ANAK BERBAKAT MERUPAKAN ANAK ISTIMEWA

Desyandri
    

PENDAHULUAN

Di era globalisasi, dunia pendidikan telah mengalami berbagai kemajuan yang pesat dan mengesankan. Pendidikan anak usia 0 – 8 tahun mendapat perhatian yang besar karena masa keemasan perkembangan otak terjadi pada usia anak tersebut (Golden Age). Berbagai aspek pendidikan untuk mengoptimalkan potensi usia ini sudah dan terus digali oleh praktisi dan pengamat pendidikan. Mulai dari mengenali fase perkembangan hingga menemukan pembelajaran yang sesuai dan efektif bagi mereka. Di usia 0 – 8 tahun instruksi yang diberikan seharusnya menekankan kesempatan. Selama diberi kesempatan, anak-anak dapat menemukan sesuatu dari minat dan kemempuan mereka sendiri.

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga (kelas awal SD) berada pada rentangan dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek kongkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung. Sedangkan karakteristik perkembangan anak kelas satu, dua, dan tiga (kelas awal SD) biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya.

Pada zaman modern ini orang tua semakin sadar bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar. Oleh sebab itu tidak mengherankan pula semakin banyak orang tua yang merasa perlu cepat-cepat memasukkan anaknya ke sekolah sejak usia dini. Mereka sangat berharap agar anak-anak mereka ”cepat menjadi pandai”. Sementara itu banyak orang tua yang menjadi panik was-was jika melihat adanya gejala-gejala atau perilaku-perilaku anaknya yang berbeda dari anak seusianya. Misanya saja anak berumur tiga tahun yang sudah dapat membaca lancar seperti layaknya anak usia tujuh tahun; atau ada anak yang baru berumur lima tahun tetapi cara berpikirnya seperti orang dewasa, dan lain-lain. Dapat terjadi bahwa gejala-gejala dan ”perilaku aneh” dari anak itu merupakan tanda bahwa anak memiliki kemampuan istimewa. Maka dari itu kiranya perlu peran guru dan orang tua bisa mendeteksi sejak dini tanda-tanda adanya kemampuan istimewa pada anak agar anak-anak yang memiliki bakat dan kemampuan istimewa seperti itu dapat diberi pelayanan pendidikan yang memadai.

Secara garis besar di Propinsi Sumatera Barat khususnya di Kota Padang belum ada dilakukan pendidikan/penanganan khusus bagi anak-anak istimewa atau anak-anak berbakat. Apalagi anak berbakat yang usianya 6 – 8 tahun, seperti kelas satu, dua, dan tiga (kelas awal sekolah dasar). Pendidikan/penangan khusus bagi anak-anak berbagak ini perlu sekali mendapat perhatian yang serius dari pemerintah ataupun lembaga pendidikan seperti yang telah diungkapkan di Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Padahal anak-anak berbakat tersebut tak bisa dipungkiri bahwa mereka merupakan aset yang sangat menentukan masa depan pendidikan dan masa depan bangsa ini. 

B.    KAJIAN TEORI

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan antara lain bahwa ”warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Pasal 5, ayat 4). Disamping itu juga dikatakan bahwa ”setiap perserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya” (Pasal 12, ayat 1b). Hal ini pasti merupakan berita yang menggembirakan bagi warga negara yang memiliki bakat khusus dan tingkat kecerdasan yang istimewa untuk mendapat pelayanan pendidikan sebaik-baiknya.Sebelum membahas masalah anak berbakat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kerancuan dan salah pengertian, istilah-istilah tersebut antara lain: bakat, kemampuan dan kapasitas.

Bakat merupakan kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih (Yufiarti1999: 70). Berbakat menurut Renzulki: Keterkaitan antara 3 kemampuan, yaitu kecerdasan di atas rata-rata, kratifitas dan pengikatan diri terhadap tugas atau motivsi intrinsik. Motivasi intrinsik (berbakat berprestasi atau anak berbakat tapi berprestasi kurang). Anak berbakat adalah anak yang mampu mencapai prestasi menonjol karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Kemampuan yang unggul tersebut adalah kemampuan intelektual umum, kemampuan akademik khusus, kemempuan berfikir kreatif produktif, kemampuan memimpin, kemampuan dalam salah satu bidang seni, dan kemampuan psikomotor. 

Sejalan dengan pengertian di atas bahwa perkembangan bakat anak kelas awal SD bergantung kepada bagaimana bakat yang sudah ada tersebut diarahkan kepada hal-hal yang lebih meningkatkan kemampuan, kreativitas dan tanggung jawab. Hal ini akan lebih jelas perkembangannya dalam hal ciri-ciri atau karakteristik perkembangan bakat anak kelas awal SD di bawah ini. Parker dalam Munandar (1982) mengemukakan bahwa anak-anak berbakat sejak kecil lebih aktif dan lebih menaruh perhatian terhadap lingkungannya. Walaupun ada beberapa pengecualian, misalnya lambat dalam perkembangan motorik. Tapi dalam perkembangan bicaranya secara umum lebih cepat dari rata-rata anak normal. Banyak referensi yang menyebutkan bahwa di dunia ini sekitar 10-15% anak berbakat dalam pengertian memiliki kecerdasan atau kelebihan yang luar biasa jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Kelebihan-kelebihan mereka bisa nampak dalam salah satu atau lebih tanda-tanda berikut:

  • Kemampuan intelegensi umum yang sangat tinggi, biasanya ditunjukkan dengan perolehan tes intelegensi yang sangat tinggi, misal IQ di atas 120.
  • Bakat istimewa dalam bidang tertantu, misalnya bidang bahasa, matematika, seni, dan lain-lain. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan prestasi istimewa dalam bidang-bidang tersebut.
  • Kreativitas yang tinggi dalam berfikir, yaitu kemampuan untuk menemukan ide-ide baru.
  • Kemampuan memimpin yang menonjol, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kelompok.

Prestasi-prestasi istimewa dalam bidang seni atau bidang lain, misalnya seni musik, drama, tari, lukis, dan lain-lain.Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi kongkrit. Pada rentangan usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) mulai memandang dunia secara objektif,  bergeser dari satu aspek situasi ke aspek situasi lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab-akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas dan berat.

Menurut pakar psikologi pendidikan Utami Munandar, anak berbakat berbeda dengan anak pintar. ”Bakat berarti potensi”. Sedangkan pintar didapatkan dari tekun mempelajari sesuatu. Tapi meski tekun namun tak berpotensi, seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. ”Kalau anak tak berbakat musikal misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apapun, ya, kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan berkembang”. Sebalikanya jika anak berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, iapun tak akan berkembang. ”Soal bakat musik tadi, misalnya. Jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan terpendam”, jelas guru besar tetap Fakultas Psikologi UI ini.

Bakat anak lanjut Utami, berkaitan dengan kerja belahan otak kiri dan kanan. Belahan otak kanan berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, intuisi. Sedangkan belahan otak kiri untuk kecerdasan. Anak berbakat umumnya menunjukkan IQ di atas rata-rata, yaitu minimal 130. Namun bukan berarti anak-anak yang mempunyai IQ rata-rata, yaitu 90-110, tak akan berbakat”, tukas Utami. Anggapan orang bahwa IQ menetap seumur hidup, menurutnya sama sekali tidak benar.

Stratergi untuk mendeteksi peserta didik yang berbakat dalam bidang seni musik khususnya bernyanyi dengan cara mengamati ”Kecerdasan Musikal”, kemampuan berbagai bentuk musikal, membedakan, menggubah, dan mengekspresikannya. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap irama, pola nada atau melodi, dan warna nada atau warna suara suatu lagu. Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan musikal seperti yang dikemukakan oleh Robinson Situmorang (dalam Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar, 2004:64) adalah:

·        Suka memainkan alat musik di rumah atau di sekolah

·        Mudah mengingat melodi suatu lagu

·        Lebih bisa belajar dengan iringan musik

·        Suka mengoleksi kaset-kaset atau CD lagu-lagu

·        Bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau untuk orang lain

·        Mudah mengikuti irama musik

·        Mempunyai suara yang bagus untuk bernyanyi

·        Peka terhadap suara-suara atau bunyi-bunyian di lingkungannya

·        Memberikan reaksi yang kuat terhadap berbagai jenis musik

·        Berprestasi sangat bagus dalam mata pelajaran musik 

C.    PEMBAHASAN

Dalam rangka ikut mensukseskan tujuan pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, banyak hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Salah satu diantaranya dengan memberikan perhatian yang serius, pendidikan yang tepat dan penanganan yang khusus terhadap anak-anak yang mempunyai kemampuan, inteligensi, dan potensi yang istimewa (di atas rata anak normal). Anak berbakat yang tidak bisa dipungkiri adalah sebagai aset negara yang akan melanjutkan atau yang sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia.

Arah dan usaha apa yang akan diambil oleh pemerintah untuk mensukseskan tujuan pendidikan nasional tersebut, hal ini juga ditentukan oleh pendidikan apa yang akan mereka berikan kepada anak-anak bangsa yang kaya dengan potensinya, kemampuannya, inteligensinya, dan berbagai aspek-aspek perkembangan mereka yang dikatakan ”Brillian”. Akankah ini menjadi suatu yang akan menyebabkan anak-anak berbakat ini akan menjadi terhambat perkembangannya, dan menjadikan mereka anak-anak yang ”tumpul”.  

1. Karakteristik

Beberapa hal yang dapat dideteksi dari peserta didik yang mempunyai bakat seperti:

  • Perkembangan Lebih Cepat, dari segi perkembangan kognitif, afektif dan motorik anak berbakat terlihat lebih cepat dibandingkan anak-anak seuasinya. Untuk mendeteksi apakah seorang anak berbakat atau tidak, menurut Utami, bisa di lihat dari perkembangan motoriknya. Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding dengan anak biasa. Dalam berbicara, berjalan, maupun membaca. Selain itu juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna. Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari belajar sendiri, yaitu mengamati  dan menghubung-hubungkan. Misalnya dari memperhatikan lalu-lintas, teve atau buku;
  • Senang Mengeksplorasi, anak berbakat juga senang mengekplorasi atau mejajaki. ”Kalau ia mempreteli barang-barang, bukan karena dia nakal tapi karena rasa ingin tahunya”. Tentang rasa ingin tahu yang tinggi ini dapat dibedakan dari anak-anak yang biasa, anak berbakat dalam cara pengamatannya lebih kental dibanding anak-anak biasa;
  • Mempunyai kelebihan yang luar biasa;
  • Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat adalah bicaranya bisa sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain. 

2.   Peran Guru           

Untuk lebih tersalurkan dan terperhatikan anak-anak berbakat ini , ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru untuk membantu dalam mendeteksi dan menyalurkan keberbakatan peserta didik dalam proses pembelajaran di sekolah. Dalam lingkungan sekolah guru mempunyai peranan yang sangat besar dalam merangsang anak atau sisiwa untuk belajar. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap guru memiliki tiga peran dalam proses belajar mengajar, yaitu

  • Peran sebagai komunikator: dalam mengajarkan bahan-bahan ilmu pengetahuan guru mengalihkan pengetahuan, sikap dan keterampilan kepada siswa dan membuat mereka mampu menyerap, menilai, dan mengembangkan secara madiri ilmu yang dipelajari;
  • Peran sebagai motivator: guru menimbulkan minat dan semangat pada siswa untuk secara terus- menerus mempelajari dan mendalami ilmunya. Guru terus berupaya merangsang siswanya agar mau dan senang belajar;
  • Peran sebagai fasilitator: guru berupaya untuk mempermudah dan memperlancar proses belajar mengajar bagi siswanya.

Dalam memainkan peran sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator, guru dapat menggunakan berbagai macam teknik pendidikan dan pengajaran, terutama sekali dalam mendeteksi para peserta didiknya yang mempunyai bakat disatu budang tertentu, misalnya, seni musik. Teknik pendidikan dan pengajaran yang efektif adalah jika guru menggunakan teknik-teknik yang berorientasi pada siswa, yang bertitik-tolak dari kebutuhan siswa dan dikembangkan sesuai tujuan-tujuan pendidikan. 

3.   Peran Orang Tua           

Mengenai keberbakatan anak bermanfaat bagi orang tua agar mereka dapat memahami dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak, baik kebutuhan kognitif, afektif, maupun psikomotor anak. Setelah para orang tua mengetahui bahwa anak-anak mereka mempunyai bakat yang cukup tinggi, maka selaku orang tua harus jeli dalam menyikapi keberbakatan anak. Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh para orang tua adalah:

  • Mengetahui bakat anak secara tepat. Anak yang berbakat akan memperlihatkan kemampuannya pada satu bidang tertentu, dan ia terus mengeksplorasi bidang keberbakatannya tersebut;
  • Tidak memaksakan kehendak. Di lain pihak, harus diakui bahwa sering orang tua cenderung mengamati dan menafsirkan perilaku anaknya sesuai dengan harapan dan keinginan orang tua. Mereka mempunyai aspirasi pendidikan yang sangat tinggi dan hal ini dapat menyebabkan mereka tidak objektif dalam pengamatan perilaku anaknya;
  • Berusaha untuk menyalurkan bakat khusus anak. Tentu saja orang tua perlu membina agar anak mau berprestasi secara optimal, karena kalau tidak akan berarti suatu penyianyiaan terhadap bakat-bakatnya;
  • Berusaha untuk tidak membatasi perkembangan anak, tetapi tetap dalam jalur yang semestinya;
  • Menyediakan pendidikan yang sesuai dengan bidang keberbakatan anak. Mereka dapat membantu anak memahami dirinya agar tidak melihat keberbakatannya sebagai suatu beban, tetap sebagai suatu anugerah yang harus dihargai dan dikembangkan. 

4.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi

  • Hereditas, merupakan faktor yang mempengaruhi keberbakatan anak yang diwariskan dari orang tua, meliputi kecerdasan, kreatif produktif, kemampuan memimpin, kemampuan seni dan kemampuan psikomotor. Dalam diri seseorang telah ditentukan adanya faktor bawaan yang ada pada setiap orang, dan bakat bawaan tersebut juga berbeda setiap orangnya;
  • Lingkungan, merupakan hal-hal yang mempengaruhi perkembangan anak berbakat ditinjau dari segi lingkungannya (keluarga, sekolah dan masyarakat). Lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam mempengaruhi keberbakatan seorang anak. Walaupun seorang anak mempunyai bakat yang tinggi terhadap suatu bidang, tanpa adanya dukungan dan perhatian dari lingkungan seperti, masyarakat tempat dia bersosialisasi, keluarga tempat ia menjalani kehidupan berkeluarga, dan sekolah sekolah sebagai tempat dia menimba ilmu pengetahuan dan sekaligus mengembangkan bakatnya, tidak akan mencapai hasil yang optimal. Dengan kata lain, bagaimana lingkungan, tempat dia menjalani kehidupan dan mengembangkan keberbakatannya itu dapat membantunya dalam mencapai ataupun memaksimalkan bakatnya tersebut.Perkembangan anak berbakat ini akan tersalurkan atau terhambat erat sekali kaitannya dengan kegiatan ataupun aktivitas dari orang tua, guru dan masyarakat yang mendukung/menyalurkan bakat anak tersebut atau mereka akan menghambat perkembangan bakat anak tersebut. 

5.      Masalah yang Mungkin Muncul

  • Anak berbakat tetapi tidak berprestasi. Hal ini disebabkan oleh rasa harga diri yang lebih rendah, anak tidak mempunyai motivasi intrinsik untuk mengembangkan abakat yang mereka miliki dan kurangnya motivasi ekstrinsik dan lingkungan, keluarga dan sekolah;
  • Anak berbakat rentan terhadap terjadinya ketegangan emosional dan konflik sosial. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak berbakat rentan terhadap ketegangan emosional dan konflik sosial antara lain, kepribadian yang bersifat perfeksionisme, program dalam diri untuk mencapai kesempurnaan anak berbakat tidak puas dengan prestasinya, tidak dapat memenuhi tujuan-tujuan (target yang hendak dicapai) pribadinya sehingga anak berbakat tersebut hanya mau memilih kegiatan-kegiatan tertentu yang diyakini akan berhasil;
  • Kepekaan yang berlebihan. Sistem saraf yang super sensitif membuat anak berbakat lebih peka dan kritis dalam mengamati dan menanggapi diri dan lingkungannya.
  • Kurang keterampilan sosial. Ada anak berbakat yang sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga lebih banyak menyendiri (individual), dan ada pula anak berbakat yang ingin populer sehingga mendominasi orang lain;
  • Isolasi sosial. Pengaruh kurang memahami ciri-ciri dan kebutuhan anak berbakat, orang dewasa dalam sikap dan perilaku mereka dapat menunjukkan sentimen atau penolakan terhadap anak berbakat;
  • Harapan yang tidak realistis. Harapan yang tidak realistis dari pihak orang tua dan guru terhadap anak berbakat yang mengharapkan mereka selalu menonjol dalam berbagai bidang;
  • Pelayanan pendidikan yang tidak sesuai. Pelayanan pendidikan yang tidak sesuai dengan perkembangan anak berbakat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap moral dan perkembangannya secara menyeluruh. 

D.    KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Kesimpulan

Anak berbakat merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anak-anak yang istimewa yang akan menjalankan dan mengembangkan negara ini pada masa yang akan datang. Selaku generasi penerus tentulah harus dipersiapkan mulai dari mereka usia dini, usia kelas awal sekolah dasar, kelas tinggi sekolah dasar, sekolah menengah, di bangku perkuliahan sampai mereka terjun kembali ke masyarakat untuk mengabdi pada nusa dan bangsa.

Guru, orang tua, serta masyarakat harus memberikan suatu bentuk pengembangan, perangsangan, dan menyediakan segala fasilitas agar tercapai, tersalurkan keberbakatan anak secara optimal, memahami segala tindak-tanduk, perilaku dan budaya yang mereka lakukan, yang pada umumnya mempunyai suatu kekhasan dan keistimewaan dari anak-anak lainnya, dan berusaha untuk memberikan pendidikan yang tepat untuk pengayaan keberbakatan anak dan memberikan iklim yang kreatif kepada anak-anak tersebut. 

2.      Saran

Berdasarkan pembahasan tentang keberbakatan anak, baik mengenai deteksi anak berbakat, karakteristik anak berbakat, peranan guru, peranan orang tua, faktor yang mempengaruhi, maupun masalah yang mungkin muncul, dapat dikemukakan beberapa saran, sebagai berikut:

  • Pemerintah selaku pembuat kebijakan tentang pendidikan harusnya lebih memperhatikan program pendidikan yang cocok untuk anak berbakat, karena anak berbakat yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata atau anak yang istimewa merupakan aset negara, yang akan melanjutkan perjalanan bangsa menuju bangsa yang cerdas dan sejahtera dan dapat bersaing dengan dunia luar.
  • Guru selalu memperhatikan perkembangan peserta didik yang mempunyai keberbakatan yang tinggi dan berusaha menciptakan pendidikan yang mendukung dan iklim yang kreatif dalam proses pembelajaran, dengan fungsi guru sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator.
  • Guru memberikan konseling/bimbingan khusus terhadap permasalahan yang dihadapi anak berbakat.
  • Menyediakan program mentor bagi anak-anak yang berbakat
  • Orang tua dapat memberikan suatu pendidikan tambahan atau pendidikan khusus kepada anak-anak mereka yang mempunyai bakat terhadap suatu bidang tertentu dan berusaha untuk menciptakan dan membentuk keluarga yang harmonis. Dan orang tua harus memberikan dorongan yang positif kepada anak untuk mengembangkan potensi yang ada pada anak.

Daftar Pustaka

Cony Semiawan. (1997). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Grasindo

Dedi Supriadi. (1997). Kreativitas, Kebudayaan, dan Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta

Dimyati dan Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003

Utami Munandar. (1982). Anak-anak Berbakat: Pembinaan dan Pendidikannya. Jakarta: Rajawali

Utami Munandar. (1999). Pengembangan Anak Berbakat. Jakarta: Depdiknas dan Rineka Cipta

Yufiarti. (1999). Psikologi Pendidikan. Jakarta: CHCD Offset

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s