My Job…

20052009(002)

1238368_4642296554304_705871006_n

Desyandri, S.Pd.,M.Pd

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Revitalisasi Nilai-nilai Edukatif Lagu-lagu Minang untuk Membangun Karakter Peserta Didik

desyandri@yahoo.co.id

desyandri@yahoo.co.id

Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh warga sekolah (kepala sekolah, guru-guru, tenaga administrasi, masyarakat/orang, dan peserta didik terhadap nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang yang telah dipaparkan sebelumnya sekaligus menjadi dasar acuan proses revitalisasi, upaya-upaya yang dilakukan warga sekolah merupakan revitalisasi dalam rangka melestarikan dan mewariskan nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang untuk membangun karakter peserta didik di lingkungan pendidikan dasar pada kondisi sekarang. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa revitalisasi mengacu pada upaya-upaya: 1) identifikasi, 2) internalisasi, 3) sosialisasi, dan 4) enkulturasi .

  • Identifikasi

Proses identifikasi merupakan langkah untuk menemutunjukkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses mengungkap, menemukan, dan mengklasifikasikan nilai-nilai eduakatif yang terkandung dalam lagu-lagu Minang (telah dipaparkan dan dibahas pada proses interpretasi hermeneutik sebelumnya), serta proses melihat dan membuktikan di lapangan terkait dengan penerapan dan pemaknaan nilai-nilai edukatif tersebut oleh peserta didik di lingkungan pendidikan dasar. Dengan demikikan proses identifikasi mengacu pada dua bentuk, yakni 1) proses mengungkap, menemukan, dan mengklasifikasi nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang, dan 2) proses identifikasi upaya-upaya yang dilakukan dalam menerapkan dan mamaknai nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang tersebut dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Berdasarkan paparan hasil penelitian sebelumnya, berikut dikemukakan beberapa upaya identifikasi yang dilakukan oleh warga sekolah dalam menerapkan dan mamaknai nilai-nilai edukatif lirik lagu-lagu Minang untuk membangun karakter peserta didik di lingkungan pendidikan dasar, yaitu: 1) membelajarkan lagu-lagu Minang di lingkungan pendidikan dasar, baik dari segi musik maupun lirik, 2) mengidentifikasi makna-makna atau pesan-pesan yang terdapat dalam lagu-lagu Minang, 3) mengidentifikasi norma-norma atau aturan-aturan adat Minangkabau, 4) mengaitkan makna dan pesan tersebut dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, terutama ketika berada di lingkungan sekolah, 5) mengidentifikasi ikon-ikon budaya Minang yang terdapat dalam lagu-lagu Minang, 6) mengidentifikasi daerah-daerah yang diceritakan lagu-lagu Minang, dan 7) mengidentifikasi karakteristik lagu-lagu Minang, baik dari segi musik maupun lirik lagu.

  • Internalisasi

Internalisasi merupakan proses atau kegiatan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah dan bertujuan untuk memberikan stimulasi agar masuk atau tertanam (dalam diri peserta didik) nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang dan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai acuan dalam melahirkan dan mengembangkan berbagai tindakan dan perilaku yang berkarakter, terutama karakter Minangkabau. Proses internalisasi tersebut berupa:

  • Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses atau kegiatan yang berhubungan dengan sistem sosial, seperti proses adaptasi (penyesuaian diri). Proses penyesuaian diri terbentuk dengan adanya proses interaksi (individu) dengan individu lain dengan beraneka ragam peranan sosial (kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, orang tua, orang yang lebih tua, teman sebaya, orang yang kecil darinya, saudara, orang lain). Peserta didik belajar untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan menyesuaikan diri dengan berbagai aturan-aturan sekolah atau norma-norma adat Minangkabau, sehingga terbentuklah kepribadian peserta didik yang baik.

Pembentukan kepribadian peserta didik yang baik tidak terlepas dari proses sosialisasi nilai-nilai edukatif yang muncul pada saat interaksi, terutama nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang. Penyosialisasian nilai-nilai edukatif oleh berbagai pihak baik di dalam atau di luar lingkungan sekolah memberikan stimulasi yang berharga bagi terbangunnya peserta didik yang berkarakter dan tetap mengakar pada adat dan budaya Minangkabau.

  • Ekulturasi

Enkulturasi merupakan proses atau kegiatan yang berawal dari proses penyesuaian hingga terciptanya kematapan pikiran, tindakan dan perilaku dalam diri manusia dengan adat, sistem norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi merupakan akhir dari sebuah stimulasi yang ditujukan agar terwujudnya kemantapan pikiran, tindakan dan perilaku peserta didik yang mengacu pada norma-norma atau aturan-aturan adat budaya Minangkabau, salah satunya terkristalisasi ke dalam nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang.

Proses enkulturasi terhadap nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang untuk membangun karakter peserta didik di lingkungan pendidikan dasar berupa: 1) enkulturasi formal, 2) enkulturasi non-formal, dan 3) intervensi.

Enkulturasi Formal

Enkulturasi formal dilakukan khususnya dalam proses pembelajaran seni musik dan Budaya Alam Minangkabau (BAM) dan mata pelajaran lain di lingkungan pendidikan dasar.

Enkulturasi Non-formal

Enkulturasi non-formal dilakukan dengan memberikan pemodelan/ketauladanan tindakan dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang oleh seluruh warga sekolah (kepala sekolah, guru-guru, tenaga administrasi, dan masyarakat/orang tua) terhadap peserta didik di lingkungan pendidikan dasar.

Intervensi

Upaya intervensi terhadap penerapan nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang secara umum dapat dilakukan oleh berbagai pihak, seperti: a) pendidik dan tenaga kependidikan (kepala sekolah, guru-guru, tenaga administrasi), b) masyarakat/orang tua, dan c) dinas pendidikan tingkat kota atau unit pelaksana teknis (UPT) dinas pendidikan tingkat kecamatan.

Dipublikasi di Music Education | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Si Nona”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Jaso Mandeh”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Lintuah”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Kambangah Bungo”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Baju Kuruang”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Bareh Solok”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Kampuang nan Jauah di Mato”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

Notasi dan Lirik Lagu “Minangkabau”

Ditulis ulang oleh Desyandri

Ditulis ulang oleh Desyandri

Lagu Minangkabau memiliki kandungan nilai-nilai edukatif dan sarana atau alat, diantaranya untuk:

  1. Mengobati rasa cinta dan rindu terhadap Minangkabau dan Rumah Gadang.
  2. Menghargai dan melaksanakan norma atau aturan adat Minangkabau.
  3. Memperkuat tali persaudaraan sesama masyarakat Minang.
  4. Membangun karakter rang mudo dan gadih-gadih Minang.
Dipublikasi di Notasi dan Lirik Lagu Minang | Tag | Tinggalkan komentar

INTERPRETASI HERMENEUTIK LAGU-LAGU MINANG

Desyandri

Analisis hermeneutik pada penelitian dilakukan untuk menafsirkan atau menginterpretasikan makna yang terkandung dalam lirik dan musik lagu-lagu Minang. Upaya penafsiran dan interpretasi tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk mengungkap, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam lirik dan musik lagu-lagu Minang untuk membangun karakter peserta didik d lingkungan pendidikan dasar. Proses penafsiran dan interpretasi dilakukan dengan menggunakan analisis interpretasi hermeneutik Recouer.

Adapun unsur-unsur dan penerapan teori interpretasi hermeneutik Recouer mengacu pada empat hal, seperti yang telah disinggung di bab tiga, yakni: a) objektivikasi sturktur lirik merupakan kegiatan menafsirkan makna lirik dan musik secara objektif. Objektifikasi dilakukan dengan secara multidisipliner, yakni mencari keterkaitan makna dengan beberapa aspek bidang keilmuan lainnya, yakni: aspek kebahasaan (lirik), aspek musik, aspek psikologi, aspek sosiokultural, dan aspek pendidikan, b) distansiasi (perjarakan) merupakan kegiatan penafsiran yang terdistansiasi atau terbebas dari makna peristiwa, maksud pengarang, kondisi sosiokultural pada waktu penciptaan lirik lagu, dan pandangan audien atau penikmat lagu, 3) apropriasi yaitu upaya mengaktualkan penafsiran lirik lagu sesuai dengan kondisi terkini, dan 4) analogi permainan merupakan upaya memperkaya penafsiran dengan memunculkan kreativitas peneliti.

Berdasarkan penjelasan unsur-unsur dan penerapan teori interpretasi hermeneutik Recouer yang telah diaparkan sebelumnya dapat dijelaskan bahwa titik tolak proses interpretasi dan penafsiran pada penelitian ini mengacu pada faktor kebebasan, baik terhadap pemaknaan lirik maupun pemaknaan yang dihasilkan dengan mencari keterkaitan makna lagu-lagu Minang dengan kajian beberapa aspek bidang keilmuan (multidisipliner), sehingga interpretasi dan penafsiran yang dihasilkan dapat memberikan makna baru sesuai dengan kebebasan dan kreativitas peneliti. Dengan kata lain, interpretasi dan penafsiran yang dilakukan dapat memberikan makna baru terhadap kandungan makna dan nilai-nilai edukatif lagu-lagu Minang serta sesuai dengan kondisi terkini.

Interpretasi dan penafsiran hermeneutik Ricouer secara multidisipliner meliputi aspek kebahasaan, aspek psikologi, aspek sosiokultural, dan aspek pendidikan dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Aspek Kebahasaan

Lirik sebuah lagu tidak terlepas dari unsur bahasa dan sastera. Secara keseluruhan lirik lagu-lagu Minang menggunakan bahasa dan sastera Minang dan memiliki kaitan erat dengan pepatah-petitih adat, peribahasa, dan pantun. Bentuk penyajian lirik tersebut memiliki kandungan makna atau pesan yang luas, baik makna atau pesan yang dapat dipahami secara langsung (berdasarkan arti bahasa/kamus) maupun makna atau pesan secara tidak langsung (berdasarkan makna tersirat/kiasan).

Analisis aspek kebahasaan tersebut dilakukan untuk mengungkap makna lirik yang mengacu pada pemaparan dua jenis makna kata, yakni 1) makna denotasi, yakni makna kata atau kalimat yang mengacu atau menunjuk pada pengertian atau makna yang sebenarnya, dan 2) makna konotasi, yakni kata atau kalimat yang bermakna kiasan atau bukan makna yang sebenarnya, atau dengan kata lain disebut juga dengan makna ungkapan dan mengandung nilai-nilai emosi tertentu.

  • Aspek Musik

Proses penafsiran sebuah lagu tidak bisa lepas dari proses pengungkapan berbagai unsur atau elemen musik itu sendiri dan dilakukan secara parsial terhadap masing-masing lagu-lagu Minang. Proses interpretasi pada aspek musik dititikberatan pada dua hal, yakni a) unsur melodi, yakni kegiatan interpretasi yang dilakukan terhadap bagian-bagian unsur melodi lagu-lagu Minang. Bagian-bagian tersebut adalah proses identifikasi jarak nada (interval), gerak melodi, dan mengungkap kekhasan melodi Minang yang dikenal dengan sebutan galitiak/garinyiak (cengkok) Minang yang terkandung pada masing-masing lagu Minang, dan b) unsur ekspresi, yakni kegiatan analisis untuk mengidentifikasi unsur-unsur ekspresi dalam musik, seperti tempo, jangkauan nada (ambitus), dan pola irama khas yang terdapat pada masing-masing lagu Minang, serta menghubungkannya dengan tingkat kesulitan dalam proses menyanyikan lagu Minang dan mengungkap suasana serta nilai-nilai yang dilahirkan.

  • Aspek psikologi

Ditinjau dari aspek psikologi dapat dikemukakan bahwa baik musik atau lagu-lagu secara umum maupun lagu-lagu Minang memiliki keterkaitan erat dengan kondisi kejiwaan atau emosional, baik kondisi kejiwaan atau emosional yang dirasakan pencipta lagu, penyanyi atau pemain musik Minang, maupun para pendengar atau penikmat lagu-lagu Minang. Pencipta lagu berupaya untuk menghadirkan dan mengomunikasikan beragam suasana emosional kepada pendengar atau penikmat lagu-lagu Minang dengan harapan dapat mengungah rasa bahkan memengaruhi perilaku penikmat lagu-lagu Minang.

Proses menghadirkan dan mengomunikasikan beragam suasana emosional disertai dengan penyampaian berbagai makna dan pesan-pesan yang ditujukan pada para pendengar dan penikmat lagu-lagu Minang. Agar makna dan pesan-pesan tersebut sampai ke pendengar atau penikmat, pencipta lagu menggunakan berbagai stimulasi dengan menghadirkan berbagai suasana emosional yang terjadi pada orang-orang atau masyarakat Minangkabau secara umum, atau dengan kata lain melalui penyampaian beragam suasana emosional merupakan sarana bagi pencipta lagu untuk menyampaikan makna atau pesan-pesan kepada pendengar atau penikmat lagu-lagu Minang dengan men

  • Aspek Sosiokultural

Ide penciptaan lagu-lagu Minang secara umum bersumber dari alam dan kondisi realitas sosial budaya masyarakat Minang. Ide-ide yang bersumber dari alam, berupa kondisi alam, benda-benda alam, dan benda-benda buatan manusia yang berada di lingkungan sekitar, sedangkan kondisi realitas sosial budaya masyarakat berupa perilaku individu atau masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan kecenderungan dalam mengamalkan dan mengikuti norma-norma atau aturan-aturan adat budaya Minangkabau.

Mengacu pada alam dan kecenderungan realitas sosial budaya yang terjadi, berlaku, dan berkembang di lingkungan sosial budaya Minangkabau, para seniman atau pencipta lagu menyisipkan nasehat atau pesan-pesan yang dinilai penting untuk dipahami, dijalankan, dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melahirkan pemikiran, tindakan dan perilaku, serta menghasilkan benda-benda atau artifak budaya Minangkabau. Nilai-nilai yang berupa nasehat dan pesan-pesan yang terkandung dalam lagu-lagu Minang merupakan stimulasi untuk mewujudkan masyarakat Minang yang berkarakter dan tetap memegang teguh norma-norma atau aturan-aturan adat budaya Minangkabau.

Kajian aspek sosiokultural dititikberatkan pada upaya untuk mengungkap dan menginterpretasikan latar belakang proses penciptaan lagu-lagu Minang yang bersumber dari alam dan kondisi realitas sosial budaya masyarakat yang terjadi, berlaku, dan berkembang di masyarakat Minangkabau. Aspek sosiokultural sangat berkaitan dengan tingkat perkembangan manusia yang mengemukakan bahwa perkembangan manusia ikut dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya yang terjadi, berlaku, dan berkembang di lingkungan mereka.

  • Aspek Pendidikan

Keterkaitan makna lirik dan musik lagu-lagu Minang dengan aspek kebahasaan, musik, psikologi, sosiokultural, baik secara individu maupun secara berkelompok atau masyarakat dalam kesatuan adat budaya Minangkabau melahirkan nilai-nilai yang menjadi sumber atau pedoman bagi orang-orang atau masyarakat Minangkabau dalam melahirkan ide atau pemikiran yang termanifestasi dan dieskpresikan melalui tindakan dan perilaku, serta benda-benda (artifak) atau material budaya.

Nilai-nilai tersebut secara garis besar berisikan pengetahuan yang bersifat tuntunan atau nasehat, dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam lagu-lagu Minang tidak terlepas dari aspek pendidikan, baik secara praktis maupun praksis. Dengan kata lain, nilai-nilai tersebut merupakan wadah bagi praktisi dan praksis pendidikan dalam membentuk manusia agar menunjukkan tindakan dan perilakunya sebagai makhluk budaya serta mampu bersosialisasi dalam masyarakat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup.

Keterkaitan nilai-nilai yang telah diungkap secara multidisipliner, terutama ketika dikaitkan dengan aspek pendidikan dapat dikatakan sebagai nilai-nilai yang bersifat mendidik (edukatif), yaitu nilai-nilai yang bersifat atau berfungsi mendidik orang-orang atau masyarakat adat Minangkabau dalam memenuhi kebutuhannya dan melangsungkan kehidupan, baik secara individu maupun kelompok atau masyarakat Minangkabau.

Proses hermeneutik dan interpretasi secara multidisipliner dilakukan diakhiri dengan dua tahapan, yaitu: 1) tahap proses identifikasi, yaitu proses pengungkapan nilai-nilai edukatif secara parsial (nilai-nilai edukatif yang terkandung di masing-masing lagu Minang), dan 2) tahap pengelompokan (pengklasifikasian) nilai-nilai edukatif secara keseluruhan atau holistik (nilai-nilai edukatif yang terkandung di keseluruhan lagu-lagu Minang.

Dipublikasi di Budaya | Tag | 2 Komentar