KRISIS ILMU DAN KEMANUSIAAN

Oleh: Desyandri

Menyikapi krisis ilmu di Eropa dalam pandangan E. Husserl membawa krisis kemanusiaan, karena ilmu-ilmu kemanusiaan (termasuk di dalamnya ilmu pendidikan), yang semestinya mau mengungkap apa yang khas manusiawi, menjadi tidak mendapat tempat yang semestinya.

Implikasi Praktisnya dalam Melakukan Penelitian Pendidikan.

Dominasi metode dan asumsi ilmu alam dipandang oleh Husserl telah mengkerdilkan kebudayaan manusia modern secara naif, seakan-akan dimensi spiritual telah kehilangan jati dirinya. Reduksi dimensi spiritual manusia ke dalam metode-metode dan asumsi-asumsi ilmu-ilmu pasti atau ilmu alam telah membawa manusia pada penilaian-penilaian yang melulu bersifat fisik dan objektif. Inilah yang disebut dengan reduksi atas dimensi spiritual-transendental manusia pada hal-hal yang bersifat praktis dan pragmatis, yang melulu bersifat objektif dan lahiriah. Reduksi semacam ini jelas dianggap memiskinkan perspektif manusia atas dirinya sendiri dan dunianya. Inilah yang disebut oleh Husserl sebagai krisis ilmu-ilmu di Eropa.

Hanya dengan membuang segala asumsi, pengandaian, dan prasangka, menurut Husserl, diharapkan bisa mengenal dan memahami segala sesuatu seturut aslinya. Pengalaman-pengalaman hidup kita menjadi lebih aktual dan dibebaskan dari bias-bias yang mungkin ada ketika kita membebaskan diri kita dari segala prasangka, pengandaian, atau asumsi-asumsi kita. Dikatakan, dengan “melepas” asumsi-asumsi maka segala sesuatu akan menampakkan dirinya kepada subjek apa adanya. Kata-kata Husserl yang terkenal adalah “kembalilah kepada benda-benda itu sendiri”, maka benda-benda akan menampakkan dirinya dengan cara yang asli, sejati, dan apa adanya.

Oleh karena itu, pandangan yang dikemukakan Husserl berimplikasi terhadap penelitian dalam pendidikan. Sejatinya penelitian pendidikan yang berfokus pada ciri-ciri dinamis manusia yang tidak pernah selesai dan berkembang terus. Manusia sebagai objek sekaligus sebagai subjek. Dan aspek batin, makna, maksud, dan nilai yang tidak dapat diakses secara langsung disimpulkan dari ungkapan lahirnya yang perlu ditafsirkan.

Berdasarkan krisis ilmu di Eropa dan implikasi terhadap penelitian penelitian pendidikan dapat dikemukakan bahwa penelitian tentang pendidikan dengan pendekatan kuantitatif saja tidak cukup, berikut dikemukakan beberapa pandangan, yakni:

1) Pendidikan sebagai proses humanisasi menempatkan martabat manusia dalam memandang tujuan dan aktivitas pendidikan. Dengan demikian, pendidikan merupakan kajian-kajian tentang ilmu-ilmu kemanusiaan yang mengkaji gejala, stuktur, lembaga, hubungan dan perilaku sosia, politik, ekonomi, dan budaya manusia dalam masyarakat. Secara empiris dapat dikatakan bahwa pendidikan terkait dengan ilmu empiris yang mempelajari manusia dalam segala aspek hidupnya, yakni: ciri khas, perilaku, baik perorangan maupun bersama, dalam lingkup kecil maupun besar.

2)   Ilmu kemanusiaan terkait dengan menafsirkan dan memahami makna dan kekhasan perilaku sosialnya secara lebih baik. Ruang (sosialitas) dan waktu (historisitas) merupakan suatu yang analog yang memuat kesamaan sekaligus perbedaan, dan memiliki keunikan tersendiri.

3)  Manusia menjadi objek sekaligus subjek dalam pendidikan bukan merupakan benda yang dapat diberlakukan melulu sebagai objek untuk diselidiki melainkan sebagai subjek yang martabatnya sebagai manusia layak dihormati. Subjek dan objek dalam penyelidikan ilmu kemanusiaan saling mempengaruhi tanpa henti dan amat intensif.

4)  Ilmu kemanusiaan memiliki titik pangkal yang berbeda dengan ilmu alam: manusia penyelidik tak berada di luar objek yang diselidiknya, sehingga kepentingan dan nilai-nilai kontekstual wajar berpengaruh pada kegiatan penelitiannya.

5)  Kriteria ilmu kemanusiaan lebih mendalam, utuh tentang perilaku sosial manusia dalam konteks sejarah dan kebudayaannya.

6)   Perilaku/tindakan manusia sebagai objek kajian ilmu kemanusiaan memuat unsur maksud, makna, nilai yang tidak dapat direduksi pada perilaku lahir yang dapat diamati dan diukur secara pasti.

Berdasarkan pemahaman dan pemaknaan tentang pendidikan sebagai proses humanisasi (pemanusiaan), dapat dipandang secara epistemologi sebagai sebagai ilmu tentang kemanusiaan yang menitikberatkan pada keberhargaan dan kebernilaian harkat dan martabat manusia tersebut. Jadi kajian atau penelitian tentang manusia tentu diarahkan pada keseluruhan aspek manusia secara utuh dan menyeluruh, serta berhubungan dengan faktor sejarah dan kebudayaannya.

Pencarian dalam pendidikan bukanlah penemuan hukum perilaku manusia sebagai proses yang berulang-ulang, ruang dan waktu yang selalu bisa diukur dengan ukuran yang persis sama, manusia bukan benda fisik yang diberlakukan melulu sebagai objek, manusia bukan sebagai kelinci percobaan, dan manusia penyelidik yang berada di luar objek yang diselidikinya, sehingga kepentingan dan nilai-nilai kontekstual wajar berpengaruh pada kegiatan penelitiannya, serta kriteria sukses dalam prediksi dan penerapan teknologis. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan untuk memahami perilaku/tindakan manusia dalam pendidikan tidak cukup hanya dengan manggunakan penelitian kuantitatif, melainkan lebih mengarah pada pencarian dengan menggunakan penelitian kualitatif.

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Penelitian Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s