PRINSIP-PRINSIP DASAR TEORI PERKEMBANGAN (ARNOLD GESSEL)

Oleh: Desyandri

Dalam semua aktivitasnya, Gesell berfokus pada perkembangan anak-anak dan menekankan pentingnya kontrol biologi. Lingkungan bisa untuk sementara mempengaruhi tingkat kecepatan perkembangan seorang anak, akan tetapi faktor-faktor biologi individu sepenuhnya mengendalikan perkembangan. Gesell menyatakan ada lima prinsip dasar perkembangan yang menurut penjelasannya memiliki dampak psikoformologis artinya, semua itu menggambarkan proses-proses perkembangan yang terjadi baik di tingkatan psikologis maupun di tingkatan struktural. Gesell juga mengembalikan sebagian besar prinsip ini pada fungsi-fungsi biologis yang terdapat dalam sampel kanak-kanak normal yang ia teliti.

Arnold Gesell membagi prinsip-prinsip dasar pemkembangan menjadi lima yaitu:

1)      Principle of Developmental Direction (Prinsip Arah Perkembangan)

Prinsip arah perkembangan dalam pemikiran Gesell mengandung arti bahwa perkembangan tidak berlangsung acak, melainkan dalam pola yang teratur. Kenyataanya adalah perkembangan bergerak maju secara sistematis dari kepala hingga ke ujung kaki,contohnya seorang bayi yang baru lahir relatif lebih matang susunan saraf motoriknya di bagian kepala daripada yang ada di bagiannya muncul lebih dulu dibandingkan koordinasi kaki.

Perkembangan ini cendrung dalam teratur mulai dari arah kepala ke kaki, hal ini disebut sebagai tren cefalokaudal (cephalocaudal trend). Perkembangan juga bergerak dari pusat tubuh ke arah luar, ke arah pinggir. Contohnya, gerakan-gerakan bahu terlihat jauh lebih teratur pada awal kehidupan seorang anak dibandingkan gerakan-gerakan pergelangan tangan dan jari-jemarinya. Berikutnya adalah tren proksimodistal (proximodistal trend) atau dari arah terdekat menuju yang terjauh, bisa dilihat pada perilaku tangan yang menggenggam pada anak. Pada usia 20 minggu, perilaku ini berlangsung secara serampangan dan didominasi oleh gerakan-gerakan lengan atas, tetapi pada minggu ke-28, ketika si anak sudah bisa menggunakan jempolnya secara lebih cermat, gerakan ini menunjukkan keahlian motorik yang lebih baik. Kedua tren cefalokaudal dan proksimodistal ini menguatkan pendapat Gesell bahwa perkembangan (dan perilaku) memiliki arah dan arah ini pada dasarnya merupakan suatu fungsi mekanisme genetik yang telah terprogram.

2)      Principle of Reciprocal Interweaving (Prinsip Jalinan Timbalbalik)

Pada perilaku ini dari sebuah prinsip psikologi yang disebut sebagai reciprocal innervation (aktivitas saraf secara timbal balik), yang diajukan oleh Sir. Charles Scott Sherrington, pemenang Hadiah Nobel kedokteran tahun 1932. Prinsip fisiologis Sherrington menyatakan bahwa pengencangan dan peregangan otot-otot yang berbeda-beda sama-sama saling melengkapi untuk menghasilkan gerakan tubuh yang efisien. Gesell menegaskan bahwa fenomena seperti itu juga beroperasi dalam proses perkembangan artinya, berlangsungnya pola-pola perilaku membutuhkan pertumbuhan struktural yang saling melengkapi. Gesell menjelaskan urutan perkembangan yang menghasilkan aktivitas berjalan kaki sebagai rangkaian pergantian antara dominasi otot pengencang dan dominasi otot pelonggar pada lengan dan kaki; hal ini dilakukan melalui semacam koordinasi dan integrasi otot-otot saraf dalam jangka waktu tertentu.

Gesell menggunakan prinsip ini untuk menggambarkan berkembangnya kemampuan berjalan kaki dan juga berkembangnya kemampuan menggerakkan tangan-kanan atau tangan-kiri. Ia menyimpulkan prinsip tersebut sebagai susunan hubungan timbal-balik antara dua fungsi atau sistem saraf motorik yang saling berlawanan, yang secara ontogenik terwujud melalui peralihan periodik yang semakin meningkat antara berbagai komponen fungsi atau sistem, dengan modulasi dan integrasi progresif pada pola-pola perilaku yang dihasilkan (Gesell, 1954, h. 349). Melalui prose-proses yang saling melengkapi seperti itu, rangkaian kekuatan yang saling berlawanan menjadi meningkat (atau dominan) dalam waktu yang berbeda-beda selama berlangsungnya siklus perkembangan. Kinerja dari kekuatan-kekuatan yang berlawanan ini menghasilkan integrasi dan kemajuan ke arah tingkat kematangan yang lebih tinggi.

3)      Principle of Functional Asymmetry (Prinsip Asimetri Fungsional):

Menurut prinsip ini prilaku berlangsung melalui periode-priode perkembangan yang bersifat asimetris (tidak seimbang) agar organisme bisa mencapai  kadar kematangan pada tahapan selanjutnya. Contoh yang diberikan oleh Gesell sebagai ilustrasi mengenai prinsip kompleks ini diantaranya adalah tanggapan dasar yang disebut refleks pengencangan otot leher (tonic neck reflex). Refleks ini terjadi ketika seorang anak mengambil posisi tubuh seperti seorang pemain anggar, di mana kepala menoleh ke satu sisi, satu tangan terentang ke samping dan kaki pada sisi tersebut tetap lurus, sementara tangan yang lain terlipat melintang di dada, dan kaki lainnya menekuk lutut.

Perilaku asimetris ini menjadi pendahuluan bagi pencapaian perkembangan simetris berikutnya, di mana kedua tangan si anak secara berbarengan memegangi suatu benda yang tergantung. Ini menjadi langkah penting bagi si anak untuk menguasai dan memahami lingkungannya. Gesell juga menegaskan bahwa prinsip asimetri fungsional sangat terkait dengan perkembangan gerakan tangan dan bentuk-bentuk dominasi psikomotor yang lainnya. Hal itu juga membantu mencegah anak-anak dari kemungkinan kekurangan napas (dengan cara menolehkan kepala) dan merupakan simpanan dari berbagai refleks yang turut menyumbang terbentuknya tindakan tertentu, misalnya melempar bola dan bahkan agresi.

4)      Principle of Individuating Maturation (Prinsip Kematangan Individu):

Prinsip ini menekankan pentingnya pola pertumbuhan, yakni mekanisme internal dalam diri individu yang menentukan arah dan pola perkembangannya.  Menurut Prinsip maturasi individuasi, perkembangan merupakan proses terbentuknya pola-pola berurutan yang telah tertentukan dan terwujud seiring dengan bertambah matangnya organisme.

Gesell menekankan hubungan antara pematangan dengan lingkungan sebagai berikut: Faktor-faktor lingkungan ikut mendukung, membelokkan, dan meng-khususkan; tetapi faktor-faktor lingkungan tidak menjadi penyebab munculnya bentuk-bentuk pokok dan tata urutan ontogenesis. Sebagai konsekuensinya, pembelajaran (learning) hanya bisa terjadi ketika struktur-struktur telah berkembang sehingga memungkinkan terjadi adaptasi perilaku, dan sebelum struktur-struktur itu berkembang maka pendidikan semacam apa pun tidak akan bisa efektif. Gesell sangat menekankan peranan faktor-faktor biologi. Gesell menegaskan bahwa efek-efek lingkungan terhadap hasil akhir perkembangan bersifat amat terbatas.

5)      Principle of Self-Regulatory Fluctuation (prinsip fluktuasi teratur):

Menurut Prinsip Pluktuasi teratur, setiap tahap yang berjalan dengan tidak seimbang atau goyah akan dikuti oleh satu tahapan perkembangan yang seimbang. Artinya bahwa perkembangan bergerak naik-turun (fluctuates) antara periode stabil dan periode tidak stabil, dan antara periode pertumbuhan aktif dan periode konsolidasi. Fluktuasi progresif ini, yang amat mirip dengan kaidah “memberi dan menerima” dalam prinsip jalinan timbal balik, berpuncak pada serangkaian tanggapan yang bersifat stabil. Semua fluktuasi ini bukannya tidak dikehendaki atau berjalan acak. Sebaliknya, semua itu merupakan upaya organisme untuk mempertahankan keutuhannya sambil memastikan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan tetap berjalan.

Menurut Gesell, dalam kenyataannya setiap urutan tahapan yang khas akan berlangsung berulang-ulang seiring dengan semakin dewasanya si anak, dan tahapan-tahapan yang tidak seimbang atau goyah akan selalu diikuti oleh tahapan-tahapan yang seimbang. Gambar 3.1 menunjukkan tingkatan keseimbangan dalarn perkembangan anak sejak usia 2 hingga 16 tahun, menggambarkan bagaimana perkembangan berlangsung dalam siklus yang meliputi keadaan yang relatif seimbang sampai keadaan yang relatif tidak seimbang. Garis tren dalam gambar menunjukkan karakteristik perilaku anak-anak pada umumnya, dan balikan perilaku setiap anak.

Meskipun kelima prinsip yang dipaparkan di atas bisa diamati dalam pola-pola pertumbuhan semua (mak, Gesell juga menekankan pentingnya perbedaan individu yang beranekaragam dan stabil. Salah satu sumbangan unik dari Gesell bagi psikologi perkembangan adalah upayanya menggunakan gambar-gambar bergerak untuk merekam perkembangan anak-anak yang tengah diteliti. Gesell dan para rekannya pertama kali menggunakan ‘rekaman-rekaman sinema ini untuk meneliti lima anak kecil dalam tahun-tahun awal kehidupan mereka, mereka meneliti lagi anak-anak yang sama ini 5 tahun kemudian.

2.b. Pandangan Teori Gesell disebut Model Maturasi

Pandangan teori Gesell disebut sebagai model maturasi karena Gesell yakin bahwa pengaruh terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan organisme manusia adalah faktor biologi. Menekankan terhadap proses-proses biologi, oleh karena itu Gesell menfokuskan sebagian karyanya pada pematangan (maturation), karena  memandang maturasi adalah sebagai sebuah proses yang amat penting karena diyakini hal itu berdampak besar pada setiap aspek perkembangan manusia. Sistem-sistem biologis sebagai titik tolak untuk memahami perkembangan suatu organisme manusia. Gesell juga memikirkan akibat yang mungkin muncul dari depresi terhadap daya tahan  dan juga peran apa yang mungkin di mainkan oleh maturasi untuk memagari individu dari efek-efek depresi.

Tingkat perkembangan anak berjalan melalui urutan yang ditentukan secara individual oleh genotip anak itu sendiri (yakni, latar belakang keturunan anak yang diterima dari nenek moyangnya). Meskipun tingkat laju perkembangan bisa diubah melalui rekayasa, perubahan yang dilakukan tidak fundamental. Dengan demikian, seorang anak yang berkembang dengan kecepatan lambat dibandingkan anak-anak pada umumnya tidak bisa diubah, sebagaimana halnya anak yang berkembang lebih cepat juga tidak bisa diubah arahnya. Di sisi lain, lingkungan bisa memengaruhi untuk sementara kecepatan perkembangan seorang anak. Sebagai contoh, tingkat kecepatan perkembangan bisa terpengaruh oleh kekurangan gizi atau sakit, akan tetapi faktor-faktor biologi sepenuhnya berada dalam kendali. Ini serupa dengan keadaan di mana karakteristik biologi spesies mengendalikan urutan perkembangan. Frances Jig dan Louise Bates Ames (1955), dua orang rekan Gesell, dengan tepat dan ringkas menyatakan intisari pendirian ini dalam salah satu buku mereka yang populer: “Lingkungan” yang mendukung memungkinkan setiap individu untuk mengem-bangkan asetnya yang paling positif bagi kehidupan. Lingkungan yang tidak mendukung bisa menghambat dan menekan potensi alamiah individu. Tetapi tidak ada lingkungan, entah itu yang baik atau buruk, yang pengaruhnya sampai mengubah seseorang dari individu jenis tertentu menjadi individu jenisnya. Itulah sebabnya teori Gesell disebut tori maturasi, karena faktor biologis dan mempengaruhi kematangan ornanisme dari pada lingkungan.

Penelitian Gesell tentang penjelasan Arti penting Maturasi vs Belajar

Fokus utama dalam penelitian Gesell adalah pengamatan dan prekaman perubahan dan pertumbuhan fisik. Sebagian besar karyanya membantu memberi kita pemahaman baru mengenai adanya wilayah perkembangan baru selain wilayah perkembangan biologis, seperti perkembangan kepribadian dan kognitif, namun hampir semuanya didasarkan pada wilayah fisik, sehingga tidak heran jika Gesell sering berkesimpulan bahwa, sebagaimana setiap anak memiliki kebutuhan individu, tahapan-tahapan perkembangan yang berbeda pun memiliki jenis individualitas yang berbeda pula.

Gesell membagi perbedaan individu dari segi perkembangan perilakunya ke dalam empat bidang yang berbeda-beda: perilaku motorik (gerakan tubuh, koordinasi, keahlian motorik khusus), perilaku adaptif (kesiagaan, kecerdasan, berbagai bentuk eksplorasi), perilaku bahasa (semua bentuk komunikasi), dan perilaku personal-sosial (reaksi-reaksi terhadap orang dan lingkungan). Memang dalam buku-buku populer yang ditulis untuk para orang tua, Gesell dan rekan-rekannya menggambarkan perilaku yang perlu diperhatikan oleh orang tua pada diri anak-anak mereka di berbagai jenjang usia terkait dengan keempat bidang ini. Bidang-bidang ini juga menjadi dasar ‘ujian penyaringan’ yang banyak digunakan orang tua untuk mengetahui status perkembangan anak-anak dari usia 1 hingga 6 bulan, yang disebut sebagai Denver Developmental Screen Test (DDST-II), yang disusun oleh Frankenburg dan Dodds (1992). Tes yang bisa diselesaikan orang tua dalam waktu sekitar 10 menit ini memberikan gambaran umum sekilas mengenai status anak dari segi keterampilan motorik-adaptif, motorik umum, personal-sosial, dan bahasa.

Dalam masing-masing dari empat bidang ini, lima prinsip umum perkembangan seperti yang dijelaskan di atas terus berfungsi, dengan kecepatan perkembangan individu yang berbeda-beda. Dalam diri anak terbentuk perpaduan yang utuh di mana keempat bidang tersebut berinteraksi dan pada saat yang sama dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan biologis yang terwujud melalui lima prinsip perkembangan tadi. Sudut pandang teoretik Gesell bisa diringkas sebagai berikut: Perkembangan anak dikendalikan sepenuhnya oleh prinsip-prinsip perkembangan yang ditentukan secara biologis dan menghasilkan urutan proses pematangan yang bersifat pasti. Pada gilirannya, proses pematangan ini memungkinkan terjadinya perwujudan perilaku. Meskipun anak-anak secara individual bergerak maju sesuai laju kecepatan mereka sendiri (dan kecepatan ini merupakan tanggapan tidak langsung terhadap rekayasa lingkungan), urutan proses perkembangan berlaku sama pada semua anak.

Pendekatan normatif Gesell didasarkan pada pengujian secara berulang-ulang terhadap anak-anak yang sama dalam jangka waktu lama (strategi longitudinal) untuk mendapatkan penjelasan usia yang khas dan untuk menguji kestabilan atau kesinambungan berbagai perbedaan individu. (Perbedaan individu dikatakan stabil bila seorang individu mempertahankan posisi yang relatif sama sepanjang periode tertentu dalam kadar tertentu dibandingkan dengan rekan-rekan sebayanya.) Gesell dan Thompson (1929, 1941) memperkenalkan metode penelitian kontrol kembar (co-twin control research mehod) yang sekarang dipandang sebagai metode klasik, di mana keduanya meneliti anak-anak kembar identik (dua anak yang berkembang dari sel telur yang sama, dan dengan begitu memiliki genotip atau riwayat genetik yang identik) untuk menjawab persoalan mengenai yang mana di antara kekuatan biologi (pematangan) atau pengalaman (pembelajaran) yang menjadi kekuatan pokok dalam perkembangan.

Dalam studi menggunakan metode ini, mula-mula dua anak kembar sama-sama diuji dalam hal perilaku tertentu, seperti berjalan atau menaiki tangga. Lalu, salah satu kembar diberi pelatihan khusus dalam perilaku tertentu, dan yang lainnya (yang bertindak sebagai kontrol atau kendali) dibiarkan untuk menjalani apa yang terdapat di lingkungannya secara alamiah. Kemudian kedua anak kembar itu sekali lagi dinilai perilakunya untuk melihat hasil akhirnya.

Gesell dan Thompson mendapati bahwa anak kembar yang menerima pelatihan (Kembar 1) memperlihatkan adanya pencapaian yang bertahap dan lambat dalam perilaku dimaksud, sementara anak kembar kontrol (Kembar 2) tidak menunjukkan pencapaian sama sekali. Kemudian ketika Kembar 2 mencapai usia di mana menurut ukuran kematangan ia diharapkan bisa mulai mempelajari perilaku tersebut, para peneliti akan memulai pelatihan intensif dengan si kembar itu. Hasil-hasil dari keduanya menunjukkan bahwa melalui pelatihan jangka pendek, Kembar 2 akan meraih tingkat penguasaan yang sama dengan Kembar 1 pada akhir masa eksperimen tidak ada perbedaan kemampuan di antara kedua anak itu. Berdasarkan hasil-hasil studi semacam itu, Gesell dan para rekannya mengambil kesimpulan bahwa pelatihan pada usia dini, sebelum seorang anak secara fisik cukup matang untuk bisa rnembuat pencapaian yang berarti dalam perilaku tertentu, hanya akan membuahkan sedikit konsekuensi pada hasil akhirnya. Kematangan merupakan faktor yang begitu berpengaruh dalam perkernbangan sehingga pembelajaran hanya akan mungkin terjadi apabila sarana pematangan atau struktur yang diperlukan untuk belajar juga berfungsi.

Gesell memberikan penekanan yang kuat terhadap basis biologis pada berbagai karakteristik, sehingga tidak mengherankan bila para peneliti perkembangan yang bekerja dengan orientasi Gesellian akan cenderung berpegang pada ide bahwa masing-masing individu memiliki tingkatan kecerdasan yang sudah tetap.

Pendirian Gesell bahwa perkembangan dikendalikan oleh faktor-faktor biologi mengandaikan adanya lingkungan yang normal. Dalam karyanya, Gesell tidak membahas persoalan mengenai lingkungan yang benar-benar penuh kekurangan, barang kali karena populasi subjeknya kebanyakan berasal dari keluarga kelas menengah pada umumnya. Kekuatan-kekuatan maturasional akan selalu muncul menjadi pemenang pada saat yang tepat. Ketika seorang anak tidak melakukan apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak seusianya, Gesell dan para rekannya menyarankan kepada para orang tua agar mereka tidak putus asa; bila diberikan waktu yang cukup memadai agar terjadi perkembangan kematangan, si anak akan mengembangkan perilaku yang tepat. Dengan demikian, ketika anak-anak tidak belajar, itu berarti bahwa mereka sekadar tidak siap belajar; ketika mereka sudah siap, mereka pun akan belajar. Upaya-upaya intervensi sebelum si anak siap tidak akan berhasil dan malah akan memunculkan rasa frustasi dan ketidakharmonisan antara orang tua, guru, dan anak.

Ribuan dokter ahli anak, guru, dan orang tua memperoleh pengaruh filsafat Gesell yang menyatakan bahwa waktu (atau proses pematangan) itulah yang akan menangani kebanyakan masalah perkembangan perilaku. Para pendukung filsafat ini pada umumnya memberi nasihat kepada para orang tua (yang kebanyakan merasa cemas karena ingin melihat anak-anak mereka mencapai keberhasilan sejak dini dalam kehidupannya) agar tidak mendesak anak-anak mereka. Mereka yakin bahwa kata kuncinya adalah kesiapan, sebagai penjelas mengenai anak yang belajar dan yang tidak belajar, dan bukan faktor-faktor lain yang ada di dunia sekitar anak, semisal pengajaran atau kebutuhan gizi. Jika anak dibiarkan, sebagian besar perilaku akan berkembang dengan sendirinya seiring terbentuknya struktur-struktur fisik yang diperlukan dan dengan demikian memungkinan terjadinya perkembangan. Kebanyakan anak-anak normal mencapai perkembangan perilaku tanpa adanya penanganan khusus.

Kesimpulannya, Gesell dan para rekanya memperkenalkan strategi penelitian kontrol kembar (co-twin control research method), di mana mereka mengkaji anak-anak kembar identik untuk mencari kejelasan tentang kedudukan pematangan (maturation) versus pembelajaran (learning). Hal itu dapat ditunjukkan dengan tabel di bawah ini:

Diterjemahkan dan di-resume dari:

Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher

Tentang Desyandri

Desyandri. Lahir di Suliki, Kab. 50 Kota Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 29 Desember 1972. Dosen Tetap di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006. Memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1996, Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Sendratasik FPBS IKIP Padang tahun 1998. Memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) tahun 2011 Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNP. Memperoleh gelar Doktor (Dr) Ilmu Pendidikan tahun 2016 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). E-mail: desyandri@yahoo.co.id
Pos ini dipublikasikan di Teori Perkembangan dan tag . Tandai permalink.

4 Balasan ke PRINSIP-PRINSIP DASAR TEORI PERKEMBANGAN (ARNOLD GESSEL)

  1. ina berkata:

    terimakasih sangat membantu

  2. ignatiaregina berkata:

    Bahasanya ringan dan cukup mudah dimengerti. Namun utk istilah “psikoformologis” mohon diperiksa kembali, karna kalau tdk salah seharusnya ditulis “psikomorfologis”. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s