PENDIDIKAN DAN PERALIHAN SOSIO-BUDAYA: Sebuah Telaah Fenomenologis

11142_102082263148970_6748034_n

Desyandri, S.Pd.,M.Pd: Pendidikan bukanlah sesuatu hal yang statis, akan tetapi dinamis, dan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS).

A.  Pendahuluan

Seiring dengan perkembangan zaman dan globalisasi berakibat terhadap pendidikan dan sosio-budaya. Kondisi dan paradigma pendidikan yang terdahulu boleh jadi ditinggalkan atau dimodifikasi untuk dapat memenuhi kebutuhan atau tuntutan pendidikan sekarang yang diakibatkan oleh munculnya fenomena-fenomena sosio-budaya baru. Seperti, banyaknya tauran antar anak didik, diskriminasi ras, gender, stereotype, kekerasan agama, korupsi, perkembangan ilmu pengetahuan, sistem komunikasi dan teknologi yang ada pada masa sekarang.

Di samping itu pendidikan yang ada menampakkan fenomena yang terlihat seakan-akan mengenggelamkan manusia dari kodratinya sebagai makhluk yang memiliki ekstensi, kebebasan, dan seakan-akan menindas keberadaannya, seperti tidak diakuinya pengetahuan awal yang dimiliki oleh anak didik, komunikasi satu arah yang dilakukan pendidik, dan banyak tindakan lainnya, serta tidak terakomodirnya anak didik yang memiliki modal sosial dan modal budaya.

Untuk itu perlu dilakukan telaah terhadap fenomena-fenomena yang muncul saat ini dengan mengaitkannya dengan peralihan sosio-budaya. Telaah ini lelebih difokuskan pada telaah konseptual tentang esensial pendidikan di lihat dari kaca mata eksistensi manusia sebagai subjek dan sebagai objek dalam dunia sosial dan kebudayaan.

B.  Pendidikan dan Peralihan Sosio-Budaya

Noeng Muhadjir (2003:1-4) mengemukakan 5 unsur aktivitas pendidikan. Pendidikan merupakan aktivitas yang berlangsung dengan adanya unsur; (1) memberi dan (2) menerima, serta (3) memiliki tujuan yang baik. Makna baik secara filosofik mencakup: etiket, conduct atau perilaku terpuji, virtues atau watak terpuji, practical values, sampai living values.

Pendidikan sering disebut ilmu normatif yang tidak ingin sekedar mendeskripsikan atau menjelaskan melainkan ingin memberitahukan perlu dan harusnya mencapai cita ideal atau mencapai sesuatu yang dilihat atau diuji dari hidup memang baik. Normatif baik itu setidaknya mempunyai tiga ragam, yakni; (a) berupa nilai hidup yang memang dapat diterima sebagai nilai hidup yang baik (living values) dan practical values; (b) berupa perkembangan atau pertumbuhan subjek yang bila diuji dengan hakekat perkembangan atau pertumbuhan memang baik (conduct) atau perilaku terpuji, dan virtues atau watak terpuji; (c) berupa suatu alat untuk mencapai tujuan (instrumental values). Alat itu disebut normatif baik bila penggunaan dan pemilihan alat itu cocok dengan nilai hidup dan tidak bertentangan dengan hakekat perkembangan subjek.

Tujuan yang baik saja belum cukup, itu diikuti dengan unsur (4) cara/jalan yang baik. Contohnya interaksi menghargai merupakan cara/jalan yang terkait pada nilai. Memberikan motivasi merupakan cara mengait pada hakekat subjek didik. Menumbuhkan sikap profesional merupakan cara mempersiapkan pendidikan guru yang baik. Unsur (5) konteks yang positif. Sesuatu konteks dapat berperan posistf dan negatif. Upaya pendidikan perlu mengubahnya menjadi positif, atau mengoptimalkan peran yang positif, dan mengeleminir atau meminimalkan peran yang negatif. Konteks dalam keadaan adanya memberikan dampak kepada aktivitas pendidikan. Konteks dirancang memerankan perankan memberi pengaruh atau efek pada aktivitas pendidikan, hal ini disebut dengan learnig society.

Selanjutnya Noeng (2003:juga menjelaskan bahwa pendidikan juga memiliki lima komponen, yakni (1) program pendidikan atau kurikulum; sebagai komponen yang memiliki struktur, oraganisasi, fungsi, dan karakter tertentu. Dalam aktivitas pendidikan kurikulum merupakan penjabaran dari idealisme, cita-cita, tuntutan masyarakat, atau kebutuhan tertentu. Arah pendidikan, alternatif pendidikan, fungsi pendidikan, serta hasil pendidikan banyak tergantung dan bergantung pada kurikulum sebagai komponen pokok; (2) komponen subjek didik dan satuan sosial; perlu ditumbuhkan dan diperlakukan sebagai subjek didik dan satuan sosial yang aktif-kreatif; (3) komponen personifikasi pendidik; penampilan pendidik yang meyakini kemampuannya dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan subjek didik itu penting maknanya. Personifikasi pendidik mempribadi tersebut harap dibaca pula sebagai personifikasi satuan sosial membelajarkan. Personifikasi pendidik adalah mempribadinya keseluruhan yang diajarkannya, bukan hanya isinya, tetapi juga nilainya; (4) Komponen subjek didik; sebagai subjek yang mengandung konsekuensi untuk tidak mendikte, tidak memaksa, tidak menyodorkan satu pilihan. Tindakan pendidik lebih memberi informasi, layanan, dan peluang; (5) komponen konteks belajar; terdiri dari beragam lingkungan fisik maupun lingkungan sosial ditata sesuai dengan kepentingan aktivitas pendidikan. Konteks yang paling perifer bagi pendidikan adalah konteks sosial kemasyarakatan. Menggunakan berfikir sistem, konteks belajar merupakan komponen sistem yang dirancang sesuai dengan tujuan pendidikan.

1.    Mendidik Sambil Hidup Bersama

Pendidikan adalah fenomena fundamental atau asasi dalam kehidupan manusia. Dapat mengatakan, bahwa di mana ada kehidupan manusia, bagaimanapun juga di situ pasti ada pendidikan. Namun jika ditinjau perbuatan manusia satu persatu, adakah yang secara tersendiri (sebagai perbuatan khusus) yang bisa disebut sebagai mendidik. Ada perbuatan tersendiri yang kita sebut “makan”, “minum”, atau apa saja. Sehingga dapat dikatakan  bahwa seseorang sedang makan, minum, makan, tidur, berjalan, mengeluh dan sebagainya. Akan tetapi seseorang tidak dapat mengatakan bahwa seorang ayah sedang sibuk mendidik anaknya! Demikian juga dari pihak si anak juga tidak ada sesuatu yang secara tersendiri kita sebut “dididik”. Dengan demikian, dimanakah letak pendidikan (mendidik dan dididik)? Pendidikan itu terjadinya dengan dan dalam ada dan hidup bersama. Di situ ada perbuatan-perbuatan dan hal-hal dengan sengaja atau tidak sengaja, disadari atau tidak disadari “memasukkan manusia muda ke dalam alam atau dunia manusia”. Dengan ini dapat ditunjukkan suatu unsur, yang masuk ke dalam perbuatan-perbuatan yang jika dipandang tersendiri, tidak merupakan pendidikan. Unsur itu yaitu maksud dan pengaruh dari si pendidik, yang menyebabkan perbuatan itu menjadi perbuatan pendidikan.

Mendidik terjadi dalam perbuatan-perbuatan yang tidak dengan sendirinya berupa perbuatan mendidik. Jika ada distansi (jarak) antara pendidikan dan perbuatan  di dalam mana pendidikan itu menjelma. Dan karena perbuatan manusia tidak terlepas dari barang-barang lainnya, maka dalam barang-barang itu pun pendidikan menjelma; dan terhadap barang-barang itu pendidikan mempunyai distansi, yang tentunya lebih besar lagi.

Berdasarkan pandangan ini sudah bisa dilihat permasalahan yang termuat dalam judul tulisan ini. Pada suatu saat perbuatan-perbuatan yang tertentu dan hal-hal yang tertentu, yang dahulu menjadi cara melaksanakan pendidikan, tidak lagi dapat digunakan. Dan jika yang tidak lagi dapat menjadi medium pendidikan itu tidak hanya satu dua hal atau perbuatan, melainkan banyak, maka timbullah krisis. Pertanyaan yang muncul sangat banyak diantaranya, Mengapa semua itu? Karena, apakah ada peralihan? Mengapakan dalam dan karena peralihan itu perbuatan-perbuatan dan hal-hal, yang dulu berupa pendidikan, tidak lagi dapat digunakan?

Perbuatan dan hal-hal yang dipaparkan di atas termasuk ke dalam sosio-budaya, sehingga peralihannya berupa perubahan sosio-budaya. Agar permasalahan menjadi lebih jelas dan jalan pemecahannya terlihat, kita harus menunjukkan bagaimanakah munculnya pendidikan dari dan dalam eksistensia atau cara kita ada, bagaimanakan hubungan antara pendidikan dan cara-cara pelaksanaanya, bagaimanakah kedudukan cara-cara dan bentuk-bentuk kehidupan yang kita sebut kebudayaan.

2.    Pendidikan dan Eksistensi Manusia

Berdasarkan paparan yang telah dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan sosio-budaya tidak terlepas dari unsur-unsur: hubungan (komunikasi), pemikiran/ide, perbuatan/perilaku, dan medium/barang-barang antara manusia dengan manusia. Sosio-budaya dalam pendidikan ditunjukkan dengan komunikasi atau interaksi orang tua dengan anak atau dalam istilah lain dapat digunakan interaksi antara pendidik dan anak didik atau interaksi antara orang dewasa dengan anak muda yang disebut juga dengan komunikasi antar personal. Interaksi dari kedua manusia sebagai unsur dalam pendidikan tentunya tidak terlepas dari perlakuan terhadap manusia yang memiliki eksistensi masing-masing.

Dalam alam pemikiran dewasa ini, di mana renungan tentang eksistensi menyoroti segala-galanya, sudah sewajarnyalah, jika pendidikan dipandang komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia muda, agar supaya dimiliki, dilanjutkan, dan disempurnakan. Komunikasi itu terlaksana dalam kesatuan antar personal antara pendidik dan anak didik. Dengan dasar ini kita akan bisa meneropong seluk beluk pendidikan dalam perubahan sosio-budaya.

Dalam kalangan filsafat eksistensialisme istilah eksistensi mempunyai bermacam-macam arti. Pandangan pertama, Seperti Litmotiv yang menjiwai seluruh aliran eksistensialisme, istilah tersebut mempunyai arti yang tepat dan tetap: ialah cara kita (manusia) berada. Apa yang menjadi cirinya yang khas? Manusia selalu berhubungan dengan materia. Akan tetapi bagaimanakah hubungan itu? Pandangan kedua, mementingkan manusia sebagai subjek dengan cara yang sedemikian rupa sehingga yang ada hanya subjek. Dan subjek itu hanya berhubungan dengan pikirannya sendiri. Tentu saja dalam berhadapan dengan dunia kita dapat melukiskan ada kita dan adanya dunia sebagai subjek dan objek.

3.    Manusia Mengartikan Dunianya

Dunia atau alam merupakan keseluruhan realitas yang penuh dengan arti-arti. Dalam idea ini termasuk juga dunia hubungan-hubungan dan nilai-nilai. Dalam hal ini manusia itu dalam kesatuannya dengan alam menjadi sadar. Sadar akan diri, sadar akan alam, akan seluruh realita. Dan dalam kesadarannya itu dia memberi arti: hidup dan menghidupi alam jasmani. Manusia itu memanusiakan dan dalam pemanusiaan itu dunia mempunyai partisipasi. Manusia tidak bisa maju tanpa memajukan manusianya dan manusia tidak bisa bangkit tanpa membangkitkan dunianya.

Hubungan permasalahan pendidikan sangat erat dengan waktu peralihan sosio-budaya. Dalam konstelasi sosio-budaya ada bentuk-bentuk dan cara-cara tertentu, yang berupa kongkretisasi dari nilai-nilai manusiawi. Si anak didik harus dimasukkan ke dalam alam nilai-nilai . Akan tetapi bila dalam bentuk-bentuk itu momen anti-tesis sudah mulai menggejala, bagaimanakah pendidikan?

4.    Bentuk dan Apa yang dikomunikasikan

Adanya manusia berupa ada secara bersama. Ada bersama itu pada praktiknya dilaksanakan dengan dan dalam macam-macam bentuk. Realisasi yang ideal (yang tertinggi) ialah: communion atau kesatuan pribadi-pribadi, yang artinya persatuan yang anggotanya pribadi-pribadi, dimana pribadi-pribadi saling mengerti dan mengalami (menghayati) tanpa intermedium (perantaraan).

Komunikasi dapat disampaikan dengan cara formal dan eksplisit. Di samping itu  komunikasi itu juga terjadi secara implisit, dengan menjalankan bersama, dengan mengikutsertakan. Baik cara yang pertama maupun yang kedua dalam keadaan yang biasa saja sudah membawa bermacam-macam persoalan. Dalam praktik tidak ada eksistensi yang otentik seratus persen, yang perlu adalah adanya keyakinan bahwa yang dikomunikasikan itu otentik atau paling sedikit dapat dianggap otentik. Misalnya pandangan hidup Pancasila, yang memiliki rumusan-rumusan tentang sikap-sikap yang teladan. Maka dalam praktik, bentuk-bentuk rumusan itulah yang dikomunikasikan. Yang dimaksudkan dengan bentuk-bentuk; juga realisasi yang kongkrit dari dasar-dasar pada rumusan sila-sila Pancasila. Sebagai contoh, suatu bangsa yang mendasarkan pada kemanusiaan dan keadilan sosial, harus juga melaksanakan dasar-dasar itu dalam bentuk-bentuk dan cara-cara yang nyata. Maka itu pulalah yang dikomunikasikan. Dari paparan tersebut, bentuk-bentuk yang dikomunikasikan itu ada bermacam-macam. Ada yang dalam bidang rohani/mental, ada yang dalam bidang jasmani. Dan dalam kedua bidang itu masih ada sub-sub bidang lagi untuk mengkomunikasikannya.

5.    Siapa yang, dan Cara Mengkomunikasikan

Subjek yang mengkomunikasikan eksistensi yang otentik harus memiliki sendiri, paling sedikit dalam taraf yang cukup. Dalam situasi pendidikan terdapat dependesi anak, yaitu dependensi dalam pemanusiaan. Terhadap siapakan dependensi itu? Terhadap orang tua, petugas-petugas pendidikan, masyarakat, dan negara. Dependensi berarti, bahwa pihak yang berdependensi ada di dalam kekurangan dan pihak lainnya.

Cara pengkomunikasian dapat dilakukan dengan cara formal dan eksplisit. Di samping itu komunikasi itu juga terjadi secara implisit, dengan menjalankan bersama, dengan mengikutsertakan.

6.    Peralihan Sosio-budaya

Eksistensi mengkristalkan diri dalam bentuk yang nyata, yang disebut dengan kebudayaan. Bentuk-bentuk itu merupakan objektivikasi dan penyambungan dari eksistensi yang kongkrit: jadi seolah-olah ikut hidup dalam kehidupan manusia yang tertentu. Akan tetapi pengertian dan pandangan manusia bisa berubah. Pada suatu saat bisa terasa bahwa bentuk-bentuk objektif yang tertentu tidak lagi ikut serta dalam kehidupan, artinya tidak lagi bisa dijadikan cara-cara mengekspresikan diri atau merealiasikan eksistensi. Atau dengan kata lain kondisi dulu yang sering dilakukan, karena peralihan zaman maka hal itu menjadi tidak sesuai lagi, dan orang beralih pada budaya yang baru.

Adapun sebabnya karena perubahan itu berasal dari dalam maupun dari luar. Dari dalam karena manusia itu bersifat refleksif tentang keadaan, tentang dunia hidupnya. Hal itu menyebabkan tumbuhnya pengertian, bertambahnya teknik, dan usaha perbaikan. Bersamaan dengan dorongan dari dalam itu berpengaruhlah juga kontak dengan dunia luar. Kontak ini membawa pengertian baru, bersama-sama dengan bentuk-bentuk dan cara-cara yang berlainan pula.

C.  Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang dilakukan secara konseptual terhadap pendidikan yang ikut dipengaruhi oleh fenomena-fenomena peralihan sosio-budaya dengan melakukan telaah phenomenologi, dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukanlah sesuatu hal yang statis, akan tetapi dinamis, dan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS).

Untuk itu diperlukan upaya agar tetap sadar dengan kondisi pendidikan yang ada sekarang, dan harus melakukan tindakan motivasi di segala bidang pendidikan itu sendiri, baik dalam hal interaksi, hal-hal yang terkait dengan komunikasi sosial dan budaya yang berlaku pada sisutasi saat ini. Sehingga pendidikan dapat menghidupkan komunikasi dan interaksi antara pendidik dan anak didik dan dapat mengantisipasi perubahan yang terjadi pada lingkungan internal dan eksternal pendidikan, serta dapat memanusiakan manusia sesuai dengan eksistensi dirinya sebagai makhluk yang memiliki modal sosial dan modal budaya serta dapat menjadikan pendidikan yang berkontribusi terhadap peningkatan kepribadian yang unggul.

Daftar Rujukan

Driyarkara. 1980. Driyarkara tentang Pendidikan. Yogyakarta: Yayasan Kanisius

Noeng Muhadjir. 2003. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial; Edisi V. Yogyakarta: Rake Sarasin

——-. 2013. Metodologi Penelitian; Paradigma Positivistik, Phenomenologi Interpretif, Logika Bahasa Platonis, Chomskyist, Hegelian & Hermeneutik, Paradigma Studi Islam, Matematik Recursion, Set-Theory & Structural Equation Modelling dan Mixed; Edisi VI

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Filsafat Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s