EPISTEMOLOGI KULTURAL BAGI PENGEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN

Oleh: Desyandri

Kebutuhan terhadap Filsafat, khususya Epistemologi Kultural bagi Pengembangan Ilmu Pendidikan

Epistemologi kultural (pengaruh kebudayaan dalam pengetahuan atau pengertian manusia) sangat dibutuhkan oleh pendidikan. Jika dikaitkan dengan pendidikan secara umum dapat dikemukakan bahwa subjek pendidikan adalah manusia. Pendidikan membantu manusia untuk mengenal dan memahami dirinya, sesama, dan dunianya. Kesemuanya itu tidak terlepas dari pengaruh budaya. Dengan kata lain, pendidikan itu tidak lain adalah proses pembudayaan. Berikut dikemukakan beberapa alasan, yakni:

  1. Manusia/peserta didik sebagai makhluk budaya; implikasinya, pendidikan membantu membangun kemampuan mencipta, mengobjektivasi, menyerap, mengkritik, memperindah dunia, dan melestarikan lingkungan.
  2. Salah satu tujuan pendidikan, yakni untuk membantu peserta didik  memahami realitas di sekelilingnya, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ilmu-ilmu lainnya. Realitas secara niscaya dipengaruhi oleh kebudayaan, baik dari masyarakat di sekitarnya maupun kebudayaan yang lebih luas. Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya melalui hal-hal yang dekat dari dirinya. Hal ini sejalan dengan orientasi pendidikan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah hal yang dikonstruksikan peserta didik, yang terus-menerus direvisi.
  3. Pendidikan tidak hanya membantu pengembangan diri peserta didik sebagai individu, tetapi juga mampu menyiapkannya menjadi warga negara yang mampu berperan aktif dalam perubahan sosial budaya di masyarakat.
  4. Pendidikan sebagai pengetahuan normatif, mempelajari proses pengetahuan sedemikian rupa sehingga apa yang diklaim sebagai pengetahuan itu benar, dan pendidikan sebagai pengetahuan deskriptif, menggambarkan bagaimana manusia menafsirkan dirinya, sesama, dan dunianya.
  5. Praktik pendidikan yang cenderung berlandaskan pada orientasi yang menekankan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu yang dikonstruksikan manusia, yang terus menerus dapat direvisi; siswa diajak bersama dengan guru untuk mengkonstruksikan pengetahuan dari awal. Ini dapat dipandang sebagai peralihan dari positivisme ke konstrukstivisme.

Berdasarkan pandangan yang dikemukakan di atas, dapat disintesiskan bahwa pendidikan sebagai proses pembudayaan dan proses humanisasi, sangat membutuhkan perspektif filsafat khususnya epistemologi kultural. Epistemologi kultural mempertanyakan bagaimana proses dan pembenaran pengetahuan manusia, kajian filsafat tentang cara kerja ilmu kebudayaan atau kemanusiaan, dan dalam lingkungan pendidikan berkaitan secara khusus mempelajari bagaimana pendidik dan peserta didik memahami realitas yang secara niscaya dipengaruhi oleh kebudayaan, baik dari masyarakat di sekitarnya atau budaya secara luas.

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Epistemologi Kultural dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s