PEMBUATAN GAMBAR DARI KERTAS BEKAS DENGAN TEKNIK KOLASE DI KELAS III SD
TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan
Memperoleh Gelar Ahli Madya Pendidikan (D-II)
OLEH
DEWI SASRINA
75810/06
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2009
HALAMAN PEERSETUJUAN UJIAN TUGAS AKHIR
Judul : Pembuatan Gambar dari Kertas Bekas Dengan Teknik Kolase di Kelas III SD
Nama : Dewi Sasrina
Nim : 75810
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
Fakultas : Ilmu Pendidikan UNP
Padang, Januari 2009
Mengetahui Disetujui Oleh :
Ketua Jurusan PGSD FIP UNP Pembimbing
Drs. Syafri Ahmad, M.pd Dra. Zainarlis
NIP.131 754 689 NIP. 130 527 514
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “PEMBUTAN GAMBAR DARI KERTAS BEKAS DENGAN TEKNIK KOLASE DI KELAS III SD”. Selawat beriringan salam penulis sampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW karena beliau yang telah membawa umat manusia dari alam kegelapan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Tugas Akhir ini penulis buat untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Diploma II di Jurusan PGSD, FIP, UNP.
Dalam penyelesaian Tugas Akhir ini, penulis mengalami banyak hambatan tetapi berkat bimbingan, saran, petunjuk, arahan, dorongan serta motivasi dari semua pihak, akhirnya tugas akhir ini mampu penulis rampungkan . Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
- Bapak Drs. Syafri Ahmad, S.Pd, M.Pd selaku ketua jurusan PGSD, FIP, UNP.
- Ibu Dr. Taufina Taufik, M.Pd sebagai ketua UPP III Bandar Buat.
- Ibu Dra.Zainarlis selaku dosen pembimbing dan telah banyak memberikan waktu dan pemikiran dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
- Ibu Dra.Tin Indrawati selaku dosen penasehat akademik yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan solusi kepada penulis.
- Bapak dan ibu dosen PGSD FIP UNP yang telah memberikan ilmu-ilmu kepada penulis.
- Teristimewa kepada kedua orang tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan dorongan moril maupun materil kepada penulis selama ini.
- Rekan-rekan seperjuangan yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu.
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas akhir ini.
Akhirnya penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan.
Padang, Januari 2009
Penulis
|
ii |
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN TUGAS AKHIR
HALAMAN PENGESAHAN LULUS UJIAN TUGAS AKHIR
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………….. iii
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah………………………………………………………………. 3
C. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………….. 3
D. Manfaat Penulisan………………………………………………………………. 3
II. KAJIAN TEORI
A. Pengertian Membuat Gambar ……………………………………………… 5
B. Pengertian Kolase……………………………………………………………….. 7
C. Unsur-unsur Rupa pada Kolase…………………………………………….. 7
D. Bahan- bahan Yang Digunakan Sebagai Bahan Kolase ……………… 13
E. Alat Yang Digunakan Dalam Teknik Kolase……………………………. 21
F. Pemanfaatan Kertas Bekas Sebagai Bahan Kolase ………………… 22
III. PEMBAHASAN
Pembuatan Gambar dari Kertas Bekas Dengan Teknik Kolase ……….. 23
IV. PENUTUP
A. Simpulan…………………………………………………………………………… 31
B. Saran……………………………………………………………………………….. 31
DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan selalu mendorong dan menciptakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai baru dalam masyarakat. Setiap individu dituntut untuk mampu berkarya, menciptakan lapangan kerja guna menyongsong hari depan yang lebih baik. Untuk itu diperlukan suatu keahlian khusus yang dapat diperoleh melalui pembelajaran, salah satunya adalah melalui pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan yang dapat diperoleh pada jenjang pendidikan.
Pada dasarnya semua kedudukan mata pelajaran di Sekolah Dasar itu sama pentingnya. Sebagai sarana pendidikan, pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan mempunyai banyak peranan terutama bagi tingkat perkembangan usia peserta didik Sekolah Dasar seperti tercantum dalam KTSP 2006 yaitu: “(a) Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan. (b) Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan. (c) Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan.(d) Menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional maupun global”.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan berbagai upaya terarah yang berkelanjutan. Oleh karena itu, dalam hal ini guru mempunyai peranan yang sangat penting agar terciptanya peserta didik yang kreatif dan produktif dalam keterampilan di bidang tertentu. Melalui pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan setiap peserta didik Sekolah Dasar dibekali dengan beberapa pengetahuan yang dapat membangkitkan daya kreativitas sehingga dapat menghasilkan berbagai karya seni yang kreatif pula. Menurut Sumanto (2006:9) menyatakan bahwa: “Kreativitas berkarya diartikan sebagai kemampuan menemukan, menciptakan, mambuat, merancang dan memadukan suatu gagasan baru maupun lama menjadi kombinasi baru dengan didukung kemampuan terampil yang dimilikinya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa kreativitas merupakan bentuk keterampilan yang dapat dilahirkan atau diwujudkan pada suatu bentuk hasil pemikiran berupa kreasi. Dengan hasil karyanya seseorang akan terpuaskan keinginannya, bahkan dapat memberikan kepuasan tersendiri kepada orang lain. Untuk menjadi seseorang lebih kreatif, dibutuhkan suatu proses agar seseorang itu dapat menjadi lebih aktif untuk memunculkan ide-ide kreatifnya melalui pembelajaran.
Melalui pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di Sekolah Dasar, peserta didik dapat menghasilkan berbagai macam karya seni yang kreatif dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tidak memakan biaya yang terdapat di lingkungan sekolah dan tempat tinggal, seperti: kertas bekas, kain perca, serutan kayu, bekas potongan logam, kulit, batok kelapa, biji-bijian, bekas potongan keramik, batu, daun kering dan lain sebagainya.
Namun pada kenyataannya, setelah penulis melakukan observasi di SDN Lubuk Kilangan Padang, pada tanggal 8 April 2008, penulis melihat guru lebih cendrung menggunakan bahan yang dibeli di pasaran, sehingga peserta didik harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan. Selain itu peserta didik menjadi tidak kreatif dan kurang termotivasi untuk memanfaatkan barang-barang bekas. Dalam pembelajaran membuat gambar dengan teknik kolase guru dapat menggunakan barang-barang bekas yang tidak mengeluarkan biaya.
Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka penulis berkeinginan untuk membuat suatu tulisan yang mengangkat judul: “Pembuatan Gambar dari Kertas Bekas dengan Teknik Kolase di kelas III SD”
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah: Bagaimana pembuatan gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase di kelas III SD?
C. Tujuan Penulisan
Berkaitan dengan rumusan masalah di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah: untuk mendeskripsikan pembuatan gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase di kelas III SD.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan tugas akhir ini adalah:
a. Dapat dijadikan petunjuk bagi guru-guru Sekolah Dasar baik yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri maupun Swasta dalam pembelajaran mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan.
b. Dapat dijadikan pedoman bagi guru dan calon guru Sekolah Dasar terutama yang mengajar pada bidang studi Seni Budaya dan Keterampilan khususnya Pembelajaran Seni Rupa.
c. Dapat menambah koleksi perbendaharaan ilmu pengetahuan terutama yang menyangkut dengan Seni Budaya dan Keterampilan pada perpustakaan Universitas Negeri Padang.
II. KAJIAN TEORI
A. Pengertian Membuat Gambar
Membuat gambar atau menggambar merupakan kegiatan berekspresi yang cukup populer. Menggambar merupakan media berekspresi dan berkomunikasi yang dapat menciptakan suasana aktif, asyik, dan menyenangkan. Gambar merupakan perwujudan benda alam dalam lambang visual dalam bentuk dua dimensi(Muharam dan Warti 1992:95).
Ada beberapa pendapat, mengenai pengertian menggambar antara lain seperti yang diungkapkan Sumanto (2006:13), menyatakan bahwa: “Menggambar adalah proses membuat gambar dengan cara menggoreskan benda-benda tajam (seperti:pensil atau pena) pada bidang datar (misalnya: permukaan papan tulis, kertas atau dinding)”
Pengertian serupa juga diungkapkan oleh Francis (2005:1) mengemukakan bahwa: “menggambar adalah membuat guratan di atas sebuah permukaan yang secara grafis menyajikan kemiripan mengenai sesuatu.
Selanjutnya Kamaril (2001:4.5) meyatakan bahwa: “menggambar dan melukis mempunyai pengertian suatu usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran, ide/ gagasan, gejolak/ perasaan maupun imajinasi dalam wujud dwi matra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna” .
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menggambar adalah proses membuat gambar dengan cara menggoreskan pena, pensil, crayon, kapur di atas bidang datar, yang hasilnya mengutamakan unsur garis yang lahir dari pikiran dan perasaan.
B. Pengertian Kolase
Kata kolase yang dalam bahasa Inggris disebut `collage’ berasal dari kata `coller’ dalam bahasa Perancis yang berarti `merekat’ (http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp)
Susanto yang dikutip dari http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp menyatakan bahwa “ kolase adalah suatu teknik menempel berbagai macam materi selain cat, seperti kertas, kain, kaca, logam dan lain sebagainya kemudian dikombinasi dengan penggunaan cat atau teknik lain”.
Pengertian serupa juga diungkapkan oleh Sumanto (2006:95) mengungkapkan bahwa: “kolase adalah kreasi aplikasi yang dibuat dengan menggabungkan teknik melukis (lukisan tangan) dengan menempelkan bahan-bahan tertentu.
Selanjutnya Tim Bina Karya Guru (2006:38) menyatakan bahwa: “kolase adalah melukis dengan cara menempel atau merekat”.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kolase merupakan teknik mendekorasi permukaan suatu benda dengan menempelkan materi seperti kertas, kaca, kain, daun kering dan sebagainya kemudian dikombinasikan dengan teknik melukis dengan tangan yang menggunakan cat.
Seni kolase berkembang pesat di Perancis, Inggris, Jerman dan kota-kota lain di Eropa. Menurut para ahli diperkirakan kegiatan ini bermula di Venice, Italia kira-kira pada abad 17 ketika kota Venice menjadi terdepan dalam hal percetakan di Eropa.
Perkembangan kolase kemudian secara kreatif dimanfaatkan sebagai unsur estetik yang personal dalam sebuah karya lukis. Kolase menjadi media yang digemari oleh kalangan seniman dunia. Pablo Picasso,George Braque dan Max Ernest terkenal dengan karya-karya lukisnya yang memanfaatkan kolase kertas, kain dan berbagai objek lainnya. Henri Mattise adalah salah satu seniman yang giat berkreasi dalam kolase, ketika jari-jari tangannya terserang arthritis hingga tak mampu melukis lagi. Mattise beralih ke kolase, ia memotong-motong kertas warna dalam ukuran besar dengan berbagai bentu hingga tercipta mural kertas yang indah ( http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp).
C. Unsur-unsur Rupa pada Kolase
Ida (1997:91) mengatakan bahwa: “unsur-unsur seni rupa meliputi: garis, bentuk, warna, tekstur, ruang dan cahaya”. Lebih lanjut akan di uraikan di bawah ini:
1. Garis
Di bidang matematika garis diartikan sebagai rangkaian titik-titik atau titik-titik yang berkelanjutan. Garis yang diamati pada karya seni rupa ada yang nyata jelas kelihatannya ada yang bersifat kesan.
Garis nyata adalah garis yang mudah dikenal seperti garis lurus, garis lengkung, garis bergelombang dan sebagainya. Sedangkan garis kesan atau garis pengikat pada hakekatnya garis ini tidak ada, tidak jelas dan secara tergambarkan tidak terlihat. Garis ini lebih merupakan ilusi atau sugesti, seperti terdapat pada batas-batas luar suatu bentuk atau ruang , batas bidang dan antara batas warna.
2. Bentuk
Bidang adalah perpaduan atau perpotongan garis dengan garis. Sedangkan bentuk adalah perpaduan atau perpotongan bidang dengan bidang. Bentuk juga ada yang mempunyai sifat nyata dan bersifat kesan. Bersifat nyata jika terdapat pada karya tiga dimensi misalnya kelihatan bulat diraba juga terasa bulat dan bersifat kesan jika bentuk tersebut terdapat pada karya seni rupa dua dimensi.
3. Warna
Warna adalah salah satu unsur seni rupa yang paling mudah ditangkap oleh indra mata. Warna-warna yang bervariasi mempunyai karakter dan mengesankan suasana yang berbeda, misalnya warna merah kuning dapat menimbulkan kesan yang mempunyai daya kekuatan panas, dan penuh bersemangat. Disamping itu karakter warna juga dapat dilihat dari tebal atau tipisnya warna yang berbeda atau luas bidang warna yang berbeda.
4. Tekstur
Tekstur adalah sifat permukaan pada suatu benda. Sifat bahan ada yang nyata ada pula yang bersifat kesan. Pada lukisan tekstur bersifat kesan karena setelah diraba ternyata halus. Tekstur yang nyata jika kelihatan menonjol atau kasar maka kalau diraba akan benar-banar akan terasa menonjol atau kasar contohnya seni patung atau relief.
5. Ruang
Ruang dibentuk oleh adanya masa, bentuk yang diubah/disusun. Ruang bagi pelukis lebih merupakan suatu khayalan karena dia bekerja dengan bentuk dua dimensi. Sebaliknya ruang bagi pemahat dan arsitek lebih banyak merupakan suatu kenyataan yangdiperlukan karena ia bekerja dengan bentuk tiga dimensi.
6. Cahaya
Cahaya juga mempunyai unsur nyata dan unsur kesan. Unsur nyata jika sumber cahaya itu benar-benar berasal dari benda seperti lampu, matahari, api dan sebagainya. Unsur kesan jika cahaya itu hanya tampak sebagai gambaran, misalnya cahaya pada lukisan, gambar dan foto.
Sedangkan http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp menyatakan bahwa: ”unsur-unsur rupa pada kolase antara lain: titik dan bitik, garis, bidang, warna, bentuk dan tekstur”. Lebih lanjut akan dijelaskan di bawah ini:
1. Titik dan bintik
Titik adalah unit unsur rupa yang terkecil yang tidak memiliki ukuran panjang dan lebar, sedangkan bintik adalah titik yang sedikit lebih besar. Unsur titik pada kolase dapat diwujudkan dari butiran-butiran pasir laut. Sedangkan bintik dapat diwujudkan dari biji lada atau biji-bijian yang berukuran kecil dan sejenisnya.
Gambar 1.1
|
(Sumber:http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp)
|
|
Unsur titik dan bintik pada kolase yang terbuat dari pasir laut, lada, kedelai,
|
2. Garis
Garis merupakan perpanjangan dari garis yang memiliki ukuran panjang namun relatif tidak memiliki lebar. Ditinjau dari jenisnya garis dapat dibedakan menjadi : garis lurus, garis lengkung, garis putus-putus dan garis spiral. Unsur garis pada kolase dapat diwujudkan dari potongan kawat, lidi, batang korek, benang dan sebagainya.
Gambar 1.2
|
Unsur garis pada kolase yang, terbuat dari benang, seperti garis lurus, lengkung, patah-patah, dsb. |
|
(Sumber:http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp) |
3. Bidang
Bidang merupakan unsur rupa yang terjadi karena pertemuan beberapa garis. Bidang dapat dibedakan menjadi bidang horizontal, vertical, melintang. Aplikasi unsure bidang pada kolase bisa berupa bidang datar dan bidang bervolume.
Gambar 1.3
|
(Sumber:Child craft 1972 dikutip dari : http: http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp)
|
|
Unsur bidang pada kolase yang terbuat dari beragam sobekan kertas, tiket, prangko
|
4. Warna
Warna merupakan unsur rupa yang penting dan salah satu wujud keindahan yang dapat diserap oleh indra penglihatan manusia. Unsur warna pada kolase dapat diwujudkan dari unsur cat, pita/renda, kertas warna, kain warna-warni dan sebagainya.
Gambar 1.4
|
(Sumber:http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp) |
|
Unsur warna pada kolase yang terbuat dari art paper warna merah, kuning, hijau abu-abu. |
5. Bentuk.
Bentuk dalam pengertian dua dimensi berupa gambar yang tidak bervolume, sedangkan dalam pengertian tiga dimensi adalah unsur rupa yang terbentuk karena ruang dan volume. Unsur bentuk pada kolase dapat berupa simetris dan aisimetris yang diwujudkan melalui guntingan kertas atau sobekkan kertas dan kain yang berbentuk segitiga , daun kering yang di gunting dengan bentuk belah ketupat, uang logam yang berbentuk bulat , serutan kayu dan sebagainya
Gambar 1.5
|
(Sumber:http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp)
|
|
Macam-macam unsur bentuk pada kolase kancing dan gesper
|
6. Tekstur
Tekstur merupakan nilai atau sifat atau karakter permukaan dari suatu benda seperti: halus, kasar, bergelombang, lembut, lunak, keras dan sebagainya. Tekstur secara visual dapat di bedakan menjadi tekstur nyata dan tekstur semu. Unsur tekstur nyata kolase dapat berupa kapas, karung goni, kain sutra, sabut kelapa, karet busa, dan lainnya. Sedangkan tekstur semu berupa hasil cetakkan irisan belimbing, tekstur koin di kertas, tekstur anyaman bambu di kertas dan sebagainya.
Gambar 1.6
|
(Sumber:Grigg,Rubena.,2000 dikutip dari :http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp)
|
|
Unsur tekstur nyata pada kartu dengan hiasan kolase dari daun kering.
|
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur rupa pada kolase antara lain titik dan bitik, garis, bidang, warna, bentuk dan tekstur. Pada gambar kolase cahaya gelap terang diaplikasikan melalui penggunaan teknik melukis dengan tangan yang menggunakan cat.
D. Bahan-bahan Yang Digunakan Sebagai Bahan kolase
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikarang Amran (1995:50) mengemukakan bahwa: “bahan adalah barang yang hendak dijadikan barang lain yang baru”.Pengertian serupa juga diungkapkan oleh Poerwadarminta (1993:56) mengungkapkan bahwa: “bahan adalah barang yang akan dijadikan barang lain”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bahan adalah barang yang akan dijadikan barang lain yang baru. Seperti: karet diolah menjadi ban, kertas bekas yang digunakan menjadi gambar kolase dan sebagainya.
Sumanto (2006:94) menyatakan bahwa:
“bahan kolase bisa berupa bahan alam, bahan buatan, bahan setengah jadi, bahan jadi, bahan sisa atau bekas dan sebagainya. Misalnya kertas koran, kertas kalender, kertas berwarna, kain perca, benang, kapas, plastik, sendok eskrim, serutan kayu, serutan pensil, kulit batang pisang kering, kerang, elemen elekronik, sedotan minuman, tutup botol dan sebagainya”.
Selanjutnya menurut http:www.e-dukasi.net/pengpop/pp bahan kols dapat dikelompokkan menjadi: 1) bahan-bahan alam (daun, ranting, bunga kering, kerang, batu-batuan), 2) bahan-bahan olahan (plastik, serat sintetis, logam, karet), 3) bahan-bahan bekas (majalah bekas, tutup botol, bungkus permen atau coklat).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkam bahan-bahan yang dapat dijadikan sebagai bahan membuat gambar dengan teknik kolase antara lain: a) bahan alam (kulit batang pisang kering, daun, ranting dan bunga kering, kerang, batu batuan), b) bahan olahan (kertas berwarna, kain perca, benang, kapas, plastik sendok es krim, sedotan minuman, logam, karet), c) bahan bekas (kertas koran, kalender bekas, majalah bekas, tutup botol, bungkus makanan).
Sedangkan untuk bahan-bahan yang tidak memakan biaya yang dapat dijadikan sebagai bahan membuat gambar dengan teknik kolase antara lain: kertas bekas, daun kering, kulit, kain perca, biji-bijian, bekas potongan kaca, serutan kayu, unsur kelapa, bekas potongan logam,bekas potongan keramik, dan sebagainya.
Soemarjadi (2001:160) menyatakan bahwa: “Tiap-tiap bahan mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan kualitas bahan tersebut. Oleh karena itu, karakteristiknya berbeda maka yang perlu di perhatikan bahwa pengolahan, pengawetan bahan, perekat, yang di pakai untuk tiap bahan memerlukan perlakuan yang khusus”.
Di bawah ini akan diuraikan secara rinci.
a. Pengolahan Bahan
Masing-masing bahan akan berbeda cara pengolahaanya agar dapat di jadikan elemen kolase antara lain:
1.Serutan Kayu
Untuk bahan kolase dapat digunakan serutan kayu yang harus dikeringkan dahulu. Hal ini dimaksudkan agar warnanya tidak berubah.. Kemudian serutan kayu dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang diinginkan dan siap untuk ditempel.
2.Kaca
Kaca yang digunakan adalah bekas potongan kaca yang biasa didapat di tempat orang yang memasang bingkai untuk gambar pajangan yang sudah tidak digunakan lagi. Agar kaca berwarna,dapat dipakai kaca yang biasa yang dicat dengan synthetic high gloss merk Platone, ICI, Sun Rise dan lain-lain. Kalau pemotong kaca tidak ada, kaca dapat dibentuk dengan cara mengetok atau menghempaskan ke atas permukaan yang keras. Dengan cara ini akan diperoleh ukuran kaca yang tidak teratur dan tidak sama besar. Tapi dalam pengolahan kaca diharapkan agar berhati-hati agar tidak terluka.
3. Batu
Batu yang cocok adalah batu akik, karena batu akik memiliki bermacam-macam warna. Kemudian diasah sehingga warnanya akan kelihatan lebih cemerlang.
4. Logam
Untuk kolase sebaiknya dipilih bekas-bekas logam yang mudah didapat seperti: seng, kuningan dan aluminium. Plat logam dapat dipotong-potong dengan ukuran yang dikehendaki, kemudian baru didatarkan ke bidang dasar kolase.
5. Keramik
Warnanya cukup banyak. Untuk keperluan membuat kolase dapat digunakan bekas potongan keramik untuk lantai rumah. Bahan ini dapat dipotong-potong, sesuai ukuran yang dikehendaki.
6. Tempurung (batok kelapa)
Untuk bahan kolase sebaiknya dipilih tempurung dari kelapa setengah tua sampai kelapa tua. Kemudian dibersihkan dari serat-serat sabut itu dihaluskan dengan ampelas dan setelah halus baru dipotong dengan ukuruan yang dikehendaki.Tempurung dapat dipotong-potong dengan gergaji besi sesuai dengan ukuran yang dikehendaki
7. Biji-Bijian
Biji-bijian diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, biji-bijian ini banyak pula macamnya, demikian pula bentuk, ukuran, warna dan teksturnya. Biji-bijian ini hendaknya dikeringkan terlebih dahulu, agar warnanya tidak berubah lagi demikian pula penyusutannya. Bila perlu dapat pula direndang (digoreng tanpa minyak).
8. Daun-daunan
Daun-daunan adalah bahan kolase yang sangat mudah diperoleh. Untuk dijadikan bahan kolase, diambil daun kering atau daun yang sudah gugur. Pilihlah warna daun kering yang berbeda-beda agar dalam penyusunannya menjadi sebuah lukisan atau desain akan lebih mudah.
9. Kulit-kulitan
Kulit-kulit berasal dari kulit buah dan kulit batang tumbuh-tumbuhan. Tidak semua kulit buah dapat dijadikan bahan kolase, demikian pula dengan kulit batang, kulit salak, kulit kacang tanah, kulit jeruk, kulit rambutan. Kulit batang yang dapat dijadikan kolase diantaranya: rambutan. Kulit pisang, kelopak bambu. Semua kulit-kulitan haruslah dikeringkan dahulu sebelum dipakai sebagai bahan kolase. Kemudian dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
10.Kertas Bekas
Kata kertas dalam bahasa inggris disebut “paper” dalam bahasa Belanda dinamakan “papier”. Kata ini berasal dari bahasa yunani “papyrus” yakni sejenis tanaman air, banyak dipakai orang Mesir sebangai bahan untuk tulis-menulis. Kertas dibuat untuk bermacam-macam keperluan seperti: alat tulis kantor, pembungkus, pendidikan (buku-buku), dekorasi, dan berbagai keperluan lainnya. Untuk bahan kolase tentu dipilih kertas yang berwarna. Kertas berwarna bermacam-macam pula jenis dan kegunaanya. Semua kertas berwarna pada dasarnya dapat dijadikan bahan kolase. Kertas-kertas bekas sampul, majalah, poster-poster, almanak-almanak, kemasan rokok atau kemasan produk-produk industri dapat pula di pakai sebagai bahan kolase. Dalam pemakaian, kertas dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang di kehendaki.
Muharam (1992:27-28) menyatakan bahwa:
“Sifat-sifat kertas antara lain: a).dapat dibakar dengan mudah, b).dapat meyeram air, c). dapat dilipat ke segala arah, d). dapat dipotong dengan gunting maupun pisau, e). dapat dirobek dengan tangan, f). dapat direkat dengan lem, g). dapat ditoreh dengan benda runcing tumpul,h). dapat digulung dengan mister i). Dapat diremas dengan tangan,j). dapat ditusuk dengan jarum atau benda runcing lain, k). dapat disambung dengan jepretan, l).dapat dijepit dengan jepitan kertas, m). dapat dilubangi dengan alat khusus.”
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kertas pada dasarnya mudah digarap dengan berbagai macam cara, sehingga sangat cocok digunakan sebagai elemen kolase.
Makalah ini penulis buat lebih lanjutnya hanya akan membahas tentang kertas bekas sebagai bahan kolase.
b.Bahan Perekat dan Teknik Penempelan Elemen Kolase
Bahan perekat yang dipakai ditentukan oleh jenis bahan yang akan direkatkan. Selain itu juga ditentukan oleh teknik merekat bahan tersebut pada bidang dasar kolase. Soemarjadi (2001:163) menyatakan bahwa: “Ada dua teknik dasar merekatkan yakni: Teknik penempelan dan teknik pengecoran”.
1. Teknik Penempelan
Teknik penempelan dilakukan dengan cara menempelkan elemen kolase dengan bahan perekat kertas bidang dasar kolase. Ada beberapa jenis perekat yang tersedia dipasaran antara lain:
a) Aica Aibon
Lem sintesis merek Aica Aibon adalah sejenis lem yang dapat menempelkan langsung benda pada permukaan bidang dasar. Lem ini dapat dengan cepat mengeras, sehingga benda yang ditempelkan akan cepat tertempel dengan kuat. Lem ini di pasang dijual dalam kemasan kaleng dan tube. Semua dapat ditempelkan dengan menggunakan lem ini.
Teknik penempelannya adalah sebagai berikut: sediakan dasar berupa lembaran tripleks/karton tebal sesuai dengan ukuran yang dikehendaki, Kemudian Teteskan lem ke atas bidang dasar, kemudian ratakan dengan sudip plastik. Oleh karena lem ini cepat mengeras maka bidang yang diberi lem pada tiap tahap saja. Setelah lem mengering lalu ditempelkan elemen kolase ke atas bidang dasar yang sudah diolesi lem. Ulangi proses itu sampai kolase selesai.
Lem lain yang sejenis dengan lem merek ini adalah: cap banteng dan cap kambing . bila lem sintetis ini sulit diperoleh sebagai gantinya dapat di pakai lem kulit (ancur).
b) Glukol/ Teakol
Glukol/ Teakol adalah lem yang dibuat khusus untuk kertas. Lem ini dikemas di dalam botol plastik. Keistimewaan lem ini adalah daya rekatnya yang tinggi dan dapat disimpan dalam jangka waktu lama dalam keadaan tidak mengeras dan tidak membusuk (rusak)
Teknik perekatan elemen kolase dengan lem ini adalah: siapkan selembar tripleks atau karton tebal (minimal 2 mm) sebagai bidang dasar kertas dasar kolase, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki, kemudian gunting kertas berwarna yang telah disiapkan sesuai dengan potongan, setelah itu pindahkan desain kolase ke bidang dasar, kemudian sapukan lem rakol keatas bidang dasar sebagian demi sebagian, kemudian ambil potongan-potongan kertas dengan jarum dan tempelkan ke atas bidang tersebut. Lakukan proses tersebut sampai semua bidang kolase terisi penuh.
Bila lem Terakol/ Glukol sulit diperoleh, dapat diganti dengan lem yang dibuat dari tepung tapioca yang dicampur dengan air ditambah sedikit cuka lalu dipanaskan sambil diaduk. Setelah panasnya cukup maka pasta lem akan berubah menjadi bubur kanji yang kenyal
c) Rakoll
Lem merek Rakoll adalah lem sintesis yang di buat khusus untuk industri mebel. Lem ini berbentuk pasta (cairan kental) berwarna putih. Dijual dalam kemasan botol plastik, isi bersih 1 kg.
Teknik perekat elemen kolase dengan lem Rakoll: Disiapkan selembar tripleks bidang dasar kolase, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki, kemudian buat potongan kayu berbentuk sesuai dengan pola, seterusnya Celupkan setengah bagian kubus ke dalam cairan lem, kemudian tempelkan ke atas permukaan bidang dasar. Penempatan elemen kolase hendaklah sesuai dengan yang dibuat.
2. Teknik Pengecoran
Teknik pengecoran dilakukan dengan cara menyusun elemen kolase pada selembar kertas kemudian setelah selesai diletakkan dalam sebuah bingkai, lalu di cor dengan bahan semen. Semen adalah bahan khusus untuk pengecoran batu kali, porselen, dan bahan bangunannya lainnya. Semen dikemasan dalam kantong-kantong kertas dengan berat bersih 40 kg. Dalam pemakaiannya semen dapat dicampur dengan pasir, kerikil dan air. Untuk kerajinan kolase, semen dapat dipakai sebagai dasar kolase atau sebagai perakat elemen kolase seperti keramik, kaca, batu dan elemen keras lainnya.
E. Alat Yang Digunakan dalam Teknik Kolase
Amran (1995:22) mengemukan bahwa: “alat atau perkakas adalah sesuatu yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu”. Pengertian serupa juga di ungkapkan Poerwadarminta (1993:5) menyatakan bahwa: “alat adalah barang yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa alat adalah barang yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu, seperti gunting untuk menggunting kertas, gergaji untuk memotong kayu dan sebagainya. Jenis- jenis alat yang dipakai dalam pembuatan kolase tergantung kepada macam-macam bahan itu sendiri seperti: gunting kain atau kertas, gunting seng, gergaji kayu, gergaji besi, kakak tua, pisau, sendok semen, pemotong kaca, ember plastik, jarum bertangkai, sudip plastic.
- Pemanfaatan kertas bekas sebagai bahan kolase
Keberadaan kertas bekas seperti: koran bekas, majalah bekas, kalender bekas dan sebagainya di sekitar rumah sering kali dianggap mengganggu kebersihan dan kenyamanan hidup. Semua ini benar adanya jika barang-barang tersebut dianggap hanya limbah yang tidak berguna, tapi lain halnya jika kita dapat memanfaatkan barang-barang tersebut menjadi kreasi yang menarik, salah satunya akan menghasilkan kreasi gambar yang dibuat dengan kolase.
Melalui pembuatan gambar dengan teknik kolase, pemanfaatan kertas bekas sebagai bahan kolase bertujuan untuk memudahkan siswa karena kertas bekas mudah didapat di lingkungan sekitar tempat tinggal dan tidak memakan biaya.
III. PEMBAHASAN
Pembuatan Gambar dari Kertas Bekas dengan Teknik Kolase
Teknik kolase yang akan dibuat adalah membuat gambar dengan teknik kolase dari kertas bekas seperti koran bekas, mejalah bekas, dan kalender bekas. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Proses Persiapan Bahan dan Alat
a. Alat, dalam proses membuat gambar dengan teknik kolase alat harus disiapkan. Alat yang akan digunakan adalah kertas dan pensil untuk membuat gambar,gunting untuk memotong kertas, lem untuk merekat, spidol hitam dan merah untuk menggambar wajah dan karton jerami.
b. Bahan, bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan gambar dengan teknik kolase adalah kertas bekas. Kertas bekas yang digunakan adalah kertas koran bekas, majalah bekas, dan kalender bekas
2. Langkah-langkah Pelaksanaan Pembuatan Gambar dari Kertas Bekas Dengan Teknik Kolase
Langkah-langkah pembuatannya adalah sebagai berikut:
1. Rancanglah gambar/motif yang akan dijadikan gambar kolase.
Gambar 2.1
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
2. Pindahkan gambar/motif tersebut dengan menggunakan karbon, pada kertas putih dan karton jerami. Gambar/motif pada karton jerami digunakan untuk motif dasar yang akan di tempel dengan kertas bekas, sedangkan gambar pada kertas putih digunakan sebagai pola.
3. Gunting gambar yang di kertas putih sesuai dengan pola
Gambar 2.2
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
4. Gunting kertas bekas yang akan ditempel sesuai dengan bagian-bagian/ pola yang ada, dengan cara: dempetkan pola pada kertas bekas, kemudian gunting kertas bekas sesuai dengan bentuk pola
Gambar 2.3
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
5. Setelah seluruh kertas bekas digunting sesuai dengan pola yang ada, susun sementara bagian-bagian yang telah digunting diatas gambar dasar (gambar pada karton jerami)
6. Mulailah menempelkan bagian leher pada gambar dasar dengan cara oleskan lem dengan merata pada bagian yang akan ditempel kemudian tempelkan bagian lehernya.
Gambar 2.4
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
7. Tempelkan bagian kepala pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2.5
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
8. Kemudian tempelkan bagian kedua kuncir pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2.6
(Sumber: revi devi paat, 2008)
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
9. Tempelkan bagian rambut depan pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2.7
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
10. Selanjutnya tempelkan bagian kedua kaki pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2.8
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
11. Tempelkan bagian sepatu di ujung kaki pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2.9
12.
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
13. Kemudian tempelkan bagian kedua lengan pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2.10
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
14. Tempelkan bagian baju pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2.11
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
15. Selanjutnya tempelkan bagian kerah pada baju seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 2 .12
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
16. Gambarlah wajah ( mata, hidung dan mulut) dengan menggunakan spidol hitam untuk mata dan hidung, spidol merah untuk mulut.
Gambar 2.13
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
DAFTAR RUJUKAN
Chaniago Amran. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia
Ching, Francis .D.K. 2005. Menggambar Sebuah Proses Kreatif. Jakarta: Erlangga
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Badan Standar
Nasional Pendidikan
http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp. ( diakses tanggal 23 mei 2008)
Cat Kamaril. 2001. Pendiddikan Seni Rupa / Kerajinan Tangan. Jakarta: Depdiknas
Muharam dan Wati Sundaryati. 1992. Pendidikan kesenian II Seni Rupa. Jakarta: Depdikbud
Revi Devi Paat. 2008. Boneka Kolase. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Poerwadarminta. 1993. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Ida Siti Herawati, dkk. 1997. Pendidikan Kesenian. Jakarta: Depdikbud
Sumanto. 2006. Pengembangan Kreatifitas Seni Rupa Anak Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas
Sumarjadi. 2001. Pendidikan Keterampilan. Jakarta: Erlangga
Tim Bina Karya Guru. 2006. Seni Budaya dan Keterampilan Untuk Kelas I SD. Jakarta: Erlangga
Lampiran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Seni Budaya dan Keterampilan
Kelas/Semester :III/ 2
Alokasi Waktu : 1x pertemuan
I. Standar Kompetensi
Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa
II. Kompetensi Dasar
Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa dua dimensi dengan teknik menempel (kolase)
III. Indikator
Membuat gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase
IV. Tujuan Pembelajaran Khusus
A. Melalui penjelasan guru dan tanya jawab, siswa dapat mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam membuat gambar dengan teknik kolase dengan tepat
B. Melalui pemberian tugas, siswa dapat membuat satu buah gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase
V. Dampak Pengiring
A. Keaktifan
B. Percaya diri
C. Kretifitas
D. Tanggung jawab
VI. Materi Pokok
Pembuatan gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase
VII. Metode
A. Tanya jawab
B. Ceramah
C. Demonstrasi
D. Pemberian tugas
VIII. Kegiatan pembelajaran
A. Kegiatan awal
1. Menyiapkan kondisi kelas
2. Berdoa
3. Mencek kehadiran siswa
4. Apersepsi: Guru memajang gambar kolase yang sudah selesai dibuat.
5. Tujuan pembelajaran: Siswa dapat membuat gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase
B. Kegiatan inti
1. Siswa menyebutkan bahan-bahan lain yang tidak mengeluarkan biaya yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan gambar dengan teknik kolase
2. Siswa tanya jawab tentang bagaimana cara pembuatan gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase.
3. Siswa dibagikan 2 buah gambar boneka kepada siswa. Pertama gambar/motif yang ada di karton jerami dan yang kedua gambar kertas putih.
4. Siswa membuat gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase dari bahan dan alat yang telah mereka persiapkan dari rumah sesuai dengan gambar/motif yang diberikan guru.
5. Siswa dibimbing guru dalam pembuatan gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase.
C. Kegiatan akhir
1. Setelah siswa mengumpulkan gambar kolase, guru dan siswa menilai gambar secara bersama-sama di kelas.
2. Di bawah bimbingan guru siswa menyimpulkan pelajaran
IX. Media dan Sumber
A. Media
1. Gambar boneka kolase yang sudah selesai
2. Gambar boneka kolase yang belum di buat
3. Lem
4. Kertas bekas
5. Gunting
6. Motif pada karton jerami
7. Motif pada kertas putih
B. Sumber
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: BNSP
Tim Bina Karya Guru. 2006. Seni Budaya dan Keterampilan Untuk Kelas I SD. Jakarta: Erlangga
X. Penilaian
1. Penilaiaan proses (tes lisan)
Format penilaian proses
|
N0 |
Nama siswa |
Kesungguhan kerja |
Kelancaran |
||||
|
SB |
B |
C |
SB |
B |
C |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
SB = 5 9-10 = A
B = 4 7-8 = B
C = 3 6 = C
(Sumber: Pendidikan kesenian 1 (musik) 1991)
Indikator penilaian:
Kesungguhan kerja:
SB: Selama melakukan aktivitas membuat gambar dengan teknik kolase
berlangsung, siswa sangat serius dan tidak terlihat ada kegiatan lain yang
dikerjakan.
B : Selama melakukan aktivitas membuat gambar dengan teknik kolase
berlangsung, siswa cukup serius namun ada juga sedikit kegiatan lain yang
dilakukan
C : Selama melakukan aktivitas membuat gambar dengan teknik kolase
berlangsung, siswa tidak serius banyak kegiatan lain yang dilakukan
Kelancaran
SB: Selama jam pelajaran berlangsung siswa dapat mengungkapkan ide dan
gagasannya kedalam wujud gambar dengan sangat baik, tanpa ada
kesulitan dan hambatan
B : Selama jam pelajaran berlangsung siswa dapat mengungkapkan ide dan
gagasannya kedalam wujud gambar dengan cukup baik, walau ada sedikit
kesulitan dan hambatan
C : Selama jam pelajaran berlangsung siswa kurang dapat mengungkapkan ide
dan gagasannya ke dalam wujud gambar
2. Penilaian hasil
Format penilaian hasil
|
N0 |
Nama siswa |
Kombinasi warna |
Keindahan |
||||
|
SB |
B |
C |
SB |
B |
C |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Indikator penilaian:
Kombinasi warna
SB: Penataan warna pada gambar sangat baik, menarik dan adanya tatanan
warna yang sesuai pada gambar
B : Penataan warna pada gambar cukup baik, menarik walaupun ada sedikit
tatanan warna yang kurang sesuai
C : Penataan warna pada gambar kurang baik, tatanan warnanya tidak sesuai
Keindahan
A : Kesan yang nampak dari gambar sangat baik, susunan dan guntingan
bahan yang sesuai dan rapi
B : Kesan yang nampak dari gambar cukup baik, walaupun masih ada susunan
dan guntingan bahan yang kurang sesuai
C : Kesan yang tampak dari gambar kurang baik, susunan dan guntingan yang
tidak sesuai dan tidak rapi
Keterangan:
SB = 5 9-10 = A
B = 4 7-8 = B
C = 3 6 = C
(Sumber: Pendidikan kesenian 1 (musik) 1991)
Padang, 6 Desember 2008
Dosen Pembimbing Mahasiswa PL
Dra. Zainarlis Dewi Sasrina
Lampiran 2
Kegiatan pembuatan gambar dari kertas bekas dengan teknik kolase
1. Guru merancang gambar/motif yang akan dijadikan gambar kolase
Gambar 3.1
(Sumber: Revi Devi paat, 2008)
2. Guru memindahkan gambar/motif tersebut dengan menggunakan karbon, pada kertas putih dan karton jerami. Gambar/motif pada karton jerami digunakan untuk motif dasar yang akan di tempel dengan kertas bekas, sedangkan gambar pada kertas putih digunakan sebagai pola.
3. Siswa menggunting gambar yang di kertas putih sesuai dengan pola
Gambar 3.2
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
4. Gunting kertas bekas yang akan ditempel sesuai dengan bagian-bagian/ pola yang ada, dengan cara: dempetkan pola pada kertas bekas, kemudian gunting kertas bekas sesuai dengan bentuk pola
Gambar 3.3
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
5. Setelah seluruh kertas bekas digunting sesuai dengan pola yang ada, susun sementara bagian-bagian yang telah digunting diatas gambar dasar (gambar pada karton jerami)
6. Mulailah menempelkan bagian leher pada gambar dasar dengan cara oleskan lem dengan merata pada bagian yang akan ditempel kemudian tempelkan bagian lehernya.
Gambar 3.4
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
7. Tempelkan bagian kepala pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.5
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
8. Kemudian tempelkan bagian kedua kuncir pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.6
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
9. Tempelkan bagian rambut depan pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.7
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
10. Selanjutnya tempelkan bagian kedua kaki pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.8
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
11. Tempelkan bagian sepatu di ujung kaki pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.9
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
12. Kemudian tempelkan bagian kedua lengan pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.10
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
13. Tempelkan bagian baju pada gambar dasar seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.11
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
14. Selanjutnya tempelkan bagian kerah pada baju seperti cara menempelkan sebelumnya.
Gambar 3.12
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)
15. Gambarlah wajah ( mata, hidung dan mulut) dengan menggunakan spidol hitam untuk mata dan hidung, spidol merah untuk mulut.
Gambar 3.13
(Sumber: Revi Devi Paat, 2008)

kak kiki
4 Mei 2009 at 03:05
wah. menarik. boleh numpang belajar ?
rera
20 Oktober 2009 at 06:40
terimakasih untuk artikelnya..
garnish
20 Oktober 2009 at 08:28
punten…ko gambarnya ga dimunculin ya….kan supaya ada contohnya.pasti keliatan bagus…
terima kasih..
garnish
20 Oktober 2009 at 08:32
gambarnya ga muncul ya…
padahalkan cukup bagus,sbg penunjang gitu…
garnish
20 Oktober 2009 at 08:33
kemana ya gambarnya….
erni
26 November 2009 at 04:36
koq g ada gambarX ce??
devo avidianto p
17 Februari 2010 at 12:03
thanks infonya ya ,salam kenal
lina yuliatin
17 Januari 2011 at 12:32
wah kerEnz..
Ternyta judul yg q ambl da jg pmbhasanx
hehe *_*
bguz ne mBa skripsx, ,
dany
1 Oktober 2011 at 17:26
bay bay…….???????