PENDIDIKAN SENI MUSIK HUMANIS; Suatu Tinjauan Konseptual

Artikel ini merupakan analisis konseptual terhadap konsep seni musik dan konsep pendidikan multikultural. Artikel dalam proses penerbitan di jurnal Pedagogi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang.

Cuplikan artikel:

1238368_4642296554304_705871006_n

Desyandri, S.Pd.,M.Pd: Berikanlah pendidikan dan pembelajaran yang memberikan kebebasan bertanggung jawab pada peserta didik. Sehingga memunculkan kesadaran peserta didik sebagai manusia ciptaan Allah SWT

Abstrak

Artikel ini merupakan analisis kritis yang didasarkan pada beberapa perspektif filosofis, humanis, dan konsep pendidikan seni musik. Pendidik sebagai fasilitator dalam perolehan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku positif dengan memperhatikan keunikan dan karakter masing-masing peserta didik dengan memberikan pengalaman berekspresi, berapresiasi, berkreasi, membentuk harmonisasi, dan keindahan, dalam rangka menumbuhkan kesadaran, kemandirian, dan tanggung jawab yang tinggi. Pendidikan seni musik humanis dilaksanakan secara menyeluruh agar peserta didik dapat memahami dan mengambil makna dari belajar bermusik. Untuk dapat melakukan tugas tersebut pendidik seni musik humanis dapat mengandalkan perasaan cinta.

 Kata Kunci:     filosofi, pendidikan, seni musik, humanis

This article is a critical analysis based on some philosophical perspective, humanists, and the concept of musical arts education. Educator as a facilitator in the acquisition of knowledge, skills and positive attitudes with respect to the uniqueness and character of each student by providing the experience of expression, appreciates, creative, forming harmony, and aesthetic, in order to araise awareness, independence, and high responsibility. Humanist musical arts education implemented fully so that learners can understand and take meaning from learning music. To be able to perform the task of music humanist educators can rely on feelings of love.

Keywords: philosophy, education, art, music, humanist

A.  Pendahuluan

Seni musik sebagai salah satu bidang kajian dalam pendidikan seharusnya menunjukkan peranan pentingnya dalam memberikan pengalaman-pengalaman kepada peserta didik dengan kesempatan dan kemampuan untuk berekspresi (expression), berapresiasi (appreciation), berkreasi (creation), membentuk harmoni (harmony), dan kesempatan untuk menciptakan keindahan (aesthetics) dalam hidup dan kehidupan baik terhadap kehidupan pribadi maupun kehidupan dalam lingkungan masyarakat sehari-hari. Pendidikan seni musik dapat memberikan kesempatan dan pengalaman pada peserta didik dalam rangka mengembangkan kepribadian menuju manusia Indonesia seutuhnya, seperti yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional Inonesia.

Melalui rasa bermusik (sense of music) dan pengalaman berseni (experience of art) peserta didik dapat membekali diri dengan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan perilaku (attitude) yang akan mereka pergunakan dalam menjalani dan memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari, dan sekaligus mengembangkan kepribadiannya. Hal ini, tentunya dapat diperoleh dengan pendidikan seni musik yang dilaksanakan dengan sepenuhnya dan mengakomodir perbedaan karakter, keunikan, dan tingkat perkembangan masing-masing individu peserta didik.

Pendidikan seni musik dilakukan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik sesuai dengan kodratnya sebagai manusia seutuhnya (humanity) yang memiliki kebebasan, kematangan diri dan memiliki tanggung jawab yang tinggi secara etika dan moral. Kepribadian yang diharapkan adalah kepribadian yang humanis yang merupakan keseluruhan pola pikiran, perasaan dan perilaku yang digunakan peserta didik dalam rangka adaptasinya dengan kehidupan sehari-hari yang dilandasi dengan kasih sayang  (attachment) dan diperlakukan seperti layaknya manusia (human being). Humaniti, tidak hanya sebatas menguasai pengetahuan, akan tetapi penguasaan secara keseluruhan yang berdampak pada kematangan dan perkembangan kepribadian dalam keindahan sikap dan perilaku peserta didik.

Ardipal (2010) dalam jurnalnya mengemukakan tentang tujuan pendidikan seni musik humanis, yakni:

The goal of humanistic art education is to build a conducive atmosphere for learning and learning activities as self-exploration activities. To develop the potential of the learners, the renewal of education and learning for the sake of increasing the professionalism of educators is needed. Therefore, improvement of professional skills education should be directed at fostering professional skills as well as coaching commitments. The improvement of professional capacity of educators through the concept of educational reform is more directed to cultured education and grown as a whole.

Tujuan pendidikan seni humanistik adalah untuk membangun suasana belajar dan pembelajaran yang kondusif dalam kegiatan eksplorasi diri. Untuk mengembangkan potensi peserta didik, pembaruan pendidikan dan pembelajaran yang diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme pendidik. Oleh karena itu, peningkatan keterampilan profesional pendidikan harus diarahkan untuk membina keterampilan profesional serta berkomitmen terhadap pembinaan. Peningkatan kapasitas profesional pendidik melalui konsep reformasi pendidikan lebih diarahkan pada pendidikan yang berbudaya dan tumbuh secara keseluruhan.

Fakta yang terlihat di lapangan belum menunjukkan sepenuhya pelaksanaan pendidikan seni musik humanis. Hal ini dapat digambarkan, bahwa pendidikan seni musik masih diberikan separo-separo dan masih belum mengakomodasi beberapa pengalaman dan kemampuan-kemampuan dalam berekspresi, berapresiasi, berkreasi, harmoni, dan estetika, serta pembelajaran belum memperhatikan keunikan, karakteristik, dan tingkat perkembangan individual masing-masing pesera didik. Kondisi seperti ini dapat dijelaskan bahwa pendidikan seni musik yang dilakukan hanya sebatas menghafal notasi musik, lagu, dan masih sebatas hiburan untuk menghilangkan kejenuhan peserta didik atau dengan kata lain pembelajaran seni musik yang dilakukan hanya sebatas ranah pengetahuan dan hiburan saja. Kondisi pembelajaran seperti ini belum sepenuhnya dan berdampak pada tidak terpenuhinya hakekat pembelajaran, serta mengabaikan tujuan pembelajaran seni musik itu sendiri. Sehingga pembelajaran belum mengakomodir pengembangan kepribadian peserta didik.

Di sisi lain pendidikan seni musik belum memberikan kebebasan dan kematangan manusia sebagai individu, subjektivitas. Pendidikan belum berusaha untuk menumbuhkan rasa kesadaran diri dan tanggung jawab yang tinggi pada diri peserta didik. Hal ini dapat tergambar bahwa pendidik yang masih mendominasi pemilihan-pemilihan materi, menentukan contoh musik atau lagu yang akan dipelajari, memberikan definisi terhadap apa yang dipelajari, serta kegiatan refleksi pembelajaran masih ditentukan oleh pendidik, dan penilaian yang belum didasarkan pada keunikan dan karakteristik pribadi peserta didik.

Pendidik masih memposisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan belum memposiskan dirinya sebagai fasilitator dan pembimbing yang membantu peserta didik dalam mengarahkan peserta didik untuk mampu bermusik dan menumbuhkan emosional, serta mendekatkan mereka dengan alam semesta, lingkungan, serta kehidupan yang akan menumbuhkan rasa kesadaran diri dan tanggung jawab yang tinggi sebagai manusia seutuhnya.

Berasarkan permasalahan di atas, pendidikan seni musik perlu membenahi diri dalam meningkatkan pelaksanaan pendidikan dan untuk memfasilitasi peserta didik dalam rangka menumbuhkan kesadaran diri dan tanggung jawab yang tinggi sebagai manusia (human being). Untuk itu perlu dilakukan pembaruan (renewal) terhadap pendidikan dengan melaksanakan Pendidikan Seni Musik Humanis.

—- 000 —-

Beradasarkan beberapa perspektif, konsep dari beberapa pandangan filsafat tentang pendidikan dan seni musik yang dikemukakan di atas, dapat diambil satu benang merah yang menyatakan bahwa pendidikan humanis merupakan pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka memandang pentingnya menjadikan peserta didik sebagai manusia seutuhnya dalam membekali dengan kematangan diri dan tanggung jawab tinggi yang memiliki keinginan dan kemandirian dalam menjalani dan menentukan hidup dan kehidupannya di muka bumi ini.

Pendidikan sebagai sasana atau laboratorium dapat melaksanakan peran pentingnya dalam mengakomodir kepentingan manusia untuk dapat memiliki pengetahuan, keterampilan, perilaku positif. Pendidikan memberikan sarana untuk pengembangan pengalaman-pengalaman yang didasarkan pada proses ilmiah dan pemecahan pemasalahan kehidupan sehari-hari.

Pendidikan seni musik yang humanis dapat diartikan sebagai pendidikan seni musik yang memberikan kesempatan atau pengalaman-pengalaman kepada peserta didik melalui unsur-unsur seni seperti berkekspresi, berapresiasi, berkreasi dengan musik, dan dapat membentuk harmonisasi dengan diri sendiri, lingkungan, dan alam semesta, serta memahami pentingnya estetika. Yang pada akhirnya dapat menjadikan peserta didik sebagai manusia. Semua hal itu tercantum dalam tujuan pendidikan seni musik dan dituangkan dalam kurikulum sebagai panduan dalam menyelenggarakan pendidikan yang humanis.

Peserta didik memiliki kebebasan dalam mengekspresikan dirinya sebagai manusia yang juga memiliki tanggung jawab yang tinggi atas dirinya sendiri yang mengacu pada aturan-aturan pendidikan. Pendidik memegang peranan yang sangat penting dalam memfasilitasi dan membantu peserta didik untuk melakukan proses belajar dan menciptakan pengalaman-pengalaman yang dapat dijadikan sebagai bahan atau bekal bagi peserta didik dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Pendidik membantu menumbuhkan kesadaran akan kemandirian, pengambilan keputusan sendiri, dan dapat menumbuhkan tanggung jawab yang tinggi terhadap pemilihan tersebut.

Materi dan konten yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan terkait dengan perkembangan usia serta kematangan emosionalnya, dan memberikan keseimbangan kecerdasaran intelektual dengan kecerdasan-kecerdasan yang dimulikinya, diantaranya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Musik yang dipelajari dapat terkait dengan kebesaran Allah sebagai pencipta manusia dan alam, memperkenalkan bunyi-bunyian yang berasal dari alam atau bunyi-bunyian buatan, keindahan alam, peristiwa alam, kasih sayang, nasehat, bela negara, cinta tanah air, dan memberikan pengalaman untuk mengenal hubungan sosial dan budaya. Dengan arti kata semua materi atau konten yang diberikan diikuti dengan pemaknaan terhadap unsur-unsur yang terdapat pada musik itu sendiri. Misalnya dalam mempelajari dan menyanyikan berbagai macalam lagu daerah, peserta didik dapat berekspresi, mengapresiasi, berkreasi, membentuk harmoni, dan menikmati keindahan musik dan dilanjutkan dengan mengekplorasi  makna atau isi lagu yang dinyanyikan. Sehingga lagu tersebut dapat memberikan pemahaman terhadap ciri khas budaya yang terdapat pada masing-masing daerah serta dapat menjadikan peserta didik memahami budaya masing-masing daerah tersebut. Sehingga dari proses mempelajari atau menyanyikan berbagai macam lagu daerah, dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian diri akan keanekaragaman budaya dan kehidupan yang terdapat di nusantara ini. Sehingga pembelajaran yang dilakukan secara menyeluruh dapat memberikan input bagi peserta didik dengan memberikan haknya sebagai manusia yang hidup dalam beberagaman.

Pemerolehan dan pemberian pengetahuan, skill, dan perilaku dalam bermusik tidak terjadi begitu saja akan tetapi dilandasi dengan proses interaksi yang didasarkan pada perasaan cinta (love) dan kasih sayang (attachment) sebagai pengikat dan memberikan dorongan (motivation) kepada peserta didik. Sehingga pembelajaran seni musik yang dilakukan merupakan pembelajaran sepenuhnya dan lebih bermakna (meaningful).

Peran peserta didik dalam pendidikan seni musik humanis adalah dapat mengembangkan kepribadian mereka sesuai dengan kemandiriannya sebagai manusia, menentukan pilihan, mengambil keputusan, dan mengeksplorasi dirinya sendiri dengan keunikan dan karakteristik yang mereka miliki yang berbeda satu sama lain. Misanlnya, dalam mengekspresikan sebuah lagu, mereka memiliki karakter dan gaya sendiri untuk menampilkannya, sehingga tidak sama dengan artis atau penyanyi asal lagu tersebut. Dalam menyanyikan lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Tasya dengan karakter dan gaya Tasya sendiri, maka peserta didik juga mengekspresikan lagu tersebut dengan karakter dan gaya mereka sendiri. Sehingga lagu tersebut terdengar berbeda dari yang aslinya dan memperlihatkan warna peserta didil itu sendiri. Dengan kata lain, yang muncul adalah karakteristik peserta didik bukan karakteristik Tasya.

Dengan demikian pendidikan seni musik humanis dapat memfasilitasi peserta didik untuk menumbuhkan kesadaran diri dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap diri mereka sendiri. Sehingga dengan proses ekspresi, apresiasi, kreasi, harmoni, dan estetika yang mereka lakukan dapat mengembangkan kepribadian  mereka untuk hidup dan kehidupan yang lebih besar di masyarakat dan sebagai warga negara yang baik, serta pendidikan seni musik humanis dapat menjadikan mereka sebagai individu sebagai layaknya manusia.

Simpulan

Pendidikan seni musik humanis adalah proses pendidikan yang dilakukan dengan mewadahi dan mengakomodir manusia atau peserta didik sebagai manusia yang memiliki kemandirian dalam menentukan keputusan peserta didik dengan memperhatikan berbagai hal tentang usia dan tingkat perkembangan yang terkait dengan manusia sebagai ciptaan Allah SWT.

Pendidik dapat membantu peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan perilaku positif dengan memperhatikan keunikan dan karakter masing-masing peserta didik dengan memberikan pengalaman berekspresi, berapresiasi, berkreasi, membentuk harmonisasi, dan keindahan, serta memperlakukan dirinya sebagai fasilitator dan pembimbing dalam membantu menumbuhkan kesadaran, kemandirian, dan tanggung jawab tinggi dari peserta didik. Pendidikan dilakukan secara menyeluruh agar peserta didik dapat memahami pembelajaran dan mengambil makna dari belajar musik. Untuk dapat melakukan tugas tersebut pendidik sebagai fasilitator dan pembimbing dapat mengandalkan perasaan cinta.

 

Daftar Rujukan

Dharsono (Sony Kartika). 2007. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains

Friedmann, Jonathan L.. 1980. The Value of Sacred Music; an Anthology of Essential Writings 1801-1918. Jefferson, North Carolina, & London: McFarland & Company Inc., Publishers

Gardner, Howard. 2003. Multiple Intelligences; Kecerdasan Majemuk, Teori dalam Praktek. Batam: Interaksara

Gutek, Gerald Lee. 1974. Philosophical Alternatives in Education. Colombus, Ohio; Charles E. Merrill Publishing Company, A Bell & Howell Company

Hazleton. 2001. Democracy and Education by John Dewey; A Penn State Electronic Classic Series Publication. Pennsylvania University

Heafford, M.R. 1967. Pestalozzi; His Thought and Its Relevance Today. London: Methuen & CO LTD

Jamalus dan Hamzah Busroh. 1991. Pendidikan Kesenian I (Musik). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Lamont, Corliss. 1997. The Philosophy of Humanis; Eighth Edition, Revised.  Amherst Newyork. Humanism Press

Mans, Minette. 2009. Living in World of Music; A View of Education and Value. In Lanscape the Art, Aesthetic, and Education. Volume 8. New York: Springer

Nooryan Bahari. 2008. Kritik Seni; Wacana Apresiasi dan Kreasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ramachandran, Sheela dkk. 2008-2009. Value Education – Human Rights; Hand Out. Coimbotare: Bharahtiar University

Rien Syafrina. 1999. Pendidikan Kesenian (Musik). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Seymour, Harriet Ayer. 1920. The Philosophy of Music; What Music Can Do For You. Digitized by the Internet Archivein 2008 with funding from Microsoft Corporation. Newyork and London: Harper and Brother Publisher diakses tanggal 15/10/2012 dari http://www.archive.org/details/philosophyofmusi00seymrich

Sheppard, Philip. 2005. Music Makes Your Child Smarter: How Music Helps Every Childs Development. Artemis Music Limited All rights reserved. Dialih bahasakan oleh Henry Wisnu Dewanto. 2007. Music Makes Your Child Smarter: Peran Musik dalam Perkembangan Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Steiner, Rudolf. 2004. Human Values in Education; 10 Lectures in Arnheim, Holland July 17-24, 1924. Great Barrington: Anthroposophic Press

Stephenson, Joan, dkk. 2005. Value in Eduation. New York: Routledge

Woodford, Paul G. 2005. Democracy and Music Education; Liberalism, Ethics, and the Politic of Practice. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Seni Musik. Tandai permalink.

8 Balasan ke PENDIDIKAN SENI MUSIK HUMANIS; Suatu Tinjauan Konseptual

  1. Ping balik: Seni musik | GIGS

  2. Ping balik: SENI MUSIK | jubagblog

  3. Ping balik: SENI MUSIK | PINASTHIKA ARTISTA

  4. Ping balik: Seni Musik | Seni Budaya Indonesia

  5. Ping balik: Materi Seni Musik Global « Channel Saya

  6. Ping balik: ARTIKEL TENTANG MUSIK – Site Title

  7. Ping balik: Site Title

  8. Ping balik: PEMBAHASAN SENI MUSIK | seni off ayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s