MENGAPA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL?

Oleh: Desyandri

Pendidikan Multikultural

Pendidikan multikultural merupakan konsep, ide/falsafah sebagai suatu rangkaian kepercayaan dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan-kesempatan pendidikan dari, kelompok, maupun negara. Faham yang memperjuangan bukan hanya pengakuan adanya fakta kemajemukan budaya dalam masyarakat, tetapi sekaligus menjadikan fakta tersebut perlu dihormati, dilestarikan, dan dikembangkan. Dan dari sisi lain, pendidikan multikultural merupakan suatu bentuk reformasi pendidikan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan yang setara bagi semua siswa tanpa memandang latar belakangnya, sehingga semua siswa dapat meningkatkan kemampuan yang secara optimal sesuai dengan ketertarikan, minat dan bakat yang dimiliki.

Pendidikan multikultural dapat diberlakukan sebagai alat bantu untuk menjadikan warga masyarakat lebih memiliki karakter toleran, bersifat inklusif, dan memiliki jiwa kesadaran dalam hidup bermasyarakat, serta senantiasa berpendirian suatu masyarakat secara keseluruhan akan lebih baik, manakala siapa saja warga masyarakat memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki bagi masyarakat sebagai keutuhan. Dengan kata lain, diperlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kondisi keberagaman, baik secara individu, sosial, masyarakat, maupun dalam kehidupan bernegara.

Mengapa, dewasa ini Pendidikan Multikultural dipandang penting untuk dilakukan?

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terkenal dengan kemajemukannya dan merupakan negara dengan keanekaragaman etnis budaya dan agama. Penduduk Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dengan keunikan identitas budayanya sendiri. Dilihat dari segi geografis Indonesia merupakan negara kepulauan dengan penduduk yang tersebar di daerah pegunungan, pesisir pantai dengan karakteristik lingkungan yang berbeda satu sama lain dan ditandai dengan adanya perbedaan strata sosial dan pertumbuhan ekonomi yang belum merata. Sesuai dengan falsafah negara Pancasila terutama sila ke lima yang mencita-citakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk yang multikultur.

Dengan demikian dapat diungkapkan bahwa kebudayaan di Indonesia secara hirarki menentukan identitas diri seseorang, yang tidak hanya dibentuk oleh kesamaan akan tetapi juga dibentuk oleh perbedaan-perbedaan yang ada dan perlu ditoleransi, dihormati, dan dilestarikan sebagai kekayaan. Agar terciptanya keadilan sosial dalam kehidupan manusia diperlukan aktivitas pendidikan yang mengakomodir seluruh keberagaman tersebut. Pendidikan memiliki peranan penting untuk menanamkan nilai-nilai keragaman budaya, sehingga nilai-nilai keragaman tersebut dapat membangun peradaban bangsa.

Permasalahan lain ditandai dengan masuknya globalisasi, demokrasi, keadilan sosial, dan HAM, serta munculnya permasalahan ketidakadilan (inequity), ketidaksetaraan (inequality), dan ketidakharmonisan, adanya disparitas, genderisme, dan perlakuan-perlakuan yang menghambat pengembangan kompetensi peserta didik dalam pembelajaran. Dengan kata lain kurangnya kesadaran, perilaku apresiasi, dan harmonisasi baik itu dari aspek pendidik, peserta didik, sekolah maupun di lingkungan budaya masyarakat. Pendidikan multikultural menggabungkan ide bahwa semua peserta didik – tanpa memandang jenis kelamin mereka, kelas sosial, dan etnis, ras, atau budaya karakteristik – harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah.

Apakah dengan menekankan pentingnya kebudayaan berarti secara normatif setiap kelompok budaya memiliki epistemologinya sendiri?

Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa pentingnya kebudayaan secara normatif setiap kelompok budaya memiliki epistemologinya sendiri. Akan tetapi, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang terdiri dari berbagai budaya, perlu diperhatikan bahwa semua buaya-budaya yang (budaya daerah) memiliki kekhasan tersendiri. Untuk itu, epistemologi yang dijadikan sumber pengetahuan bagi setiap budaya-budaya daerah tersebut tidaklah sama, bahkan ada yang berlawanan.

Menyikapi hal demikian, diperlukan suatu uapaya untuk mengambil epistemologi masing-masing budaya yang memiliki epistemologi yang universal. Jika dikaitkan dengan pendidikan multikultural, memberikan kesadaran bahwa setiap budaya tidak sama, dan memiliki perbedaan satu sama lain. Dengan arti kata, diperlukan pemahaman bahwa perbedaan tersebut merupakan sebuah kekuatan yang harus dibina, demi terciptanya kebudayaan nasional. Budaya daerah sebagai tonggak-tonggak kebudayaan nasional. Kebudayaan tidak hanya dibentuk oleh kesamaan, tetapi juga oleh perbedaan. Perbedaan tidak hanya memerlukan toleransi, akan tetapi sesuatu yang perlu dilestarikan.

Pendidikan multikultural memiliki tiga sasaran. Pertama, pengembangan identitas kultural yakni merupakan kompetensi yang dimiliki siswa untuk mengidentifikasi dirinya dengan suatu etnis tertentu. Kompetensi ini mencakup pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran akan kelompok etnis dan menimbulkan kebanggaan serta percaya diri sebagai warga kelompok etnis tertentu. Kedua, hubungan interpersonal. Kompetensi untuk melakukan hubungan dengan kelompok etnis lain, dengan senantiasa mendasarkan pada persamaan dan kesetaraan, serta menjauhi sifat syak wasangka dan stereotip. Ketiga, memberdayakan diri sendiri. Yakni suatu kemampuan untuk mengembangkan secara terus menerus apa yang dimiliki berkaitan dengan kehidupan multikultural. Ketiga sasaran ini merupakan kompetensi kultural.

Kebudayaan harus bersikap terbuka, namun kritis dan selektif terhadap pengaruh kebudayaan di sekitar. Hanya unsur-unsur yang dapat memperkaya dan mempertinggi mutu kebudayaan saja yang dapat diambil dan diterima, setelah dicerna dan disesuaikan dengan kepribadian bangsa. Hal ini merekomendasikan bahwa pembentukan karakter harus berakar pada budaya bangsa, meskipun tidak tertutup kemungkinan untuk mengakomodir budaya luar yang baik dan selaras dengan budaya bangsa.

Bersama-sama bangsa lain diusahakan terbinanya karakter dunia sebagai kebudayaan kesatuan umat sedunia (konvergen), tanpa mengorbankan kepribadian atau identitas bangsa masing-masing. Kekhususan kebudayaan bangsa Indonesia tidak harus ditiadakan, demi membangun kebudayaan dunia.

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Multikultural dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s