ISTILAH-ISTILAH DALAM TEORI PERKEMBANGAN

Oleh: Desyandri

1.    The Zona Proximal Development (ZPD)

Zona Proximal Development ( ZPD ) ialah istilah Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau anak-anak yang yang lebih terampil. Batas Zona proximal Development (ZPD) yang lebih rendah ialah level pemecahan masalah yang di capai oleh seorang anak yang bekerja secara mandiri. Dan batas yang lebih tinggi ialah level tanggung jawab tambahan yang dapat di terima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur yang mampu. Penekanan Vygotsky pada Zona proximal Development (ZPD) menegaskan keyakinannya tentang pentingnya pengaruh-pengaruh sosial terhadap perkembangan kognitif dan peran pengajaran dalam perkembangan sosial. Zona proximal Development (ZPD) dikonseptualisasikan sebagai suatu ukuran potensi pembelajaran, akan tetapi IQ menekankan bahwa intelegensi adalah milik anak. Sedangkan Zona proximal Development (ZPD) menekankan bahwa pembelajaran adalah suatu peristiwa sosial yang bersifat interpersonal dan dinamis yang tergantung pada paling sedikit dua pikiran, dimana yang satu lebih berilmu atau lebih terlatih dari yang lain. Pembelajaran oleh anak-anak kecil yang baru berjalan memberi contoh bagaimana Zona proximal Development (ZPD) bekerja. Anak-anak kecil yang baru berjalan itu harus di motivasi dan harus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut ketrampilan buat mereka. Guru harus memiliki pengetahuan untuk melatihkan ketrampilan yang menjadi target pada setiap tingkat yang di persyaratkan oleh aktifitasnya. Guru dan anak harus saling menyesuaikan persyaratan masing-masing.

Dalam suatu penelitian tentang hubungan antara anak-anak yang baru belajar berjalan dengan ibunya, pasangan itu di tugaskan untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang terdiri atas berbagai jumlah (sedikit obyek vs banyak obyek) dan berbagai kompleksitas (perhitungan sederhana vs reproduksi angka). Para ibu di minta mengerjakan tugas ini sebagai suatu peluang untuk mendorong pembelajaran dan pemahaman akan anak mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pemikiran pada mulanya berkembang sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya bersatu.

Menurut Vygotsky, zona perkembangan proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan Sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerja sama dengan teman sebaya. Zona perkembangan proximal menitik beratkan pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika seorang siswa mengerjakan pekerjaannya disekolah sendiri, perkembangan mereka akan lambat . jadi untuk memaksimalkan perkembangan siswa seharusnya bekerja dengan teman sebaya yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks. Melalui interaksi yang berturut-turut ini diharapkan dapat mengembangkan pengalaman berbicara, bersikap dan berdiskusi secara baik.

2.    Epigenesis

Epigenesis merupakan perkembangan berlangsung dalam organisme, mulai dari telur sampai dengan menjadi suatu organis yang utuh melalui urutan-urutan atau  langkah-langkah tertentu di mana sel-sel dan organ membedakan bentuk dan fungsi dari masing-masing organisme.  Epigenesis mengacu pada pengaruh lingkungan terhadap ekspresi kode genetik. Banyak gen membutuhkan kondisi lingkungan yang spesifik untuk diungkapkan, dan banyak gen yang tidak pernah diungkapkan. Program Genetik  mengacu pada potensi untuk memulai dan merancang proses fisiologis tertentu yang pada akhirnya mungkin menampakkan diri dalam suatu sifat suatu organisme seperti perilaku.

Warisan epigenetic adalah ketika informasi yang dikirim ke generasi berikutnya yang tidak melibatkan perubahan dalam urutan DNA – Ekspresi gen dapat dimodulasi tanpa benar-benar mengubah DNA dengan metilasi (yang biasanya gen diam) atau salah satu dari beberapa cara lain yang mungkin mengubah lingkungan yang dapat mengaktifkan gen tertentu. Dalam beberapa hal, transmisi kendala dalam ekspresi genetik (DNA bahkan jika tidak berubah) menyerupai “transmisi karakteristik yang diperoleh”, umumnya dianggap sebagai hipotesis yang tidak masuk akal karena tampaknya bergantung pada perubahan dalam kode genetika, tapi ekspresi kode selektif yang dalam banyak hal fungsinya serupa.

3.    Teori Sosiobiologi

Pada umumnya sosiobiologi didefinisikan sebagai studi sistematis mengenai basis biologis yang mendasari segala prilaku sosial (Wilson, 1975). Dimana prilaku sosial didefinisikan sebagai ineraksi antar organisme. Para ahli sosiobiologi memandang prilaku manusia yang paling komplek sekalipun, seperti pemilihan pasangan atau pengasuhan anak, sebagai hal yang memiliki basis biologi. Prilaku-prilaku kompleks semacam itu adalah hasil dari kemajuan evolusioner, bukan sebagai hasil belajar, dan dari segi bentuk dan fungsinya amat mirip dengan kategori-kategori prilaku yang sama pada hewan-hewan lain.

Para ahli sosiobiologi menegaskan bahwa suatu organisme memiliki peraturan dasar untuk mengembangkan pola-pola yang menyambung keberhasilan reproduksi speciesnya. Sering kali dengan megorbankan genarasi tua. Maksudnya tugas terpenting bagi organisme adalah menjamin kelangsungan evolosioner speciesnya, yang menuntut penyampaian warisan genetik pribadi milik organisme tersebut; kemudian unsur penting namun bersifat skunder adalah penyampaian kultur organisme yang mendukung wairsan itu. Sebagai contoh pengorbanan yang begitu tinggi dalam kultur bangsa Eksimo tradisional. Di kalangan orang Eksimo dewasa ini, mereka sangat menghormati para orang tuanya. Ini didasarkan antara lain pada tindakan mengorbankan diri yang pada masa silam dilakukan oleh nenek moyang anggota keluarga yang lebih muda dan hidup saat ini. Secara sosiobiologis prilaku ini bisa ditafsirkan para kakek nenek yang telah banyak mengenyam pengalaman hidup mengambil satu-satunya pilihan yang bisa mereka ambil. Dan melakukan pengorbanan demi segenap sukunya, untuk memastikan bahwa species mereka terus menjaga kelangsungan hidupnya. Apa yang dilakukan oleh nenek moyang masyarakat Eksimo merupakan warisan genetika mereka.

Para ahli sisiobiologi berpandangan bahwa mata rantai yang menghubungkan status evolusi dan para nenek moyang genetikanya yang dekat maupun yang jauh hampir tidak bisa dipatahkan. Ini berarti bahwa pembawaan genetika menjadi hal yang terpenting dalam kaitanya dengan prilaku. Hal ini juga berarti manusia tidak bersifat unik baik secara moral maupun spiritual diantara binatang-binatang lainya. Dan memang, kebanyakan ahli sosiobiologi yakin bahkan sifat Altruisme (kemampuan manusia untuk mengorbankan dirinya) yang dibanggakan ummat manusiapun memiliki dasar genetika.

4.    Komponen Struktural dari Sigmund Freud

Semua teori kepribadian menyepakti bahwa manusia, seperti binatang lain, dilahirkan dengan sejumlah insting dan motifasi. Insting yang paling dasar ialah tangisan. Ketika lahir tentunya kekuatan motifasi dalam diri tentunya belum dipengaruhi oleh dunia luar. kekuatan ini bersifat mendasar dan individual. Frued membagi struktur kepribadian kedalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Prilaku seseorang merupakan hasil dari interaksi antara ketiga komponen tersebut.

  • Id 

Id berisikan motifasi dan energy positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupakan sumber dari dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dll). Prinsip kesenangan merujuk pada pencapaian kepuasan yang segera, dan id orientasinya bersifat fantasi (maya). Untuk memperoleh kesengan id menempuh dua cara yaitu melalui reflex dan proses primer, proses primer yaitu dalam mengurangi ketegangan dengan berkhayal.

  • Ego 

Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjembatani anatara id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan berorintasi pada prinsip realita (reality principle). Dalam mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistik dan berfikir rasional. Dalam proses disebelumnya yaitu proses primer hanya membawanya pada suatu titik, dimana ia mendapat gambaran dari benda yang akan memuaskan keinginannya, langkah selanjutnya adalah mewujudkan apa yang ada di id dan langkah ini melalui proses sekunder. Dalam upaya memuaskan dorongan, ego sering bersifat prakmatis, kurang memperhatikan nilai/norma, atau bersifat hedonis.

Hal yang perlu diperhatikan dari ego adalah :

1) Ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan kebutuhan id.

2)   Seluruh energy (daya) ego berasal dari id

3)   Peran utama memenuhi kebutuhan id dan lingkungan sekitar

4)   Ego bertujuan untuk mempertahankan kehidupan individu dan pengembanbiakannya.

  • Super Ego

Super ego merupak cabang dari moril atau keadilan dari kepridadian, yang mewakili alam ideal dari pada alam nyata serta menuju ke arah yang sempurna yang merupakan komponen kepribadian terkait dengan standar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Dengan terbentuknya super ego berarti pada diri individu telah terbentuk kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri (self control) menggantikan control dari orang tua (out control). Fungsi super ego adalah sebagai berikut:

a)    Merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif

b) Mendorong ego untuk mengantikan tujuan-tujuan relistik dengan tujuan-tujuan moralistic.

c)    Mengejar kesempurnaan (perfection).

Struktur kepribadian id-ego-superego itu bukan bagian-bagian yang menjalankan kepribadian, tetapi itu adalah nama dalam sistem struktur dan proses psikologik yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Biasanya sistem-sistem itu bekerja bersama sebagai team, di bawah arahan ego. Baru kalau timbul konflik diantara ketiga struktur itu, mungkin sekali muncul tingkahlaku abnormal.

Diterjemahkan dan di-resume dari:

Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Teori Perkembangan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s