatani anatara id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan berorintasi pada prinsip realita (reality principle). Dalam mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistik dan berfikir rasional. Dalam proses disebelumnya yaitu proses primer hanya membawanya pada suatu titik, dimana ia mendapat gambaran dari benda yang akan memuaskan keinginannya, langkah selanjutnya adalah mewujudkan apa yang ada di id dan langkah ini melalui proses sekunder. Dalam upaya memuaskan dorongan, ego sering bersifat prakmatis, kurang memperhatikan nilai/norma, atau bersifat hedonis.

Hal yang perlu diperhatikan dari ego adalah :

1) Ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan kebutuhan id.

2)   Seluruh energy (daya) ego berasal dari id

3)   Peran utama memenuhi kebutuhan id dan lingkungan sekitar

4)   Ego bertujuan untuk mempertahankan kehidupan individu dan pengembanbiakannya.

  • Super Ego

Super ego merupak cabang dari moril atau keadilan dari kepridadian, yang mewakili alam ideal dari pada alam nyata serta menuju ke arah yang sempurna yang merupakan komponen kepribadian terkait dengan standar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Dengan terbentuknya super ego berarti pada diri individu telah terbentuk kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri (self control) menggantikan control dari orang tua (out control). Fungsi super ego adalah sebagai berikut:

a)    Merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif

b) Mendorong ego untuk mengantikan tujuan-tujuan relistik dengan tujuan-tujuan moralistic.

c)    Mengejar kesempurnaan (perfection).

Struktur kepribadian id-ego-superego itu bukan bagian-bagian yang menjalankan kepribadian, tetapi itu adalah nama dalam sistem struktur dan proses psikologik yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Biasanya sistem-sistem itu bekerja bersama sebagai team, di bawah arahan ego. Baru kalau timbul konflik diantara ketiga struktur itu, mungkin sekali muncul tingkahlaku abnormal.

Diterjemahkan dan di-resume dari:

Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher

Dipublikasi di Teori Perkembangan | Tag | Tinggalkan komentar

TEORI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL (ERIK ERIKSON)

Oleh: Desyandri

Perkembangan Psikososial menurut pandangan Erik Erikson

Teori Erik Erikson membahas tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial.

Menurut Erikson perkembangan psikologis dihasilkan dari interaksi antara proses-proses maturasional atau kebutuhan biologis dengan tuntutan masyarakat dan kekuatan-kekuatan sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut pandang seperti ini, teori Erikson menempatkan titik tekan yang lebih besar pada dimensi sosialisasi dibandingkan teori Freud. Selain perbedaan ini, teori Erikson membahas perkembangan psikologis di sepanjang usia manusia, dan bukan hanya tahun-tahun antara masa bayi dan masa remaja. Seperti Freud, Erikson juga meneliti akibat yang dihasilkan oleh pengalaman-pengalaman usia dini terhadap masa-masa berikutnya, akan tetapi ia melangkah lebih jauh lagi dengan menyelidiki perubahan kualitatif yang terjadi selama pertengahan umur dan tahun-tahun akhir kehiduaan.

Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia, satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.

Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud.

Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia.

Erikson memberi jiwa baru ke dalam teori psikoanalisis, dengan memberi perhatian yang lebih kepada ego dari pada id dan superego. Dia masih tetap menghargai teori Freud, namun mengembangkan ide-ide khususnya dalam hubungannya dengan tahap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentukan ego. Ego berkembang melalui respon terhadap kekuatan dalam dan kekuatan lingkungan sosial. Ego bersifat adaptif dan kreatif, berjuang aktif (otonomi) membantu diri menangani dunianya. Erikson masih mengakui adanya kualitas dan inisiatif sebagai bentuk dasar pada tahap awal, namun hal itu hanya bisa berkembang dan masak melalui pengalaman sosial dan lingkungan. Dia juga mengakui sifat rentan ego, defense yang irasional, efek trauma-anxieO-guilt yang langgeng, dan dampak lingkungan yang membatasi dan tidak peduli terhadap individu. Namun menurutnya ego memiliki sifat adaptif, kreatif, dan otonom (adaptable, creative, dan autonomy). Dia memandang lingkungan bukan semata-mata menghambat dan menghukum (Freud), tetapi juga mendorong dan membantu individu. Ego menjadi mampu – terkadang dengan sedikit bantuan dari terapis – menangani masalah secara efektif.

Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego, yang tidak ada pada psikoanalisis Freud, yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego semacam itu disebut juga ego-kreatif, ego yang dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Apabila menemui hambatan atau konflik, ego tidak menyerah tetapi bereaksi dengan menggunakan kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan lingkungan. Ego bukan budak tetapi justru menjadi tuan/pengatur id, superego dan dunia luar. Jadi, ego di samping basil proses faktor-faktor genetik, fisiologik, dan anatomis, juga dibentuk oleh konteks kultural dan historik. Ego yang sempurna, digambarkan Erikson memiliki tiga dimensi, faktualitas, universalitas, dan aktualitas:

  • Faktualitas adalah kumpulan fakta, data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan fakta dan data basil interaksi dengan lingkungan.
  • Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan (sells of reality) yang menggabungkan hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan prinsip realita dari Freud.
  • Aktualitas adalah cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama. Ego adalah realitas kekinian, terus mengembangkan cara baru dalam memecahkan masalah kehidupan, yang lebih efektif, prospektif, dan progresif.

Menurut Erikson, ego sebagian bersifat taksadar, mengorganisir dan mensintesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang. Dia menemukan tiga aspek ego yang saling behubungan, yakni body ego (mengacu ke pangalaman orang dengan tubuh/fisiknya sendiri), ego ideal (gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal), dan ego identity (gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial). Ketiga aspek itu umumnya berkembang sangat cepat pada masa dewasa, namun sesungguhnya perubahan ketiga elemen itu terjadi pada semua tahap kehidupan.

Teori Ego dari Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan dari teori perkembangan seksual-infantil dari Freud, mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas, berkat pandangannya bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik. Bagi organisme, untuk mencapai perkembangan penuh dari struktur biologis potensialnya, lingkungan harus memberi stimulasi yang khusus. Menurut Erikson, fungsi psikoseksual dari Freud yang bersifat biologis juga bersifat epigenesis, artinya psikoseksual untuk berkembang membutuhkan stimulasi khusus dari lingkungan, dalam hal ini yang terpenting adalah lingkungan sosial.

Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu-anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego. Menurutnya, situasi memberi makan merupakan model interaksi sosial antara bayi dengan dunia luar. Lapar jelas manifestasi biologis, tetapi konsekuensi dari pemuasan id (oleh ibu) itu akan menimbulkan kesan bagi bayi tentang dunia luar. Dari pengalaman makannya, bayi belajar untuk mengantisipasi interaksinya dalam bentuk kepercayaan dasar (basic trust), yakni mereka memandang kontak dengan manusia sangat menyenangkan karena pada masa lalu hubungan semacam itu menimbulkan rasa aman dan menyenangkan. Sebaliknya, tanpa basic trust bayi akan mengantisipasi interaksi interpersonal dengan kecemasan, karena masa lalu hubungan interpersonalnya menimbulkan frustrasi dan rasa sakit

Kepercaayaan dasar berkembang menjadi karakteristik ego yang mandiri, bebas dari dorongan drives darimana dia berasal. Hal yang sama terjadi pada fungsi ego seperti persepsi, pemecahan masalah, dan identias ego, beroperasi independen dari drive yang melahirkan mereka. Ciri khas psikologi ego dari Erikson dapat diringkas sebagai berikut:

  • Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kemasakan ego yang sehat, alih-alih konflik salah suai yang neurotik.
  • Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetik kepribadian.
  • Erikson secara eksplisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari impuls id yang taksadar, namun motif itu bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan peran sosial di masa lalunya. Fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari Id, membangun sistem kerja sendiri yang terlepas dari sitem kerja id.
  • Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan keberlanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.

Perkembangan berlangsung melalui penyelesaian krisis-krisis yang ada pada tahapan perkembangan yang terjadi berurutan. Erikson pertama kali memaparkan kedelapan tahapan ini dalam bukunya yang termasyhur, Childhood and Society (1950a). Tabel Delapan Tahapan Perkembangan Psikososial menyajikan daftar tahapan dan menunjukkan krisis atau tugas psikososial apa yang terkait dengan masing-masing tahapan tersebut, kondisi-kondisi sosial yang mungkin membantu atau mengganggu penyelesaian tahapan itu, dan hasil-hasil perilaku yang muncul dari penyelesaian tahapan tersebut entah itu berhasil maupun gagal.

TABEL Delapan Tahapan Perkembangan Psikososial Menurut Erikson

Tahapan

Tahapan Psikososial

Tugas

Kondisi-kondisi Sosial

Hasil Psikososial

Tahapan 1

(lahir s.d 1 tahun)Oral-SensoriBisakah aku memercayai dunia?Dukungan, penyediaan kebutuhan-kebutuhan dasar, kesinambungan

Ketiadaan dukungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, inkonsistensiRasa percaya

Rasa tidak percayaTahapan 2

(2 s.d 3 tahun)Muskular-AnalBisakah aku mengendalikan perilakuku?Dukungan, sikap membolehkan dengan pertimbangan

Perlindungan yang berlebihan, kekurangan dukungan, kekurangan rasa percaya diriOtonomi

KeraguanTahapan 3

(4 s.d 5 tahun)Lokomotor-GenitalBisakah aku mandiri dari orang tuaku dan menjelajahi batas-batas kemampuanku?Dorongan, kesempatan

Kekurangan kesempatan, perasaan-perasaan negatifInisiatif

Rasa bersalahTahapan 4

(6 s.d 11 tahun)LatensiBisakah aku menguasai keahlian untuk hidup dan beradaptasi?Pelatihan yang memadai, pendidikan yang bagus, model-model yang baik.

Pendidikan atau palatihan yang buruk, kurangnya pengarahan dan dukunganRasa mantap

Rasa rendah diriTahapan 5

(12 s.d 18 tahun)Pubertas dan Masa RemajaSiapa saya? Seperti apa keyakinanku, perasaanku, dan sikap-sikapku?Stabilitas internal dan kesinambungan, model-model seks yang tepat, dan umpan balik yang positif

Kekacauan tujuan, umpan balik yang tidak jelas, harapan-harapan yang tidak tepatIdentitas

Kekacauan atau kebingungan peranTahapan 6

(awal masa dewasa)Awal Masa DewasaBisakah aku memberikan diriku sepenuhnya bagi orang lain?Sikap hangat, pemahaman, rasa percaya

Kesepian, perasaan terasingKedekatan

KeterkucilanTahapan 7

(masa dewasa)Masa DewasaApa yang kutawarkan pada generasi selanjutnya?Kepastian tujuan, produktivitas

Kurang menghasilkan, kemunduran

Generativitas

KemandekanTahapan 8

(masa kematangan)Masa KematanganSudahkah kutemukan kepauasan dan kelegaan dalam segala kegiatan hidupku?Perasaan aman, utuh, dan terarah

Rasa kurang, rasa tidak puasIntegritas ego

Rasa putus asaSumber: Diadaptasi dari Erikson (1950a)

Konflik-konflik ini tidak berlangsung dalam situasi “sekali untuk selamanya” melainkan berlangsung sebagai proses di sepanjang rangkaian (kontinum) psikologis. Titik-titik ekstrem dalam kontinum ini tidak ada dalam kenyataan, namun bagian-bagian dari setiap titik ekstrem itu seringkali bisa ditemukan pada semua individu dalam tahapan mana pun. Sebagai contoh, tidak ada anak yang tumbuh dengan rasa percaya (trust) sepenuhnya atau rasa tidak percaya (distrust) sepenuhnya – masing-masing individu beradaptasi sesuai dengan apa yang digariskan oleh tuntutan-tuntutan sosial.

 

Perbandingan Tahapan Erik Erikson dengan Sigmund Freud

Seperti dijelaskan pada jawaban di atas bahwa, Erikson adalah murid dari Freud sehingga Erikson adalah pengembang teori Freud dan mendasarkan kunstruk teori psikososialnya dari psiko-analisas Freud. Kalau Freud memapar teori perkembangan manusia hanya sampai masa remaja, maka para penganut teori psiko-analisa (freud) akan menemukan kelengkapan penjelasan dari Erikson, walaupun demikian ada perbedaan antara psikoseksual Freud dengan psikososial Erikson. Beberapa aspek perbedan tersebut dapat dilihat di bawah ini:

Erik Erikson

Sigmund Freud

Peran/fungsi ego lebih ditonjolkan, yang berhubungan dengan tingkah laku yang nyata. Peranan/fungsi id dan ketidaksadaran sangat penting
Hubungan-hubungan yang penting lebih luas, karena mengikutsertakan pribadi-pribadi lain yang ada dalam lingkungan hidup yang langsung pada anak. Hubungan antara anak dan orang tua melalui pola pengaturan bersama (mutual regulation). Hubungan segitiga antara anak, ibu dan ayah menjadi landasan yang terpenting dalam perkembangan kepribadian.
Orientasinya optimistik, kerena kondisi-kondisi dari pengaruh lingkungan sosial yang ikut mempengaruhi perkembang kepribadian anak bisa diatur. Orientasi patologik, mistik karena ber-hubungan dengan berbagai hambatan pada struktur kepribadian dalam perkembangan kepribadian.
Konflik timbul antara ego dengan lingkungan sosial yang disebut: konflik sosial. Timbulnya berbagai hambatan dalam ke-hidupan psikisnya karena konflik internal, antara id dan super ego.

“Menempatkan titik tekan yang lebih besar pada dimensi sosialisasi”

“Menempatkan titik tekan yang lebih besar pada dimensi psikologi”

Kesimpulan pandangan Freud dan Erik Erikson

Padangan teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, sementara teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.

Seperfi teori Freud, teori Erikson juga membagi proses-proses perkembangan ke dalam serangkaian tahapan yang diatur oleh kekuatan-kekuatan maturasional dan ditandai oleh adanya konflik. Teori Erikson terdiri atas delapan tahapan semacam itu, yang masing-masingnya terkait dengan krisis yang harus diselesaikan oleh individu untuk bisa berpindah ke tahapan berikutnya. Dalam pandangan Erikson, proses pematangan (maturational) bisa jadi merupakan faktor pendorong munculnya tahapan baru; adapun tuntutan sosial, yang telah ada sejak manusia dalam kandungan hingga kematian, bertindak sebagai kekuatan penengah dan pembentuk.

       Apabila teori Freud bertumpu pada hubungan antara energi kehidupan (libido) dengan fungsi-fungsi psikologis individu, teori Erikson menekankan pentingnya kedudukan ego. Bagi Erikson, ego merupakan struktur penyatu, dan kekuatan ego merupakan lem yang merekatkan berbagai aspek atau dimensi fungsi-fungsi psikologis. Pandangan Erikson mengenai ego ini serupa dengan yang ada pada Freud: ego adalah pelaksana tindakan pencapaian-tujuan realistis dan menjadi penengah antara dorongan biologis id dan batasan masyarakat berupa superego. Namun sifat perkembangan yang ada dalam teori Erikson menjadikan ego sebagai struktur yang paling penting. Melalui ego, manusia mengalami dan menyelesaikan krisis-krisis perkembangan tertentu. Ketika ego goyah dan tidak bisa menangani suatu krisis, maka perkembangan pun menjadi terancam.

Seperti Freud, Erikson yakin bahwa meskipun dorongan biologis memiliki arti yang amat penting, namun tekanan sosial dan kekuatan lingkungan memiliki dampak yang lebih besar. Pengamatan terperinci atas kekuatan-kekuatan seperti ini dalam kehidupan individu akan memperlihatkan apa yang oleh Erikson disebut sebagai psikohistori (psychohistory) -yakni riwayat kejadian-kejadian sosial yang berinteraksi dengan proses-proses biologis sehingga menghasilkan perilaku. Teknik yang banyak digunakan Erikson adalah menghubungkan antara pengalaman masa lalu individu dengan perilaku mereka sekarang sebagai upaya untuk memahami faktor-faktor motivasi, hasil-hasil perilaku, dan kebutuhan-kebutuhan individu pada masa berikutnya. Apabila tahapan-tahapan perkembangan dalam teori Freud mengandung ciri psikoseksual, maka tahapan-tahapan Erikson mengandung ciri psikososial, lantaran pengamatannya yang serius terhadap faktor-faktor tersebut.

Diterjemahkan dan di-resume dari:

Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher

Dipublikasi di Teori Perkembangan | Tag | Tinggalkan komentar

TEORI BELAJAR SOSIAL (ALBERT BANDURA)

Oleh: Desyandri

Pertama, Bandura berpendapat manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri; sehingga mereka bukan semata-mata bidak yang menjadi obyek: pengaruh lingkungan. Sifat kausal bukan dimiliki sendirian oleh lingkungan, karena orang dan lingkungan saling mempengaruhi.

Kedua, Bandura menyatakan, banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi orang itu dengan orang lain. Dampaknya, teori kepribadian yang memadai harus memperhitungkan konteks sosial di mana tingkah laku itu diperoleh dan di pelihara. Teori belajar sosial (Social learning theory) dari Bandura, didasarkan pada konsep saling menentukan (reciprocal determinism), tanpa penguatan (beyond reinforce), dan pengaturan diri/berifikir (self-regulation/cognition).

1. Determinis resiprokal: pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan. 0rang menentukan/mempengaruhi tingkahlakunya dengan mengontrol kekuatan lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungan itu. Determinis resiprokal adalah konsep yang penting dalam teori belajar sosial Bandura, menjadi pijakan Bandura dalam memahami tingkah laku. Teori belajar sosial memakai saling­determinis sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psiko-sosial di berbagai tingkat kompleksitas, dari perkembangan intrapersonal sampai tingkah laku interpersonal serta fungsi interaktif dari organisasi dan sistem sosial. Gambar 12 menunjukkan Nilai komprehensif dari determinis resiprokal Bandura dibandingkan dengan teori Behaviourisme lainnya.

  • Tanpa reinforsemen: Bandura memandang teori Skinner dan Hull terlalu bergantung kepada reforsemen. Jika setiap unit respon sosial yang kompleks harus dipilah-pilah untuk direnforse satu persatu, bisa jadi orang malah tidak belajar apapun. Menurutnya, reforsemen penting dalam menen-tukan apakah suatu tingkahlaku akan terus terjadi atau tidak, tetapi itu bukan satu­satunya pembentuk tingkahlaku. Orang dapat belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang dilihatnya. Belajar melalui observasi tanpa ada reforsemen yang terlibat, berarti tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi, itu merupakan pokok teori belajar sosial.
  • Kognisi dan Regulasi diri: Teori belajar tradisional sering terhalang oleh ketidak senangan atau ketidak mampuan mereka untuk menjelaskan proses kognitif. Konsep Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur dixi sendiri (self regulation), mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkahlakunya sendiri. Kemampuan kecerdasan untuk berfikir simbolik menjadi sarana yang kuat untuk menangani lingkungan, misalnya dengan menyirnpan pengalaman (dalam ingatan) dalam ujud verbal dan gambaran imaginasi untuk kepentingan tingkahlaku pada masa yang akan datang. Kemampuan untuk menggambarkan secara imaginatif basil yang diinginkan pada masa yang akan datang mengembangkan strategi tingkah laku yang membimbing ke arah tujuan jangka panjang.

Sistem Self (Self System)

Tidak seperti Skinner yang teorinya tidak memiliki konstruk self, Bandura yakin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan & kekuatan peramalan. Dengan kata lain, self diakui sebagai unsur struktur kepribadian. Saling determinis menempatkan semua hal saling berinteraksi, di mana pusat atau pemula­nya adalah sistem self. Sistem self itu bukan unsur psikis yang mengontrol tingkah laku, tetapi mengacu ke struktur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan pengaturan tingkah laku. Pengaruh self tidak otomatis atau mengatur tingkah laku secara otonom, tetapi self menjadi bagian dari sistem interaksi resiprokal.

Regulasi Diri

Manusia mempunyai kemampuan berfikir, dan dengan kemampuan itu mereka memanipulasi lingkungan, sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan manusia. Balikannya dalam bentuk deteminis resiprokal berarti orang dapat mengatur sebagian clan tingkahlakunya sendiri. Menurut Bandura, akan terjadi strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi did. Strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. Orang memotivasi dan membimbing tingkahlakunya sendiri melalui strategi proaktif, menciptakan ketisakseimbangan, agar dapat memobilisasi kemampuan dan usahanya berdasarkan antisipasi apa Baja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ada tiga proses yang dapat dipakai untuk melakukan pengaturan memanipulasi faktor eksternal, memonitor dan mengevaluasi tingkahlaku internal. Tingkahlaku manusia adalah hasil pengaruh resiprokal faktor eksternal dan faktor internal itu.

 

Faktor Eksternal dalam Regulasi Diri

Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, pertama; faktor eksternal memberi standar untuk mengevaluasi tingkahlaku. Faktor lingkungan bertinteraksi dengan pengaruh-pengaruh pribadi, membentuk standar evalusi diri orang itu. Melalui orang tua dan guru anak-anak belajar baik-buruk, tingkahlaku yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang dapat dipakai untuk menilai prestasi diri.

Kedua: faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk penguatan(reinforcemenl). Hadiah intrinsik tidak selalu memberi kepuasan, orang membutuhkan insentif yang berasal dari lingkungan ekstemal. Standar tingkahlaku dan penguatan biasanya bekerja sama; ketika orang dapat mencapai standar tingkahlaku tertentu, perlu ada penguatan agar tingkahlaku semacam itu menjadi pilihan untuk dilakukan 1agi.

Faktor Internal dalam Regulasi Diri

Faktor eksternal berinteraksi dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk pengaruh internal (label 35):

  1. Observasi diri (self observation): dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan, kuantita penampilan, orisinalitas tingkahlaku dan seterusnya. Orang harus mampu memonitor performansinya, walaupun tidak sempurna karena orang cenderung memilih beberapa aspek dari tingkahlakunya dan mengabaikan tingkahlaku lainnya. Apa yang diobservasi seseorang tergantung kepada minat dan konsep dirinya.
  2. Proses penilaian atau mengadili tingkah laku (judgmental process): adalah melihat kesesuaian tingkahlaku dengan standar pribadi, membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan tingkah laku orang lain, menilai berdasarkan pentingnya suatu aktivitas, dan memberi atribusi performansi. Standar pribadi bersumber dari pengalaman mengamati model misalnya orang tua atau guru, dan menginterpretasi balikan/penguatan dari performansi diri. Berdasarkan sumber model dan performansi yang mendapat penguatan, proses kognitif menyusun ukuran-ukuran atau norma yang sifatnya sangat pribadi, karena ukuran itu tidak selalu sinkron dengan kenyataan. Standar pribadi ini jumlahnya terbatas. Sebagian besar aktivitas hams dinilai dengan membandingkannya dengan ukuran eksternal, bisa berupa norma standar, perbandingan social, perbandingan dengan orang lain, atau perbandingan kolektif. Orang juga menilai suatu aktivitas berdasarkan anti penting dari aktivitas itu bagi dirinya. Akhirnya, orang juga menilai seberapa besar dirinya menjadi penyebab dari suatu performansi, apakah kepada diri sendiri dapati dikenai atribusi (penyebab) tercapainya suatu performansi, atau sebaliknya justru mendapat atribusi terjadinya kegagalan dan performansi yang buruk.
  3. Reaksi-diri-afektif (self response): akhirnya berdasarkan pengamaan dan judgment itu, orang mengevaluasi diri sendiri positif atau negatif, dan kemudian menghadiahi atau menghukum diri sendiri. Bisa terjadi tidak muncul reaksi afektif, karena fungsi kognitif membuat keseimbangan yang mempengaruhi evaluasi positif atau negatif menjadi kurang bermakna secara individual.

Faktor-faktor Penting dalam Belajar Melalui Observasi

Tentu saja, mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak tidak mesti berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor atau prakondisi. Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar meinlui observasi dapat terjadi, yakni:

  1. Perhatian (attention process) : Sebelum meniru orang lain, perhatian hams dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkahlaku yang diamati bagi si pengamat.
  2. Representasi (representation process): Tingkahlaku yang akan ditiru, hams disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkahlaku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam fikiran, tanpa benar-benar melakukannya secara fisik.
  3. Peniruan tingkahlaku model (behavior production process): Sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkanya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkahlaku. Mengubah dad gambaran fikiran menjadi tingkahlaku menimbulkan kebutuha evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, basil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respon dengan tingkahlaku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pebelajar.
  4. Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pebelajar memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkahlaku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkahlaku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses belajar. Imitasi lebih kuat terjadi pada tingkah laku model yang diganjar, daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi tetap terjadi walapun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.

Motivasi banyak ditentukan oleh kesesuaian antara karakteristik pribadi pengamat dengan karakteristik modelnya. Ciri-ciri model seperti usia, status sosial, seks, keramahan, dan kemampuan, penting dalam menentukan tingkat imitasi. Anak lebih senang meniru model seusianya daripada model dewasa. Anak juga cenderung meniru model yang standar prestasinya dalam jangkauannya, alih-alih model yang standarnya diluar jangkauannya. Anak yang sangat dependen cenderung mengimitasi model yang dependennya lebih ringan. Imitasi juga dipengaruhi oleh interaksi antara ciri model dengan observernya. Anak cenderung mengimitasi orang tuanya yang hangat dan open (jw), gadis lebih mengimitasi ibunya.

Dampak Belajar

Setiap kali respon dibuat, akan diikuti dengan berbagai konsekuensi; ada yang konsekuensinya menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan, ada yang tidak masuk kekesadaran sehingga dampaknya sangat kecil. Penguatan – baik positif maupun negatif – dampaknya tidak otomastis sejalan dengan konsekuensi respon. Konsekuensi dari suatu respon mempunyai tiga fungsi:

  1. Pemberi informasi: memberi informasi mengenai dampak dari tingkahlaku, informasi ini dapat disimpan untuk dipakai membimbing tingkahlaku pada masa yang akan datang.
  2. Memotivasi tingkahlaku yang akan datang: Menyajikan data sehingga or­ang dapat membayangkan secara simbolik hasil tingkahlaku yang akan dilakukannya, dan bertingkahlaku sesuai dengan peramalan-peramalan yang dilakukannya. Dengan kata lain, tingkahlaku ditentukan atau dimotivasi oleh masa yang akan datang, di mana pemahaman mengenai apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang itu diperoleh dari pemahaman mengenai konsekuensi suatu tingkahlaku.
  3. Penguat tingkahlaku: Keberhasilan akan menjadi penguat sehingga tingkahlaku menjadi berpeluang diulangi, sebaliknya kegagalan akan membuat tingkahlaku cenderung tidak diulang.

Diterjemahkan dan di-resume dari:

Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher

 

Dipublikasi di Teori Perkembangan | Tag | Tinggalkan komentar

TEORI PERKEMBANGAN PSIKOANALISIS (SIGMUND FREUD)

Oleh: Desyandri

Pandangan Teori Perkembangan Psikoanalisis menurut Freuds

Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati (awareness) dalan setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya (lihat representasi grafik struktur kepribadian pada Gambar 1. Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:

a)   Sadar (Conscious)

Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja Bari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi daerah sadar itu merupakan basil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue-eksternal. Isi-isi kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu yang singkat di daerah conscious, dan segera tertekan ke daerah perconscious atau unconscious, begitu orang memindah perhatiannya ke we yang lain.

b)   Prasadar (Preconscious)

Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan clan unconscious. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar. Di sisi lain, isi-materi daerah taksadar dapat muncul ke daerah prasadar. Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi tak sadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.

c)    Tak Sadar (Unconscious)

Tak sadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empirik. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar. Isi atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkahlaku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

Model perkembangan psikoanalisis dasar, yang terus-menerus dimodifikasi oleh Freud selama 50 tahun terakhir hidupnya, terdiri atas tiga komponen pokok; (1) satu komponen dinamik atau ekonomik yang menggambarkan pikiran manusia sebagai sistem energi yang cair; (2) satu komponen struktural atau topografik berupa sebuah sistem yang memiliki tiga struktur psikologis berbeda tetapi saling berhubungan dalam menghasilkan perilaku; dan (3) satu komponen sekuensial (urutan) atau tahapan yang memastikan langkah maju dari satu tahap perkembangan menuju tahap lainnya, yang terpusat pada daerah-daerah tubuh yang sensitif, tugas-tugas perkembangan, dan konflik-konflik psikologis  tertentu.

Komponen Dinamik (Energi Psikis)

Semangat (atau arah) perkembangan ilmiah dan intelektual pada akhir abad ke-19 terpusat di sekitar kajian tentang energi, dan Freud menerapkan konsep energi tersebut terhadap perilaku manusia. Ia menyebut energi ini sebagai energi psikis (psychic energy atau energy yang mengoperasikan berbagai komponen sistem psikologis.

Freud berpendapat bahwa insting (instincts) atau dorongan-dorongan psikologis yang muncul tanpa dipelajari adalah sumber utama energy  psikis. Insting memiliki dua ciri khas yang sangat penting, yakni: ciri konservatif (pelestarian) dan ciri repetitif (perulangan). Maksudnya, insting selalu menggunakan sesedikit mungkin jumlah energi yang di perlukan untuk melaksanakan aktivitas tertentu dan kemudian mengembalikan organisme kepada keadaannya yang semula, dan hal itu terjadi secara berulang-ulang. Dalam sistem Freud, insting bertindak sebagai perangsang pikiran mendorong individu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Insting juga bisa dipandang sebagai gambaran psikologis dari proses biologis yang berlangsung.

Komponen Struktural

a)   Id (Das Es)

Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unansdous, mewakili subjektivitas yang tidak pemah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.

Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasunprinciple), yaitu: berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat enerji yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan enerji yang mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada stimuli yang memicu enerji untuk bekerja – timbul tegangan enerji – id beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan itu; mengembalikan din ke tingkat enerji yang rendah. Pleasure principle diproses dengan dua Cara, tindak refleks (reflex actions) dan proses primer (primaryprocess). Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata – dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan. Proses primer adalah reaksi membayangkan/mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan – dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya. Proses membentuk gambaran objek yang dapat mengurangi tegangan, disebut pemenuhan hasrat (nosh fullment), misalnya mimpi, lamunan, dan halusinasi psikotik.

Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedaka benar-salah, tidak tabu moral. Jadi hams dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemudian membuat Id memunculkan ego.

b) Ego (Das Ich)

Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (realityprinciple); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan barn atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Prinsip realita itu dikerjakan metalui proses sekunder (secondaryprocess), yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses pengujian itu disebut uji realita (reality testin ; melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah difikirkan secara realistik. Dari cara kerjanya dapat difahami sebagian besar daerah operasi ego berada di kesadaran, namun ada sebagian kecil ego beroperasi di daerah prasadar dan daerah taksadar.

Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang. resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dan superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri akan memperoleh enegi dari Id.

c)    Superego (Das Ueber Ich)

Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (idealisticprinciple) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dad Ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan ego, superego beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).

Prinsip idealistik mempunyai dua subprinsip, yakni conscience dan ego-ideal. Super-ego pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua mengenai standar sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai larangan dan perintah. Apapun tingkahlaku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadi standar kesempurnaan atau ego ideal, yang berisi apa saja yang seharusnya dilakukan. Proses mengembangkan konsensia dan ego ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua.

Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Super-ego juga seperti ego dalam hal mengontrol id, bukan hanya menunda pemuasan tetapi merintangi pemenuhannya. Paling tidak, ada 3 fungsi superego; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistik, (2) merintangi impuls id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan.

Struktur kepribadian id-ego-superego itu bukan bagian-bagian yang menjalankan kepribadian, tetapi itu adalah nama dalam sistem struktur dan proses psikologik yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Biasanya sistem-sistem itu bekerja bersama sebagai team, di bawah arahan ego. Baru kalau timbul konflik diantara ketiga struktur itu, mungkin sekali muncul tingkahlaku abnormal.

Komponen Sekuensial (Tahapan)

Bagian ketiga dan terakhir dari model Freud adalah komponen tahapan atau komponen sekuensial (sequential or stage component). Bagian ini menekankan pola atau gerak maju organisme melalui tahapan-tahapan perkembangan yang berbeda dan semakin lama semakin adaptif. Menurut Freud, pintu pertama menuju kematangan adalah tahapan perkembangan genital, dimana terbentuk hubungan yang berarti berlangsung terus menerus.

Teori Freuds disebut Teori Psikoseksual

Menurut Freud, para bayi terlahir dengan kemampuan untuk merasakan kenikmatan apabila terjadi kontak kulit, dan para bayi itu memiliki semacam ketegangan di permukaan kulit mereka yang perlu diredakan melalui kontak kulit secara langsung dengan orang lain. Freud menyerupakan kenikmatan ini dengan rangsangan seksual tetapi ia memberi catatan bahwa hal ini berbeda secara kualitatif dari tipe rangsangan seksual yang dialami oleh orang dewasa karena kejadian yang dialami bayi ini lebih bersifat umum dan belum terdiferensiasi. Freud (790511959) menyebut kemampuan untuk mengalami kenikmatan ini dan kebutuhan untuk meredakannya dengan nama seksualitas bayi, yang berbeda dari seksualitas orang dewasa.

Pandangan mengenai seksualitas bayi dan anak-anak ini memicu protes luas orang-orang menentang Freud pada masa-masa akhir era Victorian dan awal abad ke-20. Tetapi Freud dan para pengikutnya, yang mendasarkan pendirian mereka pada pengalaman-pengalaman klinis, bersikukuh pada teori tersebut” Mereka tetap berpegang pada pandangan bahwa kornponen-komponen psikologis-eksperiensial saling terkait dengan disertai pergantian zona-zona erogen secara biologis melalui urutan (sekuen) tertentu. Dengan demikian tahapan-tahapan perkembangan ini disebut sebagai tahapan-tahapan psikoseksual (Psychosexual stages). Teori Freud. memandang bahwa tahapan-tahapan ini bersifat urniversal, berlaku pada sernua anak-anak dimana saja.

Menurut Freud, kemunculan setiap tahapan psikoseksual dan sebagian bentuk perilaku yang terjadi di setiap tahapan dikendalikan oleh faktor-faktor genetik atau kematangan sedangkan isi tahapan-tahapan tersebut berbeda-beda bergantung pada kultur tempat terjadinya perkembangan. Sekali lagi ini memperlihatkan contoh mengenai pentingnya interaksi antara kekuatan keturunan dan kekuatan lingkungan bagi proses perkembangan.

Freud berpendapat bahwa dalam perkembangan manusia terdapat dua hal pokok yaitu: (1) bahwa tahun-tahun awal kehidupan memegang peranan penting bagi pembentukan kepribadian; dan (2) bahwa perkembangan manusia meliputi tahap-tahap psikoseksual:

a)    Tahap oral ( sejak lahir hingga 1tahun )

Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah makan. Dua macam aktivitas oral  ini, yaitu menelan makanan dan mengigit, merupakan prototipe bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Karena tahap oral ini berlangsung pada saat bayi sama sekali tergantung pada ibunya untuk memdapatkan makanan, pada saat dibuai, dirawat dan dilindungi dari perasaan yang tidak menyenangkan, maka timbul perasaan-perasaan tergantung pada masa ini. Frued berpendapat bahwa simtom ketergantungan yang paling ekstrem adalah keinginan kembali ke dalam rahim.

b)   Tahap anal (  usia 1-3 tahun )

Setelah makanan dicernakan, maka sisa makanan menumpuk di ujung bawah dari usus dan secara reflex akan dilepaskan keluar apabila tekanan pada otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu. Pada umur dua tahun anak mendapatkan pengalaman pertama yang menentukan tentang pengaturan atas suatu impuls instingtual oleh pihak luar. Pembiasaan akan kebersihan ini dapat mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap pembentukan sifat-sifat dan nilai-nilai khusus.  Sifat-sifat kepribadian lain yang tak terbilang jumlahnya konon sumber akarnya terbentuk dalam tahap anal.

c)    Tahap phalik ( usia 3-5 tahun)

Selama tahap perkembangan kepribadian ini yang menjadi pusat dinamika adalah perasaan-perasaan seksual dan agresif berkaitan dengan mulai berfungsinya organ-organ genetikal. Kenikmatan masturbasi serta kehidupan fantasi anak yang menyertai aktivitas auto-erotik membuka jalan bagi timbulnya kompleks Oedipus.  Freud memandang keberhasilan mengidentifikasikan kompleks Oedipus sebagai salah satu temuan besarnya.

Freud mengasumsikan bahwa setiap orang secara inheren adalah biseksual, setiap jenis tertarik pada anggota sejenis maupun pada anggota lawan jenis. Asumsi tentang biseksualitas ini disokong oleh penelitian terhadap kelenjar-kelenjar endokrin yang secara agak konklusif menunjukkan bahwa baik hormon seks perempuan terdapat pada masing-masing jenis. Timbul dan berkembangnya kompleks Oedipus dan kompleks kastrasi merupakan peristiwa-peristiwa pokok selama masa phalik dan meninggalkan serangkaian bekas dalam kepribadian.

d)   Tahap laten ( usia 5 – awal pubertas)

Masa ini adlah periode tertahannya dorongan-dorongan seks agresif. Selama masa ini anak mengembangkan kemampuannya bersublimasi ( seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah, bermain olah raga, dan kegiatan lainya). Tahapan latensi ini antara usia 6-12 tahun (masa sekolah dasar)

e)    Tahap genital/kelamin ( masa remaja)

Kateksis-kateksis dari masa-masa pragenital bersifat narsisistik. Hal ini berarti bahwa individu mendapatkan kepuasan dari stimulasi dan manipulasi tubuhnya sendiri sedangkan orang-orang lain dikateksis hanya karena membantu memberikan bentuk-bentuk tambahan kenikmatan tubuh bagi anak. Selama masa adolesen, sebagian dari cinta diri atau narsisisme ini disalurkan ke pilihan-pilihan objek yang sebenarnya.

Kateksis-kateksis pada tahap-tahap oral, anal, dan phalik lebur dan di sistensiskan dengan impuls-impuls genital. Fungsi biologis pokok dari tahap genital tujuan ini dengan memberikan stabilitas dan keamanan sampai batas tertentu.

Implementasi teori Freud dalam Praktik Pendidikan

Berdasarkan konsep kunci dari teori kepribadian freud, berikut ini akan dijelaskan beberapa teorinya yang dapat diimplemetasikan dalam pendidikan, yaitu: Pertama, konsep kunci bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Dengan demikian, implementasi pandangan Freud dalam pendidikan sangat memberikan kontribusi yang signifikan, terutama memberikan panduan atau acuan pada guru dalam melakukan pembelajaran dan memberikan bimbingan, sehingga bimbingan benar-benar efektif dan sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. Adapun fungsi-fungsi bimbingan yang dilakukan oleh guru antara lain:

1)    Memahami Individual Siswa

Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan siswa. Karena itu, bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara menyeluruh. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya.

2)    Preventif dan Pengembangan Individual Siswa

Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventive berusaha mencegah kemerosotan perkembangan seseorang dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangannya melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.

Membantu individu untuk menyempurnakan setiap siswa pada saat tertentu ketika membutuhkan pertolongan dalam menghadapi dan menjalani keseharian mereka dan beradaptasi dengan lingkungannya. Bimbingan dapat memberikan bantuan pada siswa untuk penanganan dan pemibimbingan dalam kepgiatan pembelajaran dan membantu memberikan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

Kedua, konsep teori tentang kecemasan yang dimiliki seseorang dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan oleh guru, yaitu membantu individu supaya mengerti diri dan lingkungannya, mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya, mampu mengelola aktivitas sehari-hari dengan baik dan bijaksana, mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial dalam masyarakatnya.

Ketiga, konsep teori psikoanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Dalam system pembinaan akhlak individual, islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anknya agar dapat tumbuh kembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

Keempat, teori freud tentang tahapan perkembangan kepribadian individu dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberikan arti bahwa, materi, metode, dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda.

Kelima, konsep freud tentang ketidaksadaran dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan oleh guru pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.

Diterjemahkan dan di-resume dari:

Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher

Dipublikasi di Teori Perkembangan | Tag | 1 Komentar

PRINSIP-PRINSIP DASAR TEORI PERKEMBANGAN (ARNOLD GESSEL)

Oleh: Desyandri

Dalam semua aktivitasnya, Gesell berfokus pada perkembangan anak-anak dan menekankan pentingnya kontrol biologi. Lingkungan bisa untuk sementara mempengaruhi tingkat kecepatan perkembangan seorang anak, akan tetapi faktor-faktor biologi individu sepenuhnya mengendalikan perkembangan. Gesell menyatakan ada lima prinsip dasar perkembangan yang menurut penjelasannya memiliki dampak psikoformologis artinya, semua itu menggambarkan proses-proses perkembangan yang terjadi baik di tingkatan psikologis maupun di tingkatan struktural. Gesell juga mengembalikan sebagian besar prinsip ini pada fungsi-fungsi biologis yang terdapat dalam sampel kanak-kanak normal yang ia teliti.

Arnold Gesell membagi prinsip-prinsip dasar pemkembangan menjadi lima yaitu:

1)      Principle of Developmental Direction (Prinsip Arah Perkembangan)

Prinsip arah perkembangan dalam pemikiran Gesell mengandung arti bahwa perkembangan tidak berlangsung acak, melainkan dalam pola yang teratur. Kenyataanya adalah perkembangan bergerak maju secara sistematis dari kepala hingga ke ujung kaki,contohnya seorang bayi yang baru lahir relatif lebih matang susunan saraf motoriknya di bagian kepala daripada yang ada di bagiannya muncul lebih dulu dibandingkan koordinasi kaki.

Perkembangan ini cendrung dalam teratur mulai dari arah kepala ke kaki, hal ini disebut sebagai tren cefalokaudal (cephalocaudal trend). Perkembangan juga bergerak dari pusat tubuh ke arah luar, ke arah pinggir. Contohnya, gerakan-gerakan bahu terlihat jauh lebih teratur pada awal kehidupan seorang anak dibandingkan gerakan-gerakan pergelangan tangan dan jari-jemarinya. Berikutnya adalah tren proksimodistal (proximodistal trend) atau dari arah terdekat menuju yang terjauh, bisa dilihat pada perilaku tangan yang menggenggam pada anak. Pada usia 20 minggu, perilaku ini berlangsung secara serampangan dan didominasi oleh gerakan-gerakan lengan atas, tetapi pada minggu ke-28, ketika si anak sudah bisa menggunakan jempolnya secara lebih cermat, gerakan ini menunjukkan keahlian motorik yang lebih baik. Kedua tren cefalokaudal dan proksimodistal ini menguatkan pendapat Gesell bahwa perkembangan (dan perilaku) memiliki arah dan arah ini pada dasarnya merupakan suatu fungsi mekanisme genetik yang telah terprogram.

2)      Principle of Reciprocal Interweaving (Prinsip Jalinan Timbalbalik)

Pada perilaku ini dari sebuah prinsip psikologi yang disebut sebagai reciprocal innervation (aktivitas saraf secara timbal balik), yang diajukan oleh Sir. Charles Scott Sherrington, pemenang Hadiah Nobel kedokteran tahun 1932. Prinsip fisiologis Sherrington menyatakan bahwa pengencangan dan peregangan otot-otot yang berbeda-beda sama-sama saling melengkapi untuk menghasilkan gerakan tubuh yang efisien. Gesell menegaskan bahwa fenomena seperti itu juga beroperasi dalam proses perkembangan artinya, berlangsungnya pola-pola perilaku membutuhkan pertumbuhan struktural yang saling melengkapi. Gesell menjelaskan urutan perkembangan yang menghasilkan aktivitas berjalan kaki sebagai rangkaian pergantian antara dominasi otot pengencang dan dominasi otot pelonggar pada lengan dan kaki; hal ini dilakukan melalui semacam koordinasi dan integrasi otot-otot saraf dalam jangka waktu tertentu.

Gesell menggunakan prinsip ini untuk menggambarkan berkembangnya kemampuan berjalan kaki dan juga berkembangnya kemampuan menggerakkan tangan-kanan atau tangan-kiri. Ia menyimpulkan prinsip tersebut sebagai susunan hubungan timbal-balik antara dua fungsi atau sistem saraf motorik yang saling berlawanan, yang secara ontogenik terwujud melalui peralihan periodik yang semakin meningkat antara berbagai komponen fungsi atau sistem, dengan modulasi dan integrasi progresif pada pola-pola perilaku yang dihasilkan (Gesell, 1954, h. 349). Melalui prose-proses yang saling melengkapi seperti itu, rangkaian kekuatan yang saling berlawanan menjadi meningkat (atau dominan) dalam waktu yang berbeda-beda selama berlangsungnya siklus perkembangan. Kinerja dari kekuatan-kekuatan yang berlawanan ini menghasilkan integrasi dan kemajuan ke arah tingkat kematangan yang lebih tinggi.

3)      Principle of Functional Asymmetry (Prinsip Asimetri Fungsional):

Menurut prinsip ini prilaku berlangsung melalui periode-priode perkembangan yang bersifat asimetris (tidak seimbang) agar organisme bisa mencapai  kadar kematangan pada tahapan selanjutnya. Contoh yang diberikan oleh Gesell sebagai ilustrasi mengenai prinsip kompleks ini diantaranya adalah tanggapan dasar yang disebut refleks pengencangan otot leher (tonic neck reflex). Refleks ini terjadi ketika seorang anak mengambil posisi tubuh seperti seorang pemain anggar, di mana kepala menoleh ke satu sisi, satu tangan terentang ke samping dan kaki pada sisi tersebut tetap lurus, sementara tangan yang lain terlipat melintang di dada, dan kaki lainnya menekuk lutut.

Perilaku asimetris ini menjadi pendahuluan bagi pencapaian perkembangan simetris berikutnya, di mana kedua tangan si anak secara berbarengan memegangi suatu benda yang tergantung. Ini menjadi langkah penting bagi si anak untuk menguasai dan memahami lingkungannya. Gesell juga menegaskan bahwa prinsip asimetri fungsional sangat terkait dengan perkembangan gerakan tangan dan bentuk-bentuk dominasi psikomotor yang lainnya. Hal itu juga membantu mencegah anak-anak dari kemungkinan kekurangan napas (dengan cara menolehkan kepala) dan merupakan simpanan dari berbagai refleks yang turut menyumbang terbentuknya tindakan tertentu, misalnya melempar bola dan bahkan agresi.

4)      Principle of Individuating Maturation (Prinsip Kematangan Individu):

Prinsip ini menekankan pentingnya pola pertumbuhan, yakni mekanisme internal dalam diri individu yang menentukan arah dan pola perkembangannya.  Menurut Prinsip maturasi individuasi, perkembangan merupakan proses terbentuknya pola-pola berurutan yang telah tertentukan dan terwujud seiring dengan bertambah matangnya organisme.

Gesell menekankan hubungan antara pematangan dengan lingkungan sebagai berikut: Faktor-faktor lingkungan ikut mendukung, membelokkan, dan meng-khususkan; tetapi faktor-faktor lingkungan tidak menjadi penyebab munculnya bentuk-bentuk pokok dan tata urutan ontogenesis. Sebagai konsekuensinya, pembelajaran (learning) hanya bisa terjadi ketika struktur-struktur telah berkembang sehingga memungkinkan terjadi adaptasi perilaku, dan sebelum struktur-struktur itu berkembang maka pendidikan semacam apa pun tidak akan bisa efektif. Gesell sangat menekankan peranan faktor-faktor biologi. Gesell menegaskan bahwa efek-efek lingkungan terhadap hasil akhir perkembangan bersifat amat terbatas.

5)      Principle of Self-Regulatory Fluctuation (prinsip fluktuasi teratur):

Menurut Prinsip Pluktuasi teratur, setiap tahap yang berjalan dengan tidak seimbang atau goyah akan dikuti oleh satu tahapan perkembangan yang seimbang. Artinya bahwa perkembangan bergerak naik-turun (fluctuates) antara periode stabil dan periode tidak stabil, dan antara periode pertumbuhan aktif dan periode konsolidasi. Fluktuasi progresif ini, yang amat mirip dengan kaidah “memberi dan menerima” dalam prinsip jalinan timbal balik, berpuncak pada serangkaian tanggapan yang bersifat stabil. Semua fluktuasi ini bukannya tidak dikehendaki atau berjalan acak. Sebaliknya, semua itu merupakan upaya organisme untuk mempertahankan keutuhannya sambil memastikan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan tetap berjalan.

Menurut Gesell, dalam kenyataannya setiap urutan tahapan yang khas akan berlangsung berulang-ulang seiring dengan semakin dewasanya si anak, dan tahapan-tahapan yang tidak seimbang atau goyah akan selalu diikuti oleh tahapan-tahapan yang seimbang. Gambar 3.1 menunjukkan tingkatan keseimbangan dalarn perkembangan anak sejak usia 2 hingga 16 tahun, menggambarkan bagaimana perkembangan berlangsung dalam siklus yang meliputi keadaan yang relatif seimbang sampai keadaan yang relatif tidak seimbang. Garis tren dalam gambar menunjukkan karakteristik perilaku anak-anak pada umumnya, dan balikan perilaku setiap anak.

Meskipun kelima prinsip yang dipaparkan di atas bisa diamati dalam pola-pola pertumbuhan semua (mak, Gesell juga menekankan pentingnya perbedaan individu yang beranekaragam dan stabil. Salah satu sumbangan unik dari Gesell bagi psikologi perkembangan adalah upayanya menggunakan gambar-gambar bergerak untuk merekam perkembangan anak-anak yang tengah diteliti. Gesell dan para rekannya pertama kali menggunakan ‘rekaman-rekaman sinema ini untuk meneliti lima anak kecil dalam tahun-tahun awal kehidupan mereka, mereka meneliti lagi anak-anak yang sama ini 5 tahun kemudian.

2.b. Pandangan Teori Gesell disebut Model Maturasi

Pandangan teori Gesell disebut sebagai model maturasi karena Gesell yakin bahwa pengaruh terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan organisme manusia adalah faktor biologi. Menekankan terhadap proses-proses biologi, oleh karena itu Gesell menfokuskan sebagian karyanya pada pematangan (maturation), karena  memandang maturasi adalah sebagai sebuah proses yang amat penting karena diyakini hal itu berdampak besar pada setiap aspek perkembangan manusia. Sistem-sistem biologis sebagai titik tolak untuk memahami perkembangan suatu organisme manusia. Gesell juga memikirkan akibat yang mungkin muncul dari depresi terhadap daya tahan  dan juga peran apa yang mungkin di mainkan oleh maturasi untuk memagari individu dari efek-efek depresi.

Tingkat perkembangan anak berjalan melalui urutan yang ditentukan secara individual oleh genotip anak itu sendiri (yakni, latar belakang keturunan anak yang diterima dari nenek moyangnya). Meskipun tingkat laju perkembangan bisa diubah melalui rekayasa, perubahan yang dilakukan tidak fundamental. Dengan demikian, seorang anak yang berkembang dengan kecepatan lambat dibandingkan anak-anak pada umumnya tidak bisa diubah, sebagaimana halnya anak yang berkembang lebih cepat juga tidak bisa diubah arahnya. Di sisi lain, lingkungan bisa memengaruhi untuk sementara kecepatan perkembangan seorang anak. Sebagai contoh, tingkat kecepatan perkembangan bisa terpengaruh oleh kekurangan gizi atau sakit, akan tetapi faktor-faktor biologi sepenuhnya berada dalam kendali. Ini serupa dengan keadaan di mana karakteristik biologi spesies mengendalikan urutan perkembangan. Frances Jig dan Louise Bates Ames (1955), dua orang rekan Gesell, dengan tepat dan ringkas menyatakan intisari pendirian ini dalam salah satu buku mereka yang populer: “Lingkungan” yang mendukung memungkinkan setiap individu untuk mengem-bangkan asetnya yang paling positif bagi kehidupan. Lingkungan yang tidak mendukung bisa menghambat dan menekan potensi alamiah individu. Tetapi tidak ada lingkungan, entah itu yang baik atau buruk, yang pengaruhnya sampai mengubah seseorang dari individu jenis tertentu menjadi individu jenisnya. Itulah sebabnya teori Gesell disebut tori maturasi, karena faktor biologis dan mempengaruhi kematangan ornanisme dari pada lingkungan.

Penelitian Gesell tentang penjelasan Arti penting Maturasi vs Belajar

Fokus utama dalam penelitian Gesell adalah pengamatan dan prekaman perubahan dan pertumbuhan fisik. Sebagian besar karyanya membantu memberi kita pemahaman baru mengenai adanya wilayah perkembangan baru selain wilayah perkembangan biologis, seperti perkembangan kepribadian dan kognitif, namun hampir semuanya didasarkan pada wilayah fisik, sehingga tidak heran jika Gesell sering berkesimpulan bahwa, sebagaimana setiap anak memiliki kebutuhan individu, tahapan-tahapan perkembangan yang berbeda pun memiliki jenis individualitas yang berbeda pula.

Gesell membagi perbedaan individu dari segi perkembangan perilakunya ke dalam empat bidang yang berbeda-beda: perilaku motorik (gerakan tubuh, koordinasi, keahlian motorik khusus), perilaku adaptif (kesiagaan, kecerdasan, berbagai bentuk eksplorasi), perilaku bahasa (semua bentuk komunikasi), dan perilaku personal-sosial (reaksi-reaksi terhadap orang dan lingkungan). Memang dalam buku-buku populer yang ditulis untuk para orang tua, Gesell dan rekan-rekannya menggambarkan perilaku yang perlu diperhatikan oleh orang tua pada diri anak-anak mereka di berbagai jenjang usia terkait dengan keempat bidang ini. Bidang-bidang ini juga menjadi dasar ‘ujian penyaringan’ yang banyak digunakan orang tua untuk mengetahui status perkembangan anak-anak dari usia 1 hingga 6 bulan, yang disebut sebagai Denver Developmental Screen Test (DDST-II), yang disusun oleh Frankenburg dan Dodds (1992). Tes yang bisa diselesaikan orang tua dalam waktu sekitar 10 menit ini memberikan gambaran umum sekilas mengenai status anak dari segi keterampilan motorik-adaptif, motorik umum, personal-sosial, dan bahasa.

Dalam masing-masing dari empat bidang ini, lima prinsip umum perkembangan seperti yang dijelaskan di atas terus berfungsi, dengan kecepatan perkembangan individu yang berbeda-beda. Dalam diri anak terbentuk perpaduan yang utuh di mana keempat bidang tersebut berinteraksi dan pada saat yang sama dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan biologis yang terwujud melalui lima prinsip perkembangan tadi. Sudut pandang teoretik Gesell bisa diringkas sebagai berikut: Perkembangan anak dikendalikan sepenuhnya oleh prinsip-prinsip perkembangan yang ditentukan secara biologis dan menghasilkan urutan proses pematangan yang bersifat pasti. Pada gilirannya, proses pematangan ini memungkinkan terjadinya perwujudan perilaku. Meskipun anak-anak secara individual bergerak maju sesuai laju kecepatan mereka sendiri (dan kecepatan ini merupakan tanggapan tidak langsung terhadap rekayasa lingkungan), urutan proses perkembangan berlaku sama pada semua anak.

Pendekatan normatif Gesell didasarkan pada pengujian secara berulang-ulang terhadap anak-anak yang sama dalam jangka waktu lama (strategi longitudinal) untuk mendapatkan penjelasan usia yang khas dan untuk menguji kestabilan atau kesinambungan berbagai perbedaan individu. (Perbedaan individu dikatakan stabil bila seorang individu mempertahankan posisi yang relatif sama sepanjang periode tertentu dalam kadar tertentu dibandingkan dengan rekan-rekan sebayanya.) Gesell dan Thompson (1929, 1941) memperkenalkan metode penelitian kontrol kembar (co-twin control research mehod) yang sekarang dipandang sebagai metode klasik, di mana keduanya meneliti anak-anak kembar identik (dua anak yang berkembang dari sel telur yang sama, dan dengan begitu memiliki genotip atau riwayat genetik yang identik) untuk menjawab persoalan mengenai yang mana di antara kekuatan biologi (pematangan) atau pengalaman (pembelajaran) yang menjadi kekuatan pokok dalam perkembangan.

Dalam studi menggunakan metode ini, mula-mula dua anak kembar sama-sama diuji dalam hal perilaku tertentu, seperti berjalan atau menaiki tangga. Lalu, salah satu kembar diberi pelatihan khusus dalam perilaku tertentu, dan yang lainnya (yang bertindak sebagai kontrol atau kendali) dibiarkan untuk menjalani apa yang terdapat di lingkungannya secara alamiah. Kemudian kedua anak kembar itu sekali lagi dinilai perilakunya untuk melihat hasil akhirnya.

Gesell dan Thompson mendapati bahwa anak kembar yang menerima pelatihan (Kembar 1) memperlihatkan adanya pencapaian yang bertahap dan lambat dalam perilaku dimaksud, sementara anak kembar kontrol (Kembar 2) tidak menunjukkan pencapaian sama sekali. Kemudian ketika Kembar 2 mencapai usia di mana menurut ukuran kematangan ia diharapkan bisa mulai mempelajari perilaku tersebut, para peneliti akan memulai pelatihan intensif dengan si kembar itu. Hasil-hasil dari keduanya menunjukkan bahwa melalui pelatihan jangka pendek, Kembar 2 akan meraih tingkat penguasaan yang sama dengan Kembar 1 pada akhir masa eksperimen tidak ada perbedaan kemampuan di antara kedua anak itu. Berdasarkan hasil-hasil studi semacam itu, Gesell dan para rekannya mengambil kesimpulan bahwa pelatihan pada usia dini, sebelum seorang anak secara fisik cukup matang untuk bisa rnembuat pencapaian yang berarti dalam perilaku tertentu, hanya akan membuahkan sedikit konsekuensi pada hasil akhirnya. Kematangan merupakan faktor yang begitu berpengaruh dalam perkernbangan sehingga pembelajaran hanya akan mungkin terjadi apabila sarana pematangan atau struktur yang diperlukan untuk belajar juga berfungsi.

Gesell memberikan penekanan yang kuat terhadap basis biologis pada berbagai karakteristik, sehingga tidak mengherankan bila para peneliti perkembangan yang bekerja dengan orientasi Gesellian akan cenderung berpegang pada ide bahwa masing-masing individu memiliki tingkatan kecerdasan yang sudah tetap.

Pendirian Gesell bahwa perkembangan dikendalikan oleh faktor-faktor biologi mengandaikan adanya lingkungan yang normal. Dalam karyanya, Gesell tidak membahas persoalan mengenai lingkungan yang benar-benar penuh kekurangan, barang kali karena populasi subjeknya kebanyakan berasal dari keluarga kelas menengah pada umumnya. Kekuatan-kekuatan maturasional akan selalu muncul menjadi pemenang pada saat yang tepat. Ketika seorang anak tidak melakukan apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak seusianya, Gesell dan para rekannya menyarankan kepada para orang tua agar mereka tidak putus asa; bila diberikan waktu yang cukup memadai agar terjadi perkembangan kematangan, si anak akan mengembangkan perilaku yang tepat. Dengan demikian, ketika anak-anak tidak belajar, itu berarti bahwa mereka sekadar tidak siap belajar; ketika mereka sudah siap, mereka pun akan belajar. Upaya-upaya intervensi sebelum si anak siap tidak akan berhasil dan malah akan memunculkan rasa frustasi dan ketidakharmonisan antara orang tua, guru, dan anak.

Ribuan dokter ahli anak, guru, dan orang tua memperoleh pengaruh filsafat Gesell yang menyatakan bahwa waktu (atau proses pematangan) itulah yang akan menangani kebanyakan masalah perkembangan perilaku. Para pendukung filsafat ini pada umumnya memberi nasihat kepada para orang tua (yang kebanyakan merasa cemas karena ingin melihat anak-anak mereka mencapai keberhasilan sejak dini dalam kehidupannya) agar tidak mendesak anak-anak mereka. Mereka yakin bahwa kata kuncinya adalah kesiapan, sebagai penjelas mengenai anak yang belajar dan yang tidak belajar, dan bukan faktor-faktor lain yang ada di dunia sekitar anak, semisal pengajaran atau kebutuhan gizi. Jika anak dibiarkan, sebagian besar perilaku akan berkembang dengan sendirinya seiring terbentuknya struktur-struktur fisik yang diperlukan dan dengan demikian memungkinan terjadinya perkembangan. Kebanyakan anak-anak normal mencapai perkembangan perilaku tanpa adanya penanganan khusus.

Kesimpulannya, Gesell dan para rekanya memperkenalkan strategi penelitian kontrol kembar (co-twin control research method), di mana mereka mengkaji anak-anak kembar identik untuk mencari kejelasan tentang kedudukan pematangan (maturation) versus pembelajaran (learning). Hal itu dapat ditunjukkan dengan tabel di bawah ini:

Diterjemahkan dan di-resume dari:

Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher

Dipublikasi di Teori Perkembangan | Tag | 1 Komentar

EVALUASI KURIKULUM 2013

Oleh: Desyandri

Filsafat yang Mendasari

Landasan filosofis pendidikan adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam rangka studi dan praktek pendidikan. Melalui studi pendidikan antara lain diperoleh pemahaman tentang landasan-landasan pendidikan, yang akan dijadikan titik tolak praktek pendidikan. Dengan demikian, landasan filosofis pendidikan sebagai hasil studi pendidikan tersebut, dapat dijadikan titik tolak dalam rangka studi pendidikan yang bersifat filsafiah, yaitu pendekatan yang lebih komprehensif, spekulatif, dan normatif.

Kurikulum 2013 melandasi filsafatnya berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta NKRI yang tercantum dalam UU SPN. Secara umum tidak menjelaskan asumsi filosofis yang di dasarkan pada beberapa aliran filsafat yang mendasari penyempurnaan kurikulum tersebut. Tapi berikut ini akan dipaparkan beberapa pandangan dan paradigma dari beberapa aliran filsafat yang ditengarai menjadi dasar penyempurnaan kurikulum, setidaknya, secara garis besar ada empat aliraran filsafat yang melatarbelakangi, yakni:

  • Aliran Idealisme; adalah suatu pandangan tentang dunia atau metafisik yang menyatakan bahwa realitas dasar terdiri atas atau sangat erat hubungannya dengan ide, fikiran atau jiwa. Dunia difahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum fikiran dan kesadaran, dan tidak hanya oleh metode ilmu obyektif semata. Menurut idealisme, alam ini ada tujuannya, dan tujuan itu bersifat spiritual. Aliran idealisme mengakui nilai dan etika itu absolut. Kebaikan, kebenaran, dan keindahan itu tidak berubah dari generasi ke generasi lainnya. Nilai-nilai dan etika itu bukan buatan manusia, akan tetapi bagian dari hakikat alam itu sendiri.
  • Aliran Eksperimentalisme yang menyatakan bahwa hidup adalah tumbuh, atau mewujudkan diri atau disebut men-transenden. Di sini yang mentransenden itu merupakan alat dan tujuan, yang merupakan hasil proses dari kehidupannya.
  • Aliran Rekonstruksi Sosial-Budaya; mempunyai sikap terhadap perubahan tersebut bahwa mereka mendukung individu untuk mencari kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya dan pada saat ini. Aliran filsafat rekonstruktivisme dapat menjadi alat yang reponsif karena saat ini kita dihadapkan pada sejumlah permasalahan masyarakat yang berhubungan dengan ras, kemiskinan, peperangan, kerusakan lingkungan dan teknologi yang tidak manusiawi yang membutuhkan rekonstruksi/perubahan dengan segera.
  • Aliran Eksistensialisme menghendaki bahwa self/dirilah yang mentransenden dan hanya melalui suatu perbuatan memilih yang tidak didasarkan kepada kriteria mencari keuntungan. Dengan demikian pendidikan membantu individu untuk mampu berbuat memilih sesuatu yang berguna bagi kehidupannya. Manusia adalah kebebasan. Manusia tidak memperoleh kebebasan atau memilikinya, karena dia sendiri adalah kebebasan.

Kekurangan Kurikulum 2013

Berikur ini dikemukakan beberapa kekurangan kurikulum 2013, yakni:

  1. Penyempurnaan dan kurikulum 2013 terkesan tergesa-gesa tanpa dibarengi dengan perencanaan dan pemikiran yang bulat. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa alasan, yakni: (1) KTSP yang digulirkan Tahun 2006, yang belum sempat dilaksanakan dengan tuntas, tiba-tiba dengan bergantinya menteri berganti pula kurikulum; dan (2) penyediaan buku ajar atau buku pelajaran dalam waktu yang relatif pendek. Dapat dibayangkan hasil sebuah pekerjaan yang dikerjakan tergesa-gesa, hal ini paradox dengan motto kurikulum 2013 yang berbasis “science”, dan jika dicermati buku-buku yang diproduksi secara sentralistik, tidak sesuai dengan perbedaan kemampuan, keahlian, dan perbedaan karakteristik masing-masing sekolah.
  2. Secara konseptual muatan kurikulum, sosialisasi, dan implementasinya, terdapat muatan yang tidak seimbang antara penguasaan keilmuan  dengan tuntutan untuk membangun sikap dan karakter peserta didik. Kurikulum dirancang dengan mengaitkan seluruh bidang keilmuan dengan keagamaan, dan ditambah lagi dengan penguasaan pendidikan moral dan karakter. Hal ini, tentu berdampak pada kurangnya penguasaan kemampuan keilmuan dan terjadinya beberapa persoalan tentang perbedaan penjelasan secara keilmuan dengan religi. Kondisi ini memerlukan pemahaman yang mendalam.

Aspek Positif Kurikulum 2013

Terlepas dari kekurangan yang disampaikan sebelumnya, kurikulum 2013 memiliki aspek-aspek posirif dengan yang ditengarai dari beberapa aspek, sebagai berikut:

  • Aspek Konsep Dasar; Menyikapi dokumen penyempurnaan kurikulum 2013, secara konseptual kurikulum 2013 dicanangkan dengan memperhatikan kondisi ekonomi, politik, sosial, dan budaya, serta pesatnya perkembangan IPTEKS yang melanda seluruh lini kehidupan individu sampai pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi sepantasnya dilakukan penyempurnaan kurikulum.
  • Aspek Orientasi; secara konseptual terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara  kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge), serta tidak melepaskan diri nilai-nilai budaya, baik yang ada secara kedaerahan, maupun kebudayaan secara nasional.
  • Aspek Daya Saing; Penyempurnaan kurikulum dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang berada pada “peringkat bawah” dalam dunia internasional. Hal ini sejalan dengan amanat UU No 20 tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemempuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan KBK dan KTSP.
  • Pendekatan Tematik Integratif yang akan dikembangkan tentu sangat menarik untuk diperbincangkan. Sudah tidak ada lagi konsepsi mata pelajaran, sebab mata pelajaran sudah terintegrasi di dalam tema-tema. Jadilah temalah yang menentukan bukan lagi satuan-satuan mata pelajaran.

Kendala Implementasi

  • Struktural

Perubahan kurikulum ini terkesan mendadak, sebab dipersiapkan di tengah tahun ketika anggaran tahun berikutnya sudah memasuki pagu definitif. Oleh karena itu, maka terdapat sejumlah kesulitan untuk melakukan penambahan atau perubahan anggaran terkait dengan implementasi kurikulum baru.

  • Kultural

Kendala kultural berkaitan erat dengan sikap mental (mind set) manusia Indonesia yang melahirkan pola pikir, tindakan, dan kemampuan yang masih berada pada taraf yang belum memadai, baik itu pemerintah, guru-guru, dan tenaga kependidikan. Kendala kultural menjadi kendala bagi sekian banyak manusia Indonesia yang belum sampai pada tahapan kesadaran tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan pengembangan diri dalam menuju manusia yang profesional. Sehingga, membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan suatu perubahan, termasuk upaya untuk penyempurnaan kurikulum.

  • Teknis

Kendala teknis dalam pengimplementasian kurikulum 2013, ditengarai dari beberapa persoalan teknis sebagai berikut:

  1. Pelatihan Guru-guru; sistem peningkatan mutu melalui pelatihan, secara umum tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan pemahaman dan penguasaan yang didapatkan oleh guru-guru. Sehingga, permasalahan utama untuk merubah “mind set” guru-guru dalam menerapkan kurikulum yang baru dapat digmbarkan jauh dari harapan yang semestinya. Melihat teknis pelatihan guru-guru yang diberikan secara bersama-sama dalam jumlah yang banyak.
  2. Banyaknya Tuntutan Perangkat Pembelajaran; guru dijejali dengan segenap tugas untuk menyelesaikan perangkat pembelajaran. Sehingga waktu untuk mendidik menjadi berkurang dan tersita oleh pekerjaan administrasi yang sangat banyak dan melelahkan. Hal ini berdampak negatif terhadap pengembangan peserta didik
  3. Penyedian Buku Teks; buku merupakan kebutuhan vital sebagai pegangan guru dan murid dalam meningkatkan kemampuan keilmuan dan untuk belajar. Persoalan buku teks tidak bisa dipecahkan seketika. Pengadaan buku memerlukan proses panjang: dari penulisan draf naskah, pembacaan oleh reviewer, koreksi oleh editor bahasa, finalisasi naskah, layout, cetak, hingga distribusi.

Kemampuan Lulusan dalam Penguasaan Ilmu dan Teknologi

Kemampuan lulusan dalam penguasaan ilmu dan teknologi secara umum terlihat bahwa masih sangat jauh harapan apalagi untuk bersaing dengan dunia internasional. Hal ini dikemukakan dengan alasan; (a) guru disibukkan dengan urusan menyusun perangkat pembelajaran yang begitu rumit, sehingga tidak fokus untuk mendidik dan meningkatkan kemampuan keilmuan peserta didik; (b) penggabungan antara materi keilmuan dengan religi yang memiliki perbedaan yang substansial; dan (c) menjadikan mata pelajaran teknologi, informasi, komputer, dan bahasa Inggris ke dalam muatan lokal. Hal ini tentu menghalangi atau memperkecil peserta didik untuk mengembangkan keilmuan dan kemampuan menguasai teknologi, serta menjadikan mereka sulit untuk berkomunikasi secara internasional.

Dipublikasi di Kurikulum | Tag | 2 Komentar

EPISTEMOLOGI KULTURAL BAGI PENGEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN

Oleh: Desyandri

Kebutuhan terhadap Filsafat, khususya Epistemologi Kultural bagi Pengembangan Ilmu Pendidikan

Epistemologi kultural (pengaruh kebudayaan dalam pengetahuan atau pengertian manusia) sangat dibutuhkan oleh pendidikan. Jika dikaitkan dengan pendidikan secara umum dapat dikemukakan bahwa subjek pendidikan adalah manusia. Pendidikan membantu manusia untuk mengenal dan memahami dirinya, sesama, dan dunianya. Kesemuanya itu tidak terlepas dari pengaruh budaya. Dengan kata lain, pendidikan itu tidak lain adalah proses pembudayaan. Berikut dikemukakan beberapa alasan, yakni:

  1. Manusia/peserta didik sebagai makhluk budaya; implikasinya, pendidikan membantu membangun kemampuan mencipta, mengobjektivasi, menyerap, mengkritik, memperindah dunia, dan melestarikan lingkungan.
  2. Salah satu tujuan pendidikan, yakni untuk membantu peserta didik  memahami realitas di sekelilingnya, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ilmu-ilmu lainnya. Realitas secara niscaya dipengaruhi oleh kebudayaan, baik dari masyarakat di sekitarnya maupun kebudayaan yang lebih luas. Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya melalui hal-hal yang dekat dari dirinya. Hal ini sejalan dengan orientasi pendidikan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah hal yang dikonstruksikan peserta didik, yang terus-menerus direvisi.
  3. Pendidikan tidak hanya membantu pengembangan diri peserta didik sebagai individu, tetapi juga mampu menyiapkannya menjadi warga negara yang mampu berperan aktif dalam perubahan sosial budaya di masyarakat.
  4. Pendidikan sebagai pengetahuan normatif, mempelajari proses pengetahuan sedemikian rupa sehingga apa yang diklaim sebagai pengetahuan itu benar, dan pendidikan sebagai pengetahuan deskriptif, menggambarkan bagaimana manusia menafsirkan dirinya, sesama, dan dunianya.
  5. Praktik pendidikan yang cenderung berlandaskan pada orientasi yang menekankan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu yang dikonstruksikan manusia, yang terus menerus dapat direvisi; siswa diajak bersama dengan guru untuk mengkonstruksikan pengetahuan dari awal. Ini dapat dipandang sebagai peralihan dari positivisme ke konstrukstivisme.

Berdasarkan pandangan yang dikemukakan di atas, dapat disintesiskan bahwa pendidikan sebagai proses pembudayaan dan proses humanisasi, sangat membutuhkan perspektif filsafat khususnya epistemologi kultural. Epistemologi kultural mempertanyakan bagaimana proses dan pembenaran pengetahuan manusia, kajian filsafat tentang cara kerja ilmu kebudayaan atau kemanusiaan, dan dalam lingkungan pendidikan berkaitan secara khusus mempelajari bagaimana pendidik dan peserta didik memahami realitas yang secara niscaya dipengaruhi oleh kebudayaan, baik dari masyarakat di sekitarnya atau budaya secara luas.

Dipublikasi di Epistemologi Kultural | Tag | Tinggalkan komentar