EVALUASI KURIKULUM 2013

Oleh: Desyandri

Filsafat yang Mendasari

Landasan filosofis pendidikan adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam rangka studi dan praktek pendidikan. Melalui studi pendidikan antara lain diperoleh pemahaman tentang landasan-landasan pendidikan, yang akan dijadikan titik tolak praktek pendidikan. Dengan demikian, landasan filosofis pendidikan sebagai hasil studi pendidikan tersebut, dapat dijadikan titik tolak dalam rangka studi pendidikan yang bersifat filsafiah, yaitu pendekatan yang lebih komprehensif, spekulatif, dan normatif.

Kurikulum 2013 melandasi filsafatnya berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta NKRI yang tercantum dalam UU SPN. Secara umum tidak menjelaskan asumsi filosofis yang di dasarkan pada beberapa aliran filsafat yang mendasari penyempurnaan kurikulum tersebut. Tapi berikut ini akan dipaparkan beberapa pandangan dan paradigma dari beberapa aliran filsafat yang ditengarai menjadi dasar penyempurnaan kurikulum, setidaknya, secara garis besar ada empat aliraran filsafat yang melatarbelakangi, yakni:

  • Aliran Idealisme; adalah suatu pandangan tentang dunia atau metafisik yang menyatakan bahwa realitas dasar terdiri atas atau sangat erat hubungannya dengan ide, fikiran atau jiwa. Dunia difahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum fikiran dan kesadaran, dan tidak hanya oleh metode ilmu obyektif semata. Menurut idealisme, alam ini ada tujuannya, dan tujuan itu bersifat spiritual. Aliran idealisme mengakui nilai dan etika itu absolut. Kebaikan, kebenaran, dan keindahan itu tidak berubah dari generasi ke generasi lainnya. Nilai-nilai dan etika itu bukan buatan manusia, akan tetapi bagian dari hakikat alam itu sendiri.
  • Aliran Eksperimentalisme yang menyatakan bahwa hidup adalah tumbuh, atau mewujudkan diri atau disebut men-transenden. Di sini yang mentransenden itu merupakan alat dan tujuan, yang merupakan hasil proses dari kehidupannya.
  • Aliran Rekonstruksi Sosial-Budaya; mempunyai sikap terhadap perubahan tersebut bahwa mereka mendukung individu untuk mencari kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya dan pada saat ini. Aliran filsafat rekonstruktivisme dapat menjadi alat yang reponsif karena saat ini kita dihadapkan pada sejumlah permasalahan masyarakat yang berhubungan dengan ras, kemiskinan, peperangan, kerusakan lingkungan dan teknologi yang tidak manusiawi yang membutuhkan rekonstruksi/perubahan dengan segera.
  • Aliran Eksistensialisme menghendaki bahwa self/dirilah yang mentransenden dan hanya melalui suatu perbuatan memilih yang tidak didasarkan kepada kriteria mencari keuntungan. Dengan demikian pendidikan membantu individu untuk mampu berbuat memilih sesuatu yang berguna bagi kehidupannya. Manusia adalah kebebasan. Manusia tidak memperoleh kebebasan atau memilikinya, karena dia sendiri adalah kebebasan.

Kekurangan Kurikulum 2013

Berikur ini dikemukakan beberapa kekurangan kurikulum 2013, yakni:

  1. Penyempurnaan dan kurikulum 2013 terkesan tergesa-gesa tanpa dibarengi dengan perencanaan dan pemikiran yang bulat. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa alasan, yakni: (1) KTSP yang digulirkan Tahun 2006, yang belum sempat dilaksanakan dengan tuntas, tiba-tiba dengan bergantinya menteri berganti pula kurikulum; dan (2) penyediaan buku ajar atau buku pelajaran dalam waktu yang relatif pendek. Dapat dibayangkan hasil sebuah pekerjaan yang dikerjakan tergesa-gesa, hal ini paradox dengan motto kurikulum 2013 yang berbasis “science”, dan jika dicermati buku-buku yang diproduksi secara sentralistik, tidak sesuai dengan perbedaan kemampuan, keahlian, dan perbedaan karakteristik masing-masing sekolah.
  2. Secara konseptual muatan kurikulum, sosialisasi, dan implementasinya, terdapat muatan yang tidak seimbang antara penguasaan keilmuan  dengan tuntutan untuk membangun sikap dan karakter peserta didik. Kurikulum dirancang dengan mengaitkan seluruh bidang keilmuan dengan keagamaan, dan ditambah lagi dengan penguasaan pendidikan moral dan karakter. Hal ini, tentu berdampak pada kurangnya penguasaan kemampuan keilmuan dan terjadinya beberapa persoalan tentang perbedaan penjelasan secara keilmuan dengan religi. Kondisi ini memerlukan pemahaman yang mendalam.

Aspek Positif Kurikulum 2013

Terlepas dari kekurangan yang disampaikan sebelumnya, kurikulum 2013 memiliki aspek-aspek posirif dengan yang ditengarai dari beberapa aspek, sebagai berikut:

  • Aspek Konsep Dasar; Menyikapi dokumen penyempurnaan kurikulum 2013, secara konseptual kurikulum 2013 dicanangkan dengan memperhatikan kondisi ekonomi, politik, sosial, dan budaya, serta pesatnya perkembangan IPTEKS yang melanda seluruh lini kehidupan individu sampai pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi sepantasnya dilakukan penyempurnaan kurikulum.
  • Aspek Orientasi; secara konseptual terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara  kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge), serta tidak melepaskan diri nilai-nilai budaya, baik yang ada secara kedaerahan, maupun kebudayaan secara nasional.
  • Aspek Daya Saing; Penyempurnaan kurikulum dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang berada pada “peringkat bawah” dalam dunia internasional. Hal ini sejalan dengan amanat UU No 20 tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemempuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan KBK dan KTSP.
  • Pendekatan Tematik Integratif yang akan dikembangkan tentu sangat menarik untuk diperbincangkan. Sudah tidak ada lagi konsepsi mata pelajaran, sebab mata pelajaran sudah terintegrasi di dalam tema-tema. Jadilah temalah yang menentukan bukan lagi satuan-satuan mata pelajaran.

Kendala Implementasi

  • Struktural

Perubahan kurikulum ini terkesan mendadak, sebab dipersiapkan di tengah tahun ketika anggaran tahun berikutnya sudah memasuki pagu definitif. Oleh karena itu, maka terdapat sejumlah kesulitan untuk melakukan penambahan atau perubahan anggaran terkait dengan implementasi kurikulum baru.

  • Kultural

Kendala kultural berkaitan erat dengan sikap mental (mind set) manusia Indonesia yang melahirkan pola pikir, tindakan, dan kemampuan yang masih berada pada taraf yang belum memadai, baik itu pemerintah, guru-guru, dan tenaga kependidikan. Kendala kultural menjadi kendala bagi sekian banyak manusia Indonesia yang belum sampai pada tahapan kesadaran tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan pengembangan diri dalam menuju manusia yang profesional. Sehingga, membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan suatu perubahan, termasuk upaya untuk penyempurnaan kurikulum.

  • Teknis

Kendala teknis dalam pengimplementasian kurikulum 2013, ditengarai dari beberapa persoalan teknis sebagai berikut:

  1. Pelatihan Guru-guru; sistem peningkatan mutu melalui pelatihan, secara umum tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan pemahaman dan penguasaan yang didapatkan oleh guru-guru. Sehingga, permasalahan utama untuk merubah “mind set” guru-guru dalam menerapkan kurikulum yang baru dapat digmbarkan jauh dari harapan yang semestinya. Melihat teknis pelatihan guru-guru yang diberikan secara bersama-sama dalam jumlah yang banyak.
  2. Banyaknya Tuntutan Perangkat Pembelajaran; guru dijejali dengan segenap tugas untuk menyelesaikan perangkat pembelajaran. Sehingga waktu untuk mendidik menjadi berkurang dan tersita oleh pekerjaan administrasi yang sangat banyak dan melelahkan. Hal ini berdampak negatif terhadap pengembangan peserta didik
  3. Penyedian Buku Teks; buku merupakan kebutuhan vital sebagai pegangan guru dan murid dalam meningkatkan kemampuan keilmuan dan untuk belajar. Persoalan buku teks tidak bisa dipecahkan seketika. Pengadaan buku memerlukan proses panjang: dari penulisan draf naskah, pembacaan oleh reviewer, koreksi oleh editor bahasa, finalisasi naskah, layout, cetak, hingga distribusi.

Kemampuan Lulusan dalam Penguasaan Ilmu dan Teknologi

Kemampuan lulusan dalam penguasaan ilmu dan teknologi secara umum terlihat bahwa masih sangat jauh harapan apalagi untuk bersaing dengan dunia internasional. Hal ini dikemukakan dengan alasan; (a) guru disibukkan dengan urusan menyusun perangkat pembelajaran yang begitu rumit, sehingga tidak fokus untuk mendidik dan meningkatkan kemampuan keilmuan peserta didik; (b) penggabungan antara materi keilmuan dengan religi yang memiliki perbedaan yang substansial; dan (c) menjadikan mata pelajaran teknologi, informasi, komputer, dan bahasa Inggris ke dalam muatan lokal. Hal ini tentu menghalangi atau memperkecil peserta didik untuk mengembangkan keilmuan dan kemampuan menguasai teknologi, serta menjadikan mereka sulit untuk berkomunikasi secara internasional.

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Kurikulum dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke EVALUASI KURIKULUM 2013

  1. runggasa farul berkata:

    saya sangat setuju dengan hasil analisa bapk tentg kendala impleme tasi kurikulum 2013 ini utamanya banyaknya tugas administrasi guru yang harus diselesaikan.

  2. Adi Tri Wibowo berkata:

    Saya setuju dengan analisis Bapak, tapi mohon ijin saya akan sedikit menyampaikan opini.Jika melihat kerangka dari kurikulum 2013,bisa dikatakan baik karena sesuai perkembangan IPTEK saat ini. Tapi disisi lain pemerintah tidak melihat iklim pendidikan secara nasional,dari Sabang sampai Merauke. Jangan samakan Jakarta dengan daerah terpencil di NTT, harusnya pemerintah melihat realita pendidikan dari bawah, bukan mengedepankan ego akan penerapan kurikulum tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s